Federasi ASLIA adalah sebuah gagasan besar. Tapi dasar-dasar pertimbangan awalnya perlu ditinjau kembali kesahihannya. Pertimbangan geografis mungkin kuat, karena sebuah federasi regional mengisyaratkan bangsa-bangsa yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Namun argumen bahwa pada zaman purbakala Asia, Indonesia, dan Australia pernah menjadi satu (Asia Selatan, begitu Tan Malaka menyebutnya) adalah suatu kekeliruan. Bagian barat kepulauan Indonesia pernah menyatu dengan Asia, bagian timurnya pernah menyatu dengan Australia.
Pertimbangan kedua terkait dengan pertimbangan pertama. Tan Malaka “pukul rata”, seolah-olah bangsa-bangsa yang menghuni Asia, Indonesia, dan Australia merupakan bangsa-bangsa serumpun. Padahal tidak. Orang-orang yang menghuni bagian barat kepulauan Indonesia tergolong dalam rumpun Melayu, sedangkan yang menghuni bagian timur kepulauan Indonesia dan Australia Utara tergolong dalam rumpun Melanesia.
Kekeliruan Tan Malaka dalam dua pertimbangan yang disebut di atas – geografis dan etnologis – bisa dimaklumi karena tentunya ilmu bumi dan antropologi pada jaman Tan Malaka tidaklah semaju sekarang. Teori super benua Pangea dan pergeseran lempeng benua baru diterima secara luas pada awal 1960an, dan dari teori tersebut didapati bahwa daratan Asia, Indonesia, dan Australia tidak pernah menjadi satu seperti yang dibayangkan oleh Tan Malaka. Sementara, belum lama ini, lewat ilmu genetika modern, telah dipastikan bahwa nenek moyang suku Aborigin dan nenek moyang orang-orang yang menghuni Asia dan Indonesia Barat sudah berpisah sejak di Afrika. Sekitar 75 ribu tahun yang lalu nenek moyang suku Aborigin Australia meninggalkan Afrika dan melalui benua Asia tiba di Australia sekitar 50 ribu tahun yang lalu. Sementara nenek moyang orang Asia baru meninggalkan Afrika sekitar 38 ribu tahun yang lalu.
Pertimbangan ketiga, yakni kepentingan bersama, adalah pertimbangan yang paling sahih. Bangsa-bangsa ASLIA perlu bersatu padu dan bekerja sama, baik untuk membangun kesejahteraan bersama maupun untuk menghadapi kekuatan-kekuatan imperialis. Persatuan ini datang dari nasib bersama bangsa-bangsa ASLIA yang merupakan korban dari imperialisme (kapitalisme pada tahap tertingginya). Kapitalisme-lah yang merupakan faktor utama, dan bukan geografi atau kesamaan rumpun atau suku semata, yang menyatukan seluruh rakyat ASLIA. Ini dikarenakan kapitalisme meletakkan semua bangsa ASLIA ke dalam bingkai penindasan yang sama dan oleh karenanya mendorongnya ke jalan revolusioner yang sama pula. Walaupun ada sejumlah formulasi yang kurang tepat di dalam gagasan ASLIAnya Tan Malaka, sesuatu yang akan menarik untuk dikaji di lain kesempatan dan di lain artikel, namun semangat dasar yang terkandung di dalamnya adalah yang paling relevan bagi kita hari ini, yakni semangat internasionalisme.