Koto Payakumbuh yang dilewati Batang Agam mempunyai jembatan batu yang lebar, kuat dan kokoh. Dari tiga rongga yang terdapat dibawahnya mengalir air terjun. Jembatan yang dibangun sejak penjajahan Belanda (1840) tersebut saat ini dikenal dengan sebutan jembatan “ Ratapan Ibu “, karena banyaknya ibu-ibu yang meratapi anaknya yang menjadi korban kebiadaban tentera Belanda semasa Agresi ke II berlangsung di Lima Puluh Kota.
Pada tanggal 23 Desember 1948, tetara Belanda menduduki Kota Payakumbuh.Pada malam sebelumnya bangunan-bangunan penting di kota ini dibumi hanguskan pula antara lain Markas Bataliyon Singga Harau, Kantor Bupati, Kantor Bank, Gonjong Limo dan Pabrik senjata di Kubu Gadang.Tindakan pertama yang diambil Belanda adalah memberikan pengumuman dengan pengeras suara:
1) Tentera kerajaan Belanda telah datang rakyat diharapkan tenang.
2) Barang siapa yang mencoba melarikan diri, mengadakan kekacauan, atau perampokan akan ditembak mati.
3) Jam malam mulai diberlakukan dari jam 18.00 sampai jam 6.00 pagi.
Kemudian diikuti dengan tindakan pembersihan. Sewaktu-waktu terdengar tembakan-tembakan dan keadaan kota benar-benar tidak aman. Mereka yang dicurigai dan tidak ikut perintah, dibunuh secara kejam. Disanasini mayat bergelimpangan.
Belanda mulai menyusun pemerintahanya di Kota Payakumbuh.Kepala pemerintahan yang mula-mula adalah seorang kontroleur bernama W.G.Klinj, yang kemudian digantikan oleh W.Van Pilis. Kantor pemerintahannya Tijdelijk Bestuur Amtenar (TBA) berkedudukan di Labuah Baru yaitu kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) sekarang.
Untuk kepentingan tugas militer,Belanda membentuk Dinas Informasi yang disebut Inlchting Dienst (ID) yang dikepalai oleh Letnan Ofades Treuner yang lebih dikenal dengan letnan Ofa, Stafnya Sersan Zsecher cukup mahir berbahasa minang.Tugas pokok ID adalah mencari informasi situasi kota Payakumbuh dan sekitarnya, serta menyelidiki kekuatan Republik. Letnan ofa memakai beberapa orang kaki tangan, yang terkenal keganasannya ialah seorang Cina bernama Nyo Lek An alias De An.
Namun jangan dianggap aman didalam kota, karena hampir setiap malam tetara dan pemudapemuda BPNK bergerilya menyusup kedalam kota, menyerang pos-pos Belanda. Akibat serangan gerilya yang hampir setiap malam itu,Belanda tambah mengganas siang hari mereka mengadakan patroli dan operasi Dalam operasinya itu banyak pemuda-pemuda ter-tangkap,digiring kedalam kota dan ditembak di jembatan Batang Agam.
Dari kesaksian M. Djuri dan Ramli keduanya dari kelurahan Padang Alai Air Tabik, Payakumbuh yang diceritakan kepada C. Israr sebagai berikut,Pada hari kamis taggal 30 Desember 1948 pagi,Belanda mengadakan operasi ke Sicincin,Air Tabik sampai ke Padang Alai. Dalam operasi ini,kami pemuda-pemuda Padang Alai banyak yang tidak dapat meloloskan diri dan tertangkap 16 orang banyaknya.Kami tiba di Payakumbuh kira-kira jam 11.00, dikumpul dimuka rumah Lamid yang dijadikan Belanda sebagai markasnya.
Tidak lama kemudian datang pula serombongan pemuda yang ditangkap di Sicincin.Semua kami ini disuruh duduk ditengah beberapa jam lamanya. Tidak ada pemeriksaan dan pertanyaan yang diajukan kepada kami. Hanya kami dihardik dan dipukul.Jam 16.00 sore kami dinaikkan ke atas truk, dibawa melewati jalan dimuka kantor Bupati, mengelok ke jalan Lundang terus ke kampung Terandam dan masuk jalan Batang Agam. Dimuka Jembatan Batang Agam itu truk berhenti dan kami diperintahkan turun. Disana ada tentara Belanda, serta seorang Cina dan orang yang kami kenal. Cina itu namanya De An dan orang kita itu namanya Kancil tinggalnya di Padang Tiakar.
