Lima Puluh Kota,BeritaSumbar.com, – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) melaksanakan program transfer teknologi pengolahan limbah daun gambir menjadi pelet biomassa bersama Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo (SGS), Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah daun gambir, sehingga limbah daun gambir yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal diolah menjadi pelet yang digunakan sebagai sumber energi alternatif untuk kebutuhan rumah tangga.
Kegiatan PKM tersebut dilaksanakan oleh tim yang diketuai Veronika Sriwulantari, S.T., M.Si., dengan anggota Rivo Yulse Viza, S.Si., M.P. dan Delni Alek Candra, S.S.T., M.M., serta melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pendampingan. Program tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga menerapkan teknologi secara langsung agar Bank Sampah SGS mampu melanjutkan produksi secara mandiri.
Mesin Pencacah dan Mesin Pelet Diserahkan kepada Bank Sampah
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, tim PKM memberikan mesin pencacah limbah daun gambir dan mesin pelet kepada Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo. Kedua peralatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian teknologi produksi pelet biomassa.
Proses produksi dimulai dengan pengumpulan dan pengeringan limbah daun gambir. Bahan yang telah kering kemudian diperkecil ukurannya menggunakan mesin pencacah agar lebih mudah diproses. Selanjutnya bahan dicetak menggunakan mesin pelet hingga menghasilkan bahan bakar padat berbentuk silinder.
Ketua Tim PKM, Veronika Sriwulantari, mengatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini tidak berhenti pada pemberian peralatan. “Teknologi yang diberikan harus dapat digunakan dan dikelola sendiri oleh masyarakat. Karena itu, selain mesin pencacah dan mesin pelet, anggota Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo mendapatkan pelatihan mulai dari pengolahan bahan baku, pencacahan, pembuatan pelet hingga penggunaan pelet sebagai bahan bakar pada kompor biomassa,” jelasnya. Menurut Veronika, pemanfaatan limbah daun gambir menjadi pelet memberikan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi beban limbah industri gambir serta menghasilkan sumber energi yang mempunyai nilai guna dan berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi Bank Sampah.
Pelet Gambir Dimanfaatkan untuk Bahan Bakar Kompor Biomassa
Pelet yang diproduksi selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar pada kompor biomassa. Melalui kegiatan praktik, anggota Bank Sampah diperkenalkan dengan cara pengoperasian kompor, pengisian pelet, penyalaan, pengaturan proses pembakaran hingga pemanfaatannya untuk kegiatan memasak.
Program ini diharapkan menjadi tahap awal untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil, terutama LPG, pada beberapa kegiatan rumah tangga. Anggota tim Rivo Yulse Viza bertanggung jawab dalam pendampingan pemanfaatan kompor biomassa dan aplikasinya dalam pengolahan pangan rumah tangga. Sementara itu, Delni Alek Candra mendampingi kelompok dalam memperkuat manajemen Bank Sampah, termasuk pencatatan tabungan dan sistem pengelolaan anggota. Pembagian tugas tersebut sesuai dengan rancangan program yang memadukan aspek teknologi produksi dengan penguatan kelembagaan mitra.
Ketua Bank Sampah: Limbah yang Selama Ini Terbuang Kini Memiliki Nilai
Ketua Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo menyambut positif penerapan teknologi tersebut. Menurutnya, keberadaan mesin pencacah dan mesin pelet membuka peluang baru bagi anggota Bank Sampah untuk tidak hanya mengelola sampah anorganik, tetapi juga memanfaatkan limbah organik yang tersedia melimpah di sekitar mereka.
“Selama ini limbah daun gambir banyak tersedia di sekitar masyarakat, tetapi kami belum memiliki alat dan pengetahuan untuk mengolahnya. Dengan adanya mesin pencacah dan mesin pelet serta pendampingan dari tim PPNP, limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan sekarang dapat kami olah menjadi pelet yang bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor biomassa. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan nantinya dapat memberikan tambahan nilai ekonomi bagi anggota Bank Sampah.”
Bank Sampah SGS sendiri telah berdiri sejak 2024 dan memiliki 20 anggota aktif. Sebelumnya aktivitas kelompok lebih banyak berkaitan dengan pengumpulan sampah plastik. Keterbatasan teknologi menjadi salah satu penyebab kelompok belum mampu mengolah sampah organik, termasuk limbah daun gambir yang jumlahnya cukup besar di wilayah tersebut.
Wali Nagari Simpang Kapuak: Teknologi Harus Memberikan Manfaat Jangka Panjang
Wali Nagari Simpang Kapuak juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pemanfaatan limbah gambir sangat relevan dengan karakteristik Simpang Kapuak sebagai salah satu kawasan penghasil gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota.
“Kami mengapresiasi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh yang membawa teknologi langsung kepada masyarakat.
Gambir merupakan salah satu potensi utama nagari kami, tetapi kegiatan pengolahannya juga menghasilkan limbah yang cukup banyak. Kalau limbah tersebut dapat diolah menjadi pelet dan dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi, manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kami berharap Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo dapat menjaga dan mengembangkan teknologi ini secara berkelanjutan.”
Ia berharap sinergi antara pemerintah nagari, perguruan tinggi, Bank Sampah, kelompok pengolah gambir, serta masyarakat dapat terus diperkuat sehingga Simpang Kapuak tidak hanya dikenal sebagai kawasan penghasil gambir, tetapi juga mampu mengembangkan sistem pengelolaan limbah gambir yang produktif dan berkelanjutan.
Dorong Ekonomi Sirkular dan Kemandirian Energi Desa
Selain pelatihan produksi, kegiatan PKM juga memberikan pendampingan manajemen kepada anggota Bank Sampah. Sistem pencatatan tabungan dan insentif anggota diperkuat agar pengumpulan limbah dapat terintegrasi dengan aktivitas Bank Sampah. Melalui pendekatan tersebut, limbah tidak lagi dipandang sebagai material sisa, melainkan sebagai bahan baku yang mempunyai nilai ekonomi.
Program ini sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular, karena limbah hasil industri gambir dikembalikan ke dalam siklus pemanfaatan sebagai sumber energi. Hal ini dikaitkan dengan pencapaian SDGs 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDGs 1 tentang Tanpa Kemiskinan.
Melalui transfer teknologi, penyediaan peralatan, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan, Tim PKM PPNP berharap Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo dapat menjadi salah satu model pengelolaan limbah gambir berbasis masyarakat, di mana limbah pertanian tidak lagi menjadi persoalan lingkungan, tetapi bertransformasi menjadi sumber energi alternatif dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Nagari Simpang Kapuak.
Tim PKM Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia yang telah memberikan pendanaan dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini.
Dukungan tersebut memungkinkan teknologi pengolahan limbah daun gambir dapat diterapkan secara langsung kepada masyarakat, mulai dari penyediaan peralatan, peningkatan keterampilan anggota Bank Sampah, hingga pendampingan pemanfaatan pelet biomassa sebagai sumber energi alternatif.
Ketua Tim PKM, Veronika Sriwulantari, S.T., M.Si., juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada DPPM Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek yang telah mendanai program ini, serta kepada Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Pemerintah Nagari Simpang Kapuak, Bank Sampah Simpang Goduang Saiyo, masyarakat, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi.
Kami berharap teknologi yang telah ditransfer tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi terus dimanfaatkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta perekonomian masyarakat.”
Dengan dukungan berbagai pihak tersebut, program PKM ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan limbah gambir yang lebih produktif, peningkatan kapasitas Bank Sampah, penguatan ekonomi sirkular, serta kemandirian energi berbasis potensi lokal di Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota.
