spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Moderalisasi Mengikis Adat
M

Kategori -
- Advertisement -

BeritaSumbar.com,-Terkenal dengan adat yang begitu kental, Minangkabau termasuk daerah yang mulai maju dan berkembang. Moderalisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntunan masa kini atau pemodernan, sedangkan Adat istiadat adalah perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha diterapkan dalam lingkunagan masyarakat.

Adat istiadat merupakan ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dahulu kala dalam diri masyarakat yang melakukannya. Layaknya kata pepatah adat yang sebenarnya adat adalah adat yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, dipindahkan tidak layu, dibasuh habis air. Artinya semua ketetapan yang ada di alam ini memiliki sifat-sifat yang tak akan berubah. Contohnya Sumatra Barat ( Sumbar), daerah yang dikenal dengan berbagai macam budaya. Salah satunya yang paling unik dan menarik masyarakat luar daerah Sumbar adalah perempuan “membeli” laki-laki atau disebut juga istilah “bajapuik”.

Bajapuik adalah tradiri atau ciri khas perkawinan di daerah Pariaman. Bajapuik dipandang sebagai kewajiban dari pihak keluarga perempuan (calon istri) dengan cara memberi sejumlah uang kepada laki-laki (calon suami) sebelum akad nikah berlangsung. Bajapuik dalam tradiri adat Pariaman bermaksud untuk menghargai keluarga dari pihak laki-laki yang telah melahirkan dan membesarkannya. Biasanya seorang anak laki-laki adalah tumpuan harapan dari keluarganya, sementara ketika mereka menikah menjadi tumpuan dari harapan keluarga perempuan

Asal mula tradisi bajapuik sudah ada sejak dahulu, bermula dari kedatangan Islam ke Nusantra. Kedatangan islam menjadi sumber Adat di Minangkabau yakni Al-Quran. Layaknya pepatah Minang “Adaik Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah” jadi semua adat atau tradisi orang Minang besasal dari ajaran islam. Melihat dari sejarah bajapuik ini, dahulunya ada sorang saudagar kaya raya yang ingin mencari suami untuk anak perempuannya. Didapatilah seorang laki-laki yang alim, sholeh, dan bagus pula agamanya, namun lelaki tersebut tidak memiliki harta untuk membangun rumah tangga, lalu saudagar tadi memberikan sejumlah emas  dan lahan pertanian untuk modal pernikahan dengan anaknya.

Memang tradisi bajapuik ini terdengar kurang lazim bagi masyarakat luar Sumbar, namun perlu kita cermati kembali bahwa masyarakat Minang menempatkan budaya atau tradisi di bawah Hukum Agama. Seiring perkembangan waktu tradisi bajapuik ini kian terkikis, banyak dari orang-orang yang menyalah gunakan wewenang, seperti dari pihak laki-laki yang seolah-olah sengaja menentukan tarif atau jumlah uang kepada pihak wanita, bahkan sekarang tarif tersebut diukur melalui pekerjaan atau profesi laki-laki, semakin tinggi profesi semakin mahal pula uang jeputannya.

Karena adanya penyalahgunaan ini bisa mencoreng nilai dari budaya ini, yang seharusnya nilai budaya budaya banyak mengandung nilai positif kini dipandang negative. Tidak jarang masyarakat luar memandang buruk tradisi ini. Bahkan dampak negative dari penyalahgunaan ini memungkinkan batalnya pernikahan. Ada pula yang berinisiativ dari laki-laki memberi uang kepada perempuan untuk melancarkan proses perkawinan, bisa juga dikatakan untuk mempertahankan tradisi tanpa harus membatalkan perkawinan.

Sayangnya seiring berjalannya waktu semua itu mulai ditinggali dan dilupakan oleh anak muda minang sekarang. Alah  hilang  Minang yang tinggal kabau. Norma, adat atau tradisi yang sejak dulu menjadi kebanggaan orang minang telah mulai pudar dan hilang dilupakan oleh anak mudak sekarang.

Dalam menjaga dan melestarikan kembali adat yang hampir punah ini dalam masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara khususnya untuk anak muda zaman sekarang yaitu dengan mengenal atau mempelajari kembali adat tersebut serta mempraktikkanya, ikut berpartisipasi dengan masyarakat yang lain dalam rangka menegakkan kembali adat tersebut, mengajarkan dan mengingatkan kepada penerus bangasa khususnya anak muda sekarang agar adat ini tidak musnah dan tetap bertahan.

Penulis: Rahmita Erlinawati

foto hanya sebagai ilustrasi

 

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img