spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Sepekan Ramadhan, Seluruh Sektor Sepi Pembeli
S

Kategori -
- Advertisement -

Ramadhan sudah berlalu delapan hari. Namun, disegi ekonomi belum ada tanda-tanda lonjakan berarti. Kegiatan jual beli di pusat pertokoan bertingkat, di pasar tradisional Ibuah serta di pasar pabukoan tampak biasa-biasa saja. Malahan,  pedagang kain dasar dan pedagang pakaian siap serta sepatu, boleh dikatakan sepi pembeli.

“Sepi, alun pacah talua lai pak (Belum ada yang terjual). Padahal hari sudah pukul 12.00 WIB,” ucap  Rahmi penjual pakaian di pelataran kaki lima di eks terminal angkutan Sago, Kamis (25/6). Pernyataan  yang sama juga disampaikan Mira,  pedagang pakaian di kawasan pertokoan bertingkat.  Bujang, pedagang daging di Pasar Ibuah, juga mengaku belum ada lonjakan warga yang membeli daging. “Tak ada lonjakan pembeli,” kata Bujang.

Keluhan pedagang kaki lima itu, juga tak berbeda dengan Hendra, pedagang kain dasar di lantai dua pertokoan bertingkat. “Puasa tahun ini,  belum memberikan  pendapatan yang luar biasa bagi kami pedagang kain,” kata Hendra. Namun, pedagang tekstil ini optimis, suasana seperti ini akan berubah, begitu PNS gajian tambahnya.

Pedagang makanan dan minuman di Pasar Pabukoan Payakumbuh, juga merasakan kemunduran  omsetnya dibandingkan dengan puasa sebelumnya. Sepuluh hari Ramadhan, biasanya seluruh barang dagangan kami ludes terjual. Tapi, tahun ini hanya separo dan dua pertiga  yang habis. “Pulang modal saja sudah lumayan, kalaupun tak akan tertelungkup,” sebut  Maman penjual berbagai gorengan ini.

Sama halnya dengan pedagang gorengan, pedagang  sambal, mie/mihun  goreng, kampiun dan sayur anyang juga merasakan kepahitan yang sama. “Mungkin, karano pegawai alun gajian, jadi pembeli belum begitu membludak,” ucap Tomi  mewakili temannya.

Kabag Perekonomian Setdako Payakumbuh Julpiter, SE, MM, merasakan keluhan pedagang yang sepi pembeli tersebut. Tapi, Julpiter menolak, kalau penyebabnya karena inflasi. Pasalnya, harga yang naik begitu signifikan, hanya cabe. Komoditas pangan lainnya, hanya naik tidak begitu tinggi, berkisar antara 1.000 sampai Rp2.000.

Kabag Perekonomian yang murah senyum ini, menilai, para orang tua terpaksa mengatur keuangannya, karena puasa tahun ini bertepatan dengan masuknya tahun ajaran baru. Warga lebih mementingkan keperluan pendidikan putera-puterinya. Sementara itu, diakui Julpiter, PNS belum gajian. “Mudah-mudahan suasana ini akan berubah, jika 1 Juli telah datang,” ucapnya berdiplomasi.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img