Sebuah Catatan Pendakin Gunung Marapi 2891 MDPL
Oleh : Prama Ovriandi S

Saya terbangun saat alarm berbunyi untuk melaksanakan sholat subuh, pun membangunkan semua tim dan mengajak untuk sholat berjamaah, tapi Monica teman perempuan ini tidak bisa sholat karena datang bulan semenjak tadi malam. Setelah sholat berjamaah kamipun memasak untuk sarapan dan mempersiapkan beberapa bekal untuk di bawa ke puncak, ceritanya berawal dari sini.

Ba’da Jum’at sekitar pulu 2 kami mencek semua perlengkapan yang ada pada tas gunung masing – masing pendaki, tim berjumlah lima orang yang terdiri dari empat orang laki – laki dan satu orang perempuan dan semuanya adalah teman kampus saya, setelah mencek semua perlengkapan kami pun berangkat dari kota Padang menuju Bukittingi, perjalan yang kami tempuh cukup jauh sekitar 80 KM atau sekitar dua setengah jam perjalan mengendarai sepeda motor.

Akhirnya kami tiba di kaki gunung Marapi, Sumatera Barat yang mempunyai ketinggian 2891 MDPL, setelah mendaftar di pos pertama gunung Marapi dan sekaligus mendapat arahan dari teman sesama pemandu wisata, sayapun mengajak tim  berdoa dan memulai perjalan menuju puncak sekitar jam 5 sore. Setelah berjalan sekitar satu setengah jam kamipun berhenti sejenak di KM 2, karena adzan maghrib dan kamipun berwudhu dan memulai sholat berjamaah. Setelah selesai sholat dan makan, kami melanjutkan perjalan.

Pukul 22.15 kami sampai di bawah puncak, karena sudah larut malam Saya memutuskan untuk mendirikan tenda bersama pendaki – pendaki lain, mereka sudah  duluan mendirikan tenda dan memutuskan  untuk melanjutkan perjalan esok pagi saat sudah terang. Setelah mendirikan tenda kami mulai memasak beberapa bekal yang kami bawa dan menghidupkan api unggun untuk membuat suasana lebih hidup di malam itu dan tertidur pulas bersama dinginnya malam, di ketinggian sekitar 2600 mdpl.

Sekitar jam 05.30 subuh itu, Saya dan pendaki lainnya mendengar suara minta tolong, diteriaki dari arah jalur pendakian puncak. Ada beberapa tenda yang di jatuhi batu yang berukuran kecil maupun sedang, sesaat setelah mendegar suara minta tolong tersebut. Saya berinisiatif bersama beberapa pendaki untuk menulusuri suara tersebut, dan menemukan dua orang remaja pendaki yang terjatuh ke lereng gunung sebelah jalur pendakkian, lereng tersebut tidak terlalu dalam tetapi terjal dan banyak bebatuan.

Saya dan beberapa pendaki senior yang ada di puncak membuat dua tim, yang pertama tugasnya untuk memberitahu dan meminta pertolongan ke pos pendakian 1 dan tim kedua yaitu termasuk saya mengevakuasi korban dengan alat seadanya, akhirnya tim kedua berhasil mengeluarkan pendaki yang terperosok ke lereng dengan peralatan tali seadanya, sekitar jam 06.00 pagi dan masih gelap, kedua pendaki yang terjatuh ini mengalami luka yang cukup parah di bagian kaki dan kepala, namun masih dalam keadaan sadar dan berhasil di evakuasi oleh ranger (sebutan untuk tim evakuasi gunung marapi ), sampai ke pos satu.

