spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Taman Tamadun Islam Terengganu, 21 Replika Monumen dan Cara Malaysia Mengubah Sejarah Jadi Destinasi Wisata
T

Kategori -
- Advertisement -

Taman Tamadun Islam di Pulau Wan Man, Kuala Terengganu, menggabungkan 21 replika monumen Islam, wisata sungai, pendidikan, kuliner dan ekonomi kreatif dalam satu kawasan destinasi

KUALA TERENGGANU, Beritasumbar.com — Sejarah biasanya berakhir di museum. Bangunan tua dijaga, dipotret, lalu dilalui wisatawan sebelum mereka beranjak ke tempat lain. Taman Tamadun Islam (TTI) di Kuala Terengganu, Terengganu, Malaysia, mencoba melakukan hal berbeda.

Di kawasan seluas sekitar 23 hektare di Pulau Wan Man itu, sejarah peradaban Islam dikemas menjadi pengalaman wisata. Dua puluh satu replika bangunan Islam dari berbagai penjuru dunia berdiri dalam satu kawasan, lengkap dengan wisata sungai, kuliner, galeri, pusat konvensi, penginapan hingga ruang pendidikan.

Taman yang dikenal sebagai Islamic Civilization Park itu tidak sekadar menjual pemandangan. Ia menjual cerita. Ada Taj Mahal dari India, Alhambra dari Spanyol, Masjidil Haram dari Arab Saudi, Dome of the Rock atau Qubbah As-Sakhrah dari Palestina, Badshahi Mosque Pakistan, Masjid Nabawi di Madinah, hingga Masjid Al-Manar dari Kudus, Indonesia.

Menurut General Manager TTI Tuan Hj. Fadhil Wahab mengatakan, beragam bangunan tersebut menjadi bagian dari Monument Park. Replika itu dibuat untuk memperlihatkan keragaman arsitektur dan perjalanan peradaban Islam dari berbagai wilayah dunia, sehingga menarik bagi pengunjung dari berbagai belahan dunia yang datang ke Terengganu.

Sejumlah penelitian menyebut replika monumen tersebut dibangun dengan skala sekitar 1:8 dari ukuran aslinya.
Namun yang hendak ditawarkan Taman Tamadun Islam bukan sekadar miniatur bangunan.

Konsep yang digunakan adalah edutainment, perpaduan edukasi dan hiburan. Pengunjung dapat melihat bangunan sekaligus memperoleh informasi mengenai sejarah dan karakter arsitektur masing-masing monumen.

TTI menemukan kekuatannya

Sejarah tidak hanya dilihat. Sejarah dibuat menjadi pengalaman. Dibangun untuk Menghidupkan Tepian Sungai
Gagasan pembangunan Taman Tamadun Islam berkaitan dengan visi pengembangan Kuala Terengganu sebagai kota wisata tepian sungai sekaligus memperkuat sektor pariwisata Terengganu.

Pembangunan dimulai pada Maret 2005. TTI kemudian diresmikan pada 3 Februari 2008 oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tun Abdullah Ahmad Badawi. Beberapa hari kemudian, 8 Februari 2008, Masjid Kristal di kawasan tersebut diresmikan oleh Yang di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin.

Masjid Kristal kemudian tumbuh menjadi ikon kawasan. Bangunannya memadukan struktur baja dan kaca sehingga memantulkan cahaya dengan karakter yang berbeda ketika terkena sinar matahari maupun pencahayaan malam.

Jika Monument Park menjadi ruang untuk mengenal sejarah peradaban Islam, Masjid Kristal menjadi ikon visual yang mudah dikenali. Dua produk itu saling melengkapi sejarah dan ikon.

Sungai Sebagai Produk Wisata

Tetapi TTI tidak berhenti di sana. Sungai Dijadikan Produk Wisata Sungai Terengganu yang berada di sisi kawasan tidak hanya menjadi latar pemandangan.

