spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

DPRD Sawahlunto Soroti Renovasi RSUD Rp 4,6 Miliar, Targetkan Kembalikan Status Rumah Sakit Rujukan
D

- Advertisement -

SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com – Renovasi fasilitas RSUD Sawahlun to total senilai Rp 4,6 miliar memasuki tahap pengerjaan akhir. Namun, DPRD Kota Sawahlunto mengingatkan pemerintah dan kontraktor agar tidak sekadar mengejar penyelesaian proyek. Kualitas bangunan dan peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus menjadi hasil utama dari pembenahan rumah sakit tersebut.

Peringatan itu disampaikan pimpinan dan anggota komisi gabungan DPRD Sawahlunto saat melakukan kunjungan kerja pengawasan ke RSUD Sawahlunto, Selasa, 3 November 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung perkembangan sejumlah proyek infrastruktur yang dibiayai melalui APBN dan APBD 2026.

Rombongan dipimpin Ketua DPRD Sawahlunto Elfia Rita Dewi, didampingi Sekretaris Dewan Dedi Sahendri, Kepala Bagian Umum, serta sejumlah pendamping. Anggota dewan yang hadir berasal dari Komisi I, II, dan III, yakni Ronny Eka Putra, Ronal Kardinal, Benny Ricardo Rizal, Rio Mardanil, Idrayeni, Siadi, Masril, dan Sarijanus Kahar.

Kedatangan rombongan disambut Pelaksana Tugas Direktur RSUD Sawahlunto Afridarman bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum Def Afrianto dan unsur pelaksana proyek.

Dua pekerjaan utama menjadi perhatian dalam peninjauan tersebut. Pertama, proyek peningkatan fasilitas melalui program KJSU-KIA Kementerian Kesehatan dengan anggaran APBN sebesar Rp 3,3 miliar. Kedua, pekerjaan perbaikan plafon dan pengecatan yang bersumber dari APBD Kota Sawahlunto sebesar Rp1,3 miliar.

Dengan total anggaran Rp 4,6 miliar, kedua pekerjaan itu diharapkan mampu memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kapasitas RSUD Sawahlunto.

DPRD Ingin RSUD Kembali Menjadi Rumah Sakit Rujukan

Ketua DPRD Sawahlunto Elfia Rita Dewi mengatakan, pembangunan dan pembenahan fasilitas rumah sakit harus menjadi momentum untuk mengembalikan reputasi RSUD Sawahlunto sebagai rumah sakit rujukan.

Menurut dia, Sawahlunto pernah memiliki rumah sakit yang dikenal sebagai salah satu fasilitas kesehatan terlengkap dan terbesar di kawasan Sumatera Tengah. Reputasi tersebut perlu dibangun kembali melalui pembenahan sarana, prasarana, dan kualitas pelayanan.

Elfia menilai, persepsi masyarakat terhadap pelayanan RSUD saat ini masih perlu diperbaiki. Karena itu, rumah sakit harus mulai menghilangkan anggapan bahwa fasilitas kesehatan tersebut bukan lagi tempat tujuan rujukan.

“Jangan sampai RSUD Sawahlunto hanya dikenal sebagai rumah sakit yang menerima pelayanan biasa, tetapi harus kembali menjadi rumah sakit yang menjadi rujukan dalam pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, berdasarkan laporan yang diterima DPRD, progres pekerjaan fisik telah mencapai sekitar 80 persen. Meski demikian, ia mengingatkan kontraktor agar memperhatikan bobot pekerjaan dan kualitas material sesuai perencanaan serta kontrak yang telah disepakati.

DPRD, kata Elfia, siap memperjuangkan kebutuhan anggaran apabila diperlukan sejauh untuk mendukung peningkatan pelayanan rumah sakit.

“Sepanjang untuk peningkatan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat, DPRD siap memperjuangkan kebutuhan anggarannya. Harapannya, setelah renovasi dan pengembangan fasilitas selesai, RSUD Sawahlunto mampu mengembalikan nama besarnya seperti dahulu,” katanya.

Dewan Ingatkan Kualitas dan Pelayanan

Ketua Komisi III DPRD Sawahlunto Siadi menegaskan, pelaksanaan proyek tidak boleh hanya berorientasi pada kuantitas pekerjaan. Kualitas harus menjadi perhatian utama karena fasilitas yang dibangun akan digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat.

Ia juga meminta kontraktor segera membersihkan tumpukan material yang masih berada di teras rumah sakit. Material tersebut dinilai dapat mengganggu aktivitas pelayanan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Yang utama itu kualitas pekerjaannya. Kuantitas tentu harus sesuai dengan kontrak yang disepakati. Saya minta seluruh tumpukan material di teras RS dibersihkan karena dapat mengganggu aktivitas pelayanan dan berisiko menimbulkan kecelakaan,” ujar Siadi.

Anggota Komisi I Ronny Eka Putra mengingatkan manajemen rumah sakit agar pembenahan fasilitas dibarengi dengan perbaikan pelayanan. Menurut dia, jangan sampai masyarakat terus menyampaikan keluhan mengenai pelayanan kesehatan.

Ia juga meminta manajemen mulai memikirkan penataan area parkir setelah pekerjaan peningkatan fasilitas rampung agar pengunjung memperoleh kenyamanan.

Sementara itu, Ketua Komisi II Rio Mardanil menekankan pentingnya komitmen seluruh jajaran rumah sakit untuk memberikan pelayanan prima. Peningkatan fasilitas, menurut dia, harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Rio juga menyoroti kewajiban dokter spesialis yang menempuh pendidikan dengan pembiayaan pemerintah. Mereka harus menjalankan pengabdian di Sawahlunto sesuai ketentuan dan regulasi yang berlaku.

“Pegawai jangan hanya bisa menuntut kesejahteraan, tetapi tidak mampu menunjukkan kualitas pelayanan. Namun, DPRD tetap akan menyikapi dan merespons setiap aspirasi yang disampaikan,” katanya.

Anggota Komisi III Masril mengapresiasi kemajuan pekerjaan yang telah mencapai 80 persen. Ia menyatakan DPRD siap mendukung kebutuhan fasilitas rumah sakit, termasuk menindaklanjuti berbagai kekurangan yang masih ditemukan.

Masril juga mengingatkan tenaga medis dan dokter yang memperoleh kesempatan pendidikan melalui pembiayaan pemerintah agar memenuhi komitmen pengabdian setelah menyelesaikan pendidikan.

“Jangan setelah selesai pendidikan justru tiba-tiba meminta pindah. Mereka harus mengabdi terlebih dahulu di sini,” ujarnya.

Senada dengan itu, anggota Komisi II Idrayeni meminta peningkatan fasilitas dari Kementerian Kesehatan diikuti perbaikan kualitas pelayanan, termasuk keramahan petugas terhadap pasien.

Ia berharap pembenahan rumah sakit tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien, tetapi juga memperkuat kinerja RSUD sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sehingga dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

RSUD Minta Tambahan Daya Listrik

Dalam pertemuan tersebut, Plt Direktur RSUD Sawahlunto Afridarman menyampaikan bahwa peningkatan fasilitas membutuhkan dukungan infrastruktur lainnya, terutama tambahan kapasitas daya listrik.

Menurut dia, kebutuhan listrik menjadi prioritas karena sejumlah peralatan medis membutuhkan pasokan daya yang memadai agar dapat dioperasikan secara optimal.

“Saat ini kebutuhan meningkatkan daya listrik sangat prioritas untuk mendukung pengoperasian alat-alat medik di rumah sakit,” kata Afridarman.

Puluhan Dokter Spesialis Layani Poliklinik

Di sisi lain, Kasi Pelayanan RSUD Sawahlunto Rini Wulandari mengungkapkan bahwa rumah sakit saat ini memiliki 24 jenis layanan spesialis, termasuk dokter rujukan. Sebanyak lima dokter sedang menjalani pendidikan spesialis.

Namun, ia mengakui masih terdapat kekurangan tenaga spesialis, terutama untuk pelayanan kesehatan jiwa dan rehabilitasi medik. Manajemen rumah sakit telah mengajukan permintaan pemenuhan kebutuhan kedua layanan tersebut.

Rini mengatakan, sejak November 2026, pelayanan poliklinik RSUD Sawahlunto telah dilengkapi jadwal dokter spesialis dari Senin hingga Jumat.

Untuk spesialis anak tersedia dr. Susatyo Cahyadi, dr. Herlina, dan dr. Silvy Dioni. Spesialis penyakit dalam dilayani dr. Jen Hendriman dan dr. Fitriani Kemalina.

Pelayanan spesialis mata dijadwalkan Senin hingga Rabu oleh dr. Neneng Susanti. Spesialis paru tersedia Selasa dan Kamis, sedangkan pelayanan TB pada Rabu ditangani dr. Ardianof.

Untuk spesialis bedah tersedia dr. Ivan Alfian dan dr. Yunes Aryo, sementara bedah vaskular dijadwalkan Senin dan Selasa oleh dr. Peri Handayani.

Pelayanan spesialis kebidanan tersedia Senin hingga Jumat melalui dr. Antoni dan dr. Muhammad Luthfi. Spesialis jantung dilayani dr. Andy Rahman pada Senin, Rabu, dan Jumat.

Adapun pelayanan spesialis konservasi gigi ditangani drg. Nova Elvira pada Selasa, Rabu, dan Jumat. Spesialis penyakit mulut dilayani drg. Revi Nolanda pada Senin, Rabu, dan Kamis, sedangkan spesialis bedah mulut oleh drg. Harpindo Yusa pada Rabu hingga Jumat.

Pelayanan lainnya mencakup spesialis dermatologi dan venereologi oleh dr. Yukia Eka pada Rabu hingga Jumat, radiologi oleh dr. Iryani Dian Rifana pada Senin hingga Kamis, serta pelayanan laboratorium oleh dr. Fhany Elshara, dr. Lili Nova Yanti, dan dr. Sony Herdian pada Senin hingga Jumat.

Spesialis THT dilayani dr. Diana Ameliya pada Selasa hingga Kamis. Spesialis neurologi oleh dr. Idtiqomah pada Senin, Selasa, dan Kamis, serta anestesiologi oleh dr. Heru Fajar Syaputra.

Sementara itu, poliklinik gigi melayani pasien Senin hingga Sabtu dengan dokter drg. Azizah dan drg. Widiawati. Poliklinik umum juga beroperasi pada hari yang sama dengan dr. Betrina Sari Putri dan dr. Intan Rizal. Pelayanan fisioterapi tersedia Senin hingga Sabtu.

Program KJSU-KIA yang menjadi salah satu sumber pembiayaan peningkatan fasilitas tersebut merupakan program prioritas nasional Kementerian Kesehatan. Program ini mencakup penanganan kanker, jantung dan pembuluh darah, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak.

Program tersebut diarahkan untuk memperluas pemerataan akses dan mutu layanan kesehatan rujukan, menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit katastropik, serta mengurangi kesenjangan fasilitas dan tenaga kesehatan antardaerah.

Melalui pembenahan fasilitas dan penguatan tenaga medis, RSUD Sawahlunto kini menghadapi pekerjaan yang lebih besar: membuktikan bahwa peningkatan anggaran dan pembangunan fisik benar-benar berujung pada pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img