Dosen sekaligus peneliti dari Jurusan Biologi Universitas Andalas (Unand) Padang Dr. Henny Herwina meneliti 190 macam jenis spesies semut di wilayah Sumatera Barat (Sumbar). “Jumlah semut ini tersebar pada enam wilayah hutan cagar alam dan beberapa perkebunan serta pertanian di wilayah Sumbar,” katanya di Padang, Selasa (17/2).

Dia menyebutkan dari 190 spesies semut ini tersebar sebanyak 150 di wilayah cagar alam. Hutan cagar alam itu antara lain Lembah Harau, Lembah Anai, Rimba Panti, Malampah Pasaman, Bukit Barisan, dan Pangean.
“Sementara sebanyak 40 jenis spesies semut berada di sekitar wilayah perkebunan pisang, karet dan kelapa sawit,”ujarnya.

“Di antara jumlah jenis spesies semut tersebut, sub keluarga Formicinaedan Myrmicinae menjadi yang paling dominan ditemukan pada kedua area itu,” katanya. Dia menambahkan beberapa jenis yang termasuk dari sub keluarga ini seperti semut api atau nama latinnya Selenopsis geminata, semut rangrang (Oechophyla simaragdina), semut hutan jenisOdontomachus dan Camponotus gigas.

“Dari sekian banyak spesies tersebut jenis camponotus gigas menjadi semut yang berukuran paling besar dibanding yang lainnya,” ujarnya. Jenis Carponatus gigas atau semut raksasa ini banyak ditemukan di pegunungan Bukit Barisan yang salah satunya Hutan di sekitar Unand, katanya.

Selain itu, tambahnya, jenis ini juga ditemukan di beberapa wilayah hutan Rimba Panti dan Lembah Harau. “Selain mengetahui jenis semut di Sumbar, penelitian ini juga mengkaji aspek interaksi makhluk hidup terhadap wilayah atau ekologinya,” kata dia.

Menurut dia, dengan ditemukannya spesies semut dalam satu wilayah dapat menjadi bahan kajian tentang habitat serta peranannya dalam ekosistem. Sebagai contoh semut rangrang yang bisa menjadi predator alami bagi hama pertanian. Atau jenis semut api yang menjadi hama bagi tanaman pertanian dan pengganggu makhluk hidup lainnya.

“Jumlah jenis semut dalam penelitian masih kemungkinan bertambah seiring masih banyaknya wilayah yang belum diteliti,” tambahnya.

Ia menyebutkan bahwa penelitian ini juga melibatkan dosen, dan mahasiswa. Selain itu juga mengadakan kerja sama dengan Universitas Kagoshima di Jepang untuk mendukung penelitian yang rencananya akan dilaksanakan selama tiga tahun ini, ujarnya.

 

 

Republika / Agung Sasongko
Sumber : Antara
loading...