TTI mengembangkan River Cruise yang membawa wisatawan menyusuri sungai sambil mendapatkan informasi mengenai sejarah, lanskap dan berbagai daya tarik di sekitarnya.
Konsep tersebut sederhana, tetapi penting.

Wisata sungai tidak berhenti pada aktivitas naik kapal. Ada perjalanan, ada cerita, ada interpretasi sejarah dan ada lanskap kota yang menjadi bagian dari pengalaman. Dengan cara itu, sungai berubah dari sekadar bentang alam menjadi produk wisata. TTI juga memiliki Crystal Cruise sebagai bagian dari atraksi kawasan.

Dari Taman Monumen Menjadi Destinasi Terpadu.

Seiring perkembangannya, TTI semakin jauh dari bentuk awalnya sebagai taman replika. Pengelola menghadirkan sejumlah fasilitas seperti Monument Park, Masjid Kristal, River Cruise, Crystal Cruise, Convention Centre, B’Beteng Restaurant, Kkalang Café, galeri batik, toko cenderamata, Tasik Pahlawan, Islamic Garden, TTI Mini Zoo hingga The Arra’s Villa.

Wisatawan yang datang tidak hanya memiliki alasan untuk melihat.
Mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Makan di restoran. Minum di kafe. Membeli cenderamata. Mengikuti aktivitas wisata. Menyusuri sungai. Menghadiri kegiatan. Bahkan menginap.

Destinasi Terpadu Ekosistem Ekonomi

Di sinilah konsep destinasi terpadu bekerja. Uang wisatawan tidak hanya berhenti di loket tiket. Pengeluaran dapat mengalir ke kuliner, produk kreatif, transportasi, aktivitas wisata dan akomodasi.

Sebuah taman wisata kemudian berubah menjadi ekosistem ekonomi. Wisata Bertemu Pendidikan dan Ilmu Konsep TTI bahkan diperluas ke bidang pendidikan dan keagamaan.

Kawasan tersebut dikembangkan dengan gagasan Kampung Ilmu. Salah satu fasilitas yang dikembangkan adalah Pusat Tafaqquh Fi Din Tok Sheikh Duyong yang diarahkan untuk mendukung pendidikan keilmuan dan melahirkan ilmuwan serta ulama Terengganu.

Konsep itu memperlihatkan bahwa pariwisata tidak selalu harus dipisahkan dari pendidikan.
TTI mencoba mempertemukan keduanya.

Berekreasi dan Pengetahuan Sejarah

Pengunjung datang untuk berekreasi, tetapi pada saat yang sama dapat memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dan peradaban Islam.
Itulah mengapa pengelola menyebut TTI sebagai Islamic Edutainment Park.
Bahkan Menjadi Bagian dari Perjalanan ke Redang.

Fungsi TTI semakin luas setelah Jeti Tokku Paloh di kawasan tersebut menjadi salah satu pilihan wisatawan menuju Pulau Redang sejak April 2022.

Artinya, wisatawan tidak harus memandang TTI sebagai tujuan akhir.
Kawasan ini dapat menjadi salah satu mata rantai perjalanan wisata Terengganu. Wisatawan bisa menikmati Kuala Terengganu, mengunjungi TTI dan Masjid Kristal, menyusuri Sungai Terengganu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju destinasi kepulauan.

Satu Kawasan Terhubung dengan Kawasan Lain

Satu kawasan wisata akhirnya terhubung dengan kawasan wisata lain. Apa yang Bisa Dipelajari Sawahlunto? Di sinilah pengalaman Taman Tamadun Islam menjadi menarik bagi kota-kota heritage seperti Sawahlunto.

Sawahlunto memiliki cerita besar tentang pertambangan batu bara Ombilin. Kota itu memiliki bangunan kolonial, museum, situs tambang, tradisi budaya, Songket Silungkang dan berbagai produk UMKM. Warisan tersebut sudah memiliki nilai sejarah.

Tetapi nilai sejarah saja tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. TTI memperlihatkan bagaimana identitas dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img