De An dan Kancil ini memilih dan memisahkan 12 orang diantara kami mereka diperintahkan tiarap diatas jalan. Dan kami 4 orang yaitu Ramli, M.Djuri,Sama danKasim disuruh terdiri disamping truk.Kemudian kepada tangkapan yang lainnya dikatakan “Kalian kalau mau hidup boleh pulang” Mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu menuju arah Labuh Basilang, tiba-tiba tentara Belanda memberondong pemuda-pemuda yang tiarap itu dengan tembakan. Tidak ada yang berkutik, semua tewas pada saat itu juga. Kami berempat menjadi kecut dan yakin akan mengalami nasib yang sama.
Tetapi kami disuruh mengangkat mayat yang berlumuran darah itu dan diperintahkan melemparkannya ke Batang Agam ditempat air terjun. Setelah semua korban dilemparkan dari atas jembatan ke Batang Agam, maka kami disuruh pulang dan diberi sebungkus rokok Signet.Perasaan kami masih kecut kalau-kalau ditembak dari belakang dan hari pun sudah senja.
Malam hari Belanda tidak berani keluar kota, hanya siang hari mereka mengadakan patroli dan operasi ke negeri-negeri sekitar Payakumbuh. Dalam setiap patroli mereka membawa kaki tangan sebagai penunjuk jalan dan mata-mata. Diantara kaki tangan mereka yang terkenal kejam, selain Cina yang bernama Nyo Lek An alias De An itu ada lagi yang bernama Sastro.Dt.Karayiang, dan Paduko Dewa.
Merekalah yang meberikan informasi orang-orang yang dicurigai dan dianggap anti Belanda. Baik mereka yang ditangkap sewaktu diadakan operasi ataupun terhadap mereka yang ada dalam kota Payakumbuh sendiri.
Belanda semakin mengganas. Mereka yang dicurigai dan ditangkap itu dibawa ke kator ID. Disana mereka disiksa dan dipaksa untuk menceritakan dimana pasukan Republik, berapa jumlah, bagaimana persenjataannya, siapa komandannya. Siapa tokoh pemerintah, dimana mereka berada. Siapa dalam kota ini membentuk Republik atau yang anti Belanda ; serta dihujani dengan berbagai pertanyaan lainnya.
Banyak diantara mereka yang tutup mulut, sekalipun mereka disiksa dengan kejam, dipukul dengan popor senapan, distrom dan sebagainya.Mereka memilih mati dari pada berkhianat kepada Republik Indonesia.Mereka inilah yang kemudian dibawa ke Jembatan Batang Agam. Disinilah mereka ditembak mati.
Ada diantara mereka yang disuruh naik ke atas tembok, berdiri menghadap kearah, lalu mereka diberodong dari belakang jatuh dari ketinggian lebih kurang 8 meter terhempas keras pada tembok batu air terjun. Kemudian mayat mereka dibawa pusaran air, berputar-putar ditempat itu untuk beberapa lama, lalu hanyut dibawa arus ke hilir.
Pembunuhan kejam ini sering dilakukan sore hari menjelang senja, disaat kota mulai sepi, pintu-pintu mulai ditutup, orang tidak berani keluar lagi dan jam malam hampir datang. Ada juga yang dibawa kesana subuh-subuh, seperti yang dialami Khaidar Anwar Dt. Rajo Imbang, (eks anggota DPRD Tk. II Kodya Payakumbuh).
Dia berasal dari kesatuan Singa Harau yang ditangkap pada suatu sore oleh seorang kaki tangan Belanda, orang kampungnya sendiri. Untunglah dia tidak dibawa kekantor ID, tetapi dibawa ke Bivak yang dulunya disebut Benteng, dekat RSU sekarang. Setelah semalam suntuk diintrogasi, subuh paginya dibawa ke Jembatan Agam, diperintahkan jongkok diatas temboknya dan dibawah air terjun menunggu.
Dia sudah siap menghadapi maut dan pasrah kepada Tuhan, tinggal lagi menanti