Setelah kejadian itu, ranger menutup jalur ke puncak sesaat sambil memberikan peringatan bahayanya pendakian saat tidak ada cahaya atau gelap, setelah beberapa jam sekitar jam tiga sore saya dan tim melanjutkan perjalan menuju puncak setelah jalur ke puncak telah di buka, tetapi pada sore itu banyak pendaki yang kecewa dan tidak memilih untuk ke puncak namun memilih untuk turun dan tidak jadi ke puncak karena sudah sore. Namun tim saya sudah lengkap dengan semua peralatan dan kami lanjutkan perjalan menuju puncak, tepatnya jam setengah lima sore kami sampai di puncak dan tidak lama – lama setelah menikmati sunset di puncak Marapi, kami bergegas kembali ke tenda dan bersiap – siap untuk melanjutkan perjalan menuruni gunung.

Hari sabtu tepatnya jam 9 malam kamipun mulai berjalan kembali, namun tidak ada seorang pun pendaki yang ada pada lokasi tenda dan turun bersama kami, kami adalah tim terakhir yang turun pada malam itu. Setelah satu jam perjalanan, kami mulai mengalami hal – hal aneh yang di luar nalar manusia, saya melihat ada sosok lelaki yang menunduk saat berjalan, berambut panjang dan kakinya kotor sekali tidak memakai sepatu, sontak saya tanya kepada teman yang berjalan di depan saya, namun teman saya tidak melihat sosok tersebut, saya putuskan untuk beristirahat sejenak untuk membuat kopi.

Jam 11 tengah malam itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos satu, namun gangguan mulai kembali di alami kali ini kepada Monica, Sesumbar Ia memeluk Saya, sambil memejamkan matanya dan Saya pun bertanya kenapa ?, Lalu Monica menunjuk ke arah jalur depan dan saya pun melihat sosok pria yang menunduk dan berambut panjang tadi melihat ke arah tim saya. Namun tim saya yang lain tidak bisa melihat, saya pun mulai berkomunikasi dengan sosok pria ini, maaf pak mohon di kasih jalan untuk kami dan mohon ijin pak lewat kalau kami ada salah tolong di maafkan, kemudian sosok ini menunjuk ke arah tas gunung Monica, saya pun heran, kemudian saya bongkar tas tersebut dan menemukan beberapa kuntum bunga edelwis di dalamnya, Saya pun mendadak emosi dan kecewa karena di dalam arahan saya kepada tim salah satunya jangan petik bunga edelwis.

Setelah saya keluarkan bunga edelwis tersebut dan menanamnya kembali di samping jalur arah lereng gunung saya dan monica pun tidak melihat sosok pria itu lagi, namun beberapa saat kemudian monica kesurupan dan tidak bisa di kendalikan. Saya dan teman memegang Monica, setelah di pegang tiga orang baru bisa di tahan gerakan –  gerakan spontan dari Monica. Tatapan tajam Monica yang begitu fokus mengarah pada lereng gunung sebelah utara, saya pun melihat ke arah tersebut dan melihat ada sajadah putih yang sedang di gunakan sosok pria yang bersorban putih, sosok pria tersebut berkilau dan sedang melaksanakn sholat. Saya pun spontan berwudhu dan melaksanakan sholat malam sementara monica di pegang oleh tiga orang teman saya. Setelah sholat dan mendoakan keselamatan Monica dan tim, Monica pun kembali sadar perlahan dan di gendong menuju pos satu, berjalan perlahan dan semua mata kelelahan akhirnya pada jam 5 subuh kami sampai di pintu rimba dimana batasnya hutan dan ladang masyarakat. Kali ini smua tim melihat sosok bercahaya memakai pakaian serba putih sedang melaksanakan sholat subuh jauh di ujung jalan, saya pun mengajak tim kecuali monica untuk sholat subuh bergantian untuk menjaga monica.

Sekitar jam 7  pagi hari minggu kamipun sampai di pos pertama, saya bertemu seorang ranger yang tidak lain adalah teman saya dan dia mengatakan telah mencari tim saya di dua jalur pendakian menuju puncak dan kami tidak ketemu, rencananya mereka pada pagi ini akan memanggil tim SAR untuk mencari kami, Alhamdulillah kami sampai dengan selamat dan isirahat menjelang sore dan balik ke kota Padang untuk melanjutkan perkuliahan. (FRP)

Marapi, 01 September 2016

loading...