Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.

BeritaSumbar.com,- Fenomena Dosen menggendong bayi, anak dari salah satu mahasiswanya telah berulangkali viral di media sosial. Kejadian di Indonesia ketika Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta juga melakukannya, bukanlah yang pertama kali di dunia. Termasuk pengakuan seorang Kawan Dosen yang pernah kuliah di Amerika Serikat, menceritakan tentang Profesornya yang dengan santai bercanda dengan anak salah seorang mahasiswanya di kelas.

Namun, fenomena tersebut seharusnya bukanlah peristiwa istimewa yang hanya terjadi di beberapa kampus di beberapa negara. Seharusnya fenomena tersebut menjadi peristiwa keseharian yang bisa dan biasa saja terjadi di manapun. Faktanya, selalu terjadi disparitas kebijaksanaan dan perbedaan pandangan terhadap kasus-kasus tersebut.

Alih-alih menerima fenomena tersebut sebagai peristiwa yang lumrah terjadi, justru tidak jarang terjadi resistensi bahkan oleh para Dosen yang juga seorang ibu. Bagi mereka hal tersebut bisa mengganggu proses belajar mengajar (PBM) di dalam kelas, di laboratorium, dan di manapun dalam perkuliahan.

Harus diakui bahwa memang kampus-kampus kita di Indonesia, termasuk Universitas Andalas (Unand) kurang sensitif dan ramah pada setiap perbedaan dan keadaan civitas akademiknya. Termasuk kepada balita, anak-anak, dan ibu-ibu yang sedang hamil, menyusui, dan mengasuh anak-anak mereka sebagai Dosen, Mahasiswa, maupun Tenaga Kependidikan.

Para ibu yang Dosen atau Mahasiswa, mungkin juga Tenaga Kependidikan hanya bisa memikirkan sendiri solusinya. Bukan menjadi solusi kolektif yang terlembagakan sebagai bagian dari fasilitas kampus. Kita memang belum menjadi masyarakat yang sadar dan bijak dengan kemampuan membangun ekosistem yang kolaboratif.

Harus terus didorong oleh siapapun, termasuk Majelis Dosen Merdeka (MDM) di setiap kampus -bukan hanya di Unand- ada kebijakan kampus inklusif yang ramah kepada siapapun yang berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak-hak mereka dengan mewajibkan semua Dosen, Mahasiswa, dan Tenaga Kependidikan ikut serta berpartisipasi menegakkan dan mewujudkannya.

MDM Unand pun merekomendasikan kepada Rektor Unand yang baru, Prof. Dr. Yuliandri, SH, MH agar kedepan haruslah mewujudkan kampus inklusif yang ditandai dengan kampus yang mampu mengakomodasi kepentingan seluruh stakeholder. Ukurannya bukan hanya menjadikan kampus yang ramah lingkungan, namun juga terhadap disabilitas, orang tua, ibu hamil/menyusui, dan sebagainya.

Selain itu juga perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur dan perubahan sikap semua. Memudahkan hidup semua orang adalah bagian dari penghormatan terhadap fitrah manusia.

Kampus inklusif adalah kampus yang melibatkan semua stakeholder nya dalan setiap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program dan kegiatan di kampus. Kampus inklusif memberikan ruang bagi kebebasan berfikir dan tumbuhnya nalar kritis siapapun, bukan justru membungkam dan melegitimasi dominasi tafsir tunggal kebenaran.

(Padang, 14 Desember 2019, oleh Virtuous Setyaka a.k.aTan Patuih, Dosen HI FISIP & Aktivis MDM Unand)

loading...