spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Tan Malaka,ASLIA dan MEA
T

Kategori -
- Advertisement -

Semangat internasionalisme yang terkandung di dalam gagasan ASLIA bahkan menjadi jauh lebih relevan hari ini dibandingkan pada jaman Tan Malaka, karena lain dulu lain sekarang. Di awal Abad XXI ini, globalisasi (yang tak lain dari kendaraan imperialisme) telah membuat negeri-negeri di Asia Tenggara terintegrasi sepenuhnya ke dalam ekonomi dunia – sebagai satelit-satelit yang mengorbit di sekeliling kekuatan-kekuatan imperialis. Investasi asing di negeri-negeri tersebut telah meningkatkan kekuatan-kekuatan produktif dalam hubungan produksi kapitalis dan sebagai konsekuensinya menciptakan lebih banyak buruh. Dengan kata lain, kapitalisme – dalam tahapan tertingginya, yakni imperialisme – sedang mempersiapkan penggali-penggali kuburnya sendiri. Kekuatan proletariat hari ini – dalam jumlah maupun kualitas – jauh lebih besar.

Sementara itu, krisis ekonomi yang berkecamuk di Barat semenjak 2008 mulai terasa dampaknya di Asia Tenggara dan Australia. Mata rantai terlemah dari kapitalisme Asia Tenggara akan menjadi arena pertama revolusi sosial – saat para penggali kubur bergerak untuk menguburkan kapitalisme. Bila menang, revolusi tersebut akan memantik revolusi-revolusi sosial berikutnya di seluruh Asia Tenggara dan Australia.

Sudah barang tentu kekuatan-kekuatan imperialis – dan kaki-tangannya di negeri-negeri tersebut – tidak akan tinggal diam. Ada revolusi, ada konter-revolusi. Kelas buruh – dalam  persekutuannya dengan tani, nelayan, dan kaum miskin kota – di negeri-negeri tersebut akan terdorong membentuk kekuatan bersama secara regional. Selain itu, pengalaman perjuangan proletariat 100 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa sosialisme tidak bisa dibangun di satu negeri dan usaha untuk melakukan ini hanya akan melahirkan distorsi birokratik. Globalisasi yang didorong oleh kapitalisme dan imperialisme telah menyediakan dasar dan keniscayaan kalau sosialisme harus bersifat internasionalis. Revolusi sosialis dapat dimenangkan di satu bangsa tetapi harus menyebar ke negeri-negeri lain kalau tidak ia akan melayu dan mati. Dalam konteks inilah, Federasi ASLIA Tan Malaka akan menjadi lebih dekat dengan kenyataan. Gagasan Tan Malaka tentang Federasi ASLIA lebih relevan sekarang ketimbang pada waktu pertama dilontarkan!

Bila kapitalis saja memiliki perspektif internasionalis dalam penindasan mereka, maka begitu juga kaum buruh harus memiliki perspektif internasionalis dalam perlawanan mereka. Bila kapitalis memiliki gagasan Masyarakat Ekonomi “kapitalis” ASEAN, maka kaum buruh harus memiliki gagasan besar Federasi Sosialis Asia Tenggara. Perjuangan membebaskan kaum buruh Indonesia dari cengkeraman kapitalisme oleh karenanya harus disandingkan erat dengan perspektif pembangunan Federasi Sosialis Asia Tenggara, untuk menuju ke Federasi Sosialis Dunia. Untuk mencapai ini kaum revolusioner Indonesia harus membangun sebuah organisasi revolusioner yang lintas bangsa, sebuah partai revolusioner yang sungguh internasionalis tidak hanya dalam sudut pandangnya tetapi juga dalam bentuk organisasionalnya.(militanindonesia.org)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img