Asisten II Walikota Pariaman Yanrileza ketika membuka kegiatan Sosialisasi Pelatihan dan Pemahaman Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang diadakan Kesra Kota Pariaman di Balairung rumah dinas Walikota Pariaman,

Pariaman ,BeritaSumbar.com,- Pemko Pariaman melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Pariaman adakan Sosialisasi Pelatihan dan Pemahaman Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) bagi generasi muda Kota Pariaman. Sosialisasi diadakan di Balairung rumah dinas Walikota Pariaman, Rabu (10/4) dihadiri 213 orang peserta dari KNPI, Karang Taruna dan Dewan Pengurus Remaja Mesjid Kota Pariaman.

Turut Hadir Asisten II Walikota Pariaman Yanrileza, Kabag Kesra Kota Pariaman Armaizal, Kepolres Pariaman Andry Kurniawan, Kasdim 0308 Pariaman Marjoni, Sekretaris LKAAM Kota Pariaman Priyaldi, Kakankemenag Kota Pariaman M Nur, dan Kabag Kesra Kota Pariaman Armaizal.

Walikota Pariaman diwakili Asisten II Yanrileza dalam sambutannya mengatakan bahwa pengembalian dan pencitraan terhadap Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus dilakukan terhadap generasi muda terutama bagi anak kemenakan kita.

” ABS-SBK perlu intens dilakukan kepada generasi muda, agar pemahaman adat meningkat demi membentuk generasi yang berbudaya. Baik itu cara berpakaian bertutur kata dan tau dengan kato nan ampek “, ujarnya.

Menurutnya tujuan pelatihan ASB-SBK ini juga untuk memperjelas kembali jati diri minangkabau kepada generasi muda dimana sebagai sumber harapan dan kekuatan yang mampu menggerakan ruang lingkup kehidupan.

Kabag Kesra Kota Pariaman Armaizal juga menyebutkan penerapan ABS-SBK dalam kehidupan sehari-hari, dapat mengantisipasi penyakit masyarakat yang sering terjadi belakangan ini.

Contohnya saja kenakalan remaja, judi, miras, narkoba, dan pelecehan seksual, lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT). Fenomena ini terjadi karena rendahnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama, adat dan budaya khususnya generasi muda.

Sementara itu, Priyaldi selaku narasumber yang juga merupakan Sekretaris LKAAM Kota Pariaman mengatakan bahwa adat dan budaya adalah merupakan realita sosial yang berlaku ditengah masyarakat. Sebagai realita sosial, adat dan budaya juga merupakan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik komunikasi sosial, kekerabatan, status sosial, stratifikasi sosial dan juga seni/hiburan.

Priyaldi mengatakan, menurut masyarakat minangkabau adat merupakan peraturan hidup sehari-hari yang diwariskan secara turun temurun. Orang minang bisa dikatakan tidak beradat kalau hidupnya tanpa aturan. Bagi orang minang duduk, tegak, berdiri, berjalan, berbicara, makan minum, bertamu bahkan  mengucap pun ada adatnya.

” Kita perlu pahami aturan tak tertulis dimanapun yaitu adab raso jo pareso. Tepat waktu dimanapun kita berada dalam artian kedisiplinan, kenakan busana yang pantas dan sopan, biasakan meminta izin bertutur sopan santun dan rasa terimakasih (sumbang duo baleh) “, ujarnya.

Generasi muda banyak yang tidak memahami kato nan ampek. Adab sopan dan santun sudah banyak yang hilang pada anak sekarang. Etika dalam masyarakat itu harus ada, agar budaya ketimuran kita tidak luntur “, tutupnya menghakhiri.

Acara sosialisasi dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi oleh pemuda pemudi Kota Pariaman dengan secara sepakat mendukung Perda Kota Pariaman Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Keamanan, Ketertiban Umum dan Penyakit Masyarakat (LGBT).(humas)

loading...