Pesisir Selatan ,BeritaSumbar.com,-Minal’ Aidin wal- Faizin adalah tradisi yang biasa diucapkan antara sesama Muslim Indonesia. Saat merayakan Idulfitri, setelah menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadan, itu lah garis besar ucapan kata dari H.Irawan Gutama Mataram Rajo Pasisie. Untuk sanak saudara di kampung halaman, Pesisir Selatan.

Jauh di rantau memang sedih saat momen kemenangan Idulfitri tidak bisa berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman. Namun begitu, Irawan Gutama Mataram mengajak sanak saudara di kampung halaman bisa mengambil hikmat dari cobaan ini.

” Jangan hanya cobaan pandemi Covid -19 ini memutus rasa sillahturahmi, tapi mari kita jadikan cobaan ini sebagai cambuk untuk lebih meningkatkan rasa sillahturahmi kita,” kata Rajo Pasisie.

Dikatakan H.Irawan Gutama Mataram Rajo Pasisie, ingin rasanya cepat kembali kekampung halaman, Kabupaten Pesisir Selatan. Hanya do’a pada Allah Swt bisa terus dipanjatkan, muda – mudahan cobaan ini segera berakhir. Dan, bisa kembali ke kampung halaman bercengkraman bersama sanak saudara.

Persaudaraan dan rasa kekulargaan tidak akan bisa hilang, atau dipisahkan dengan kampung halaman, dimana Irawan Gutama Mataram Rajo Pasisie pernah merasakan suka duka di kampung halaman. Pesisir Selatan adalah mutiara berlian, ujar Rajo Pasisie.

” maka mutiara berlian ini harus sama – sama kita jagah bersama. Karena Pesisir Selatan ini milik kita bersama,” tegas H.Irawan Gutama Mataram Rajo Pasisie.

Sekali lagi dihari kemenangnan seluruh umat Muslim di penjuru Dunia, atas nama pribadi dan kelurga Ia mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, mohon   Minal’ Aidin wal- Faizin.

“اللَّهُ أكبرُ كَبِيراً، والحمدُ لِلَّه كَثِيراً، وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيلاً؛ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً مُسْلِماً، وما أنا من المُشْرِكِينَ، إنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبّ العالَمِينَ، لا شَرِيكَ لهُ، وَبِذَلِكَ أمرتُ وأنَا مِنَ المُسْلِمينَ؛ اللَّهُمَّ أنْتَ المَلكُ، لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وأنا عَبْدُكَ، ظلمتُ نَفْسِي واعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فاغْفِرْ لي ذُنُوبِي جَمِيعاً؛ فإنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ، وَاهْدِني لأحْسَنِ الأخْلاقِ لا يَهْدِي لأحْسَنها إلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَها لا يصرف عني سَيِّئَها إِلاَّ أَنْتَ، لبيك وَسَعْدَيْكَ، والخَيْرُ كُلُّهُ في يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أنا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبارَكْتَ وَتعالَيْتَ، أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ”.

Allahu Akbar kabiro, walhamdu lilla

katsiro, wasubhanallahi bukrotaw wa ashila, wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifammuslima, wa maa ana minal musyrikin. Inna sholati wa nusuki, wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil’aalamiin. Laa syariikalahu wa bi dzaalika umirtu wa ana minal muslimin. Allahumma antal malik laa ilaaha illaa anta, anta rabbi wa ana ‘abduka, dzalamtu nafsi wa’taraftu bi dzanbi faghfirli dzunuubi jami’a, fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta wahdinii li ahsanil akhlaq laa yahdii li ahsaniha illa anta, washrif ‘anni sayyi’aha laa yashrifu ‘anni sayyi’aha illaa anta, labbaika wa sa’daika, walkhoiru kulluhu fi yadaika, wasy syarru laisa ilaika ana bika wa ilaika tabaarakta wa ta’alaita astaghfiruka wa atuubu Ilaika.

loading...