30 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Dibiayai CSR BRI, Gedung SDN 39 Tanjung Bungo Terancam Rubuh Lebih Awal
D

Kategori -
- Advertisement -

Painan, beritasumbar.com – Gedung SDN 39 Tanjung Bungo, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang dibangun menggunakan dana CSR BRI dengan nilai ratusan juta terancam rubuh lebih awal. Hal tersebut karena konstruksi kuda-kuda gedung disebut-sebut dibangun menggunakan kayu olahan dari pohon durian.

Berdasarkan penelusuran dari sejumlah literasi diketahui bahwa kayu dari pohon durian memiIiki keIas awet IV- V, dan kayu dengan keawetan yang rendah sangat rentan terserang serangga perusak kayu seperti rayap sehingga berdampak terhadap ketahanannya.

Penggunaan kayu dari pohon durian dalam membangun konstruksi kuda-kuda gedung di SDN 39 Tanjung Bungo diungkap secara terang dan jelas oleh Buyuang Aji kepada awak media beberapa waktu lalu. Buyuang Aji sendiri merupakan warga setempat dan bertugas sebagai penjaga di sekolah itu.

Direktur CV Mitra Pratama, Lubis yang merupakan rekanan pelaksana ketika dihubungi, memastikan bahwa pihaknya tidak pernah memesan kayu olahan pohon durian untuk pembangunan SDN 39 Tanjung Bungo.

Ia menyarankan untuk menanyakannya secara langsung ke pemasok material bernama Diman, atau ke kepala tukang bernama Nasir.

Sementara itu ketika ia diajak untuk bersama-sama melakukan uji untuk memastikan jenis kayu yang digunakan, ia malah memilih bungkam hingga saat ini.

Ketika persoalan yang ada ditanyakan kepada Diman, ia mengaku tidak ingat apa saja jenis kayu yang dijual untuk membangun SDN 39 Tanjung Bungo.

Sementara itu, Kepala Tukang bernama Nasir juga mengaku tidak tahu jenis kayu yang digunakan untuk membuat konstruksi kuda-kuda gedung.

Warga setempat, Jon Subang menguatkan pernyataan yang disampaikan oleh Buyuang Aji, ia memastikan bahwa kayu yang digunakan adalah kayu olahan dari pohon durian.

Ia pun mengenalkan awak media kepada warga lokal yang mengaku mencarikan kayu tersebut, dia juga membawa awak media ke tunggul pohon asal kayu tersebut diambil.

“Per kubiknya kami jual dengan harga Rp2,2 juta, selain kayu dari pohon durian, kami juga menjual kayu olahan dari pohon kandis, dan petai,” kata warga pencari kayu tersebut. (Didi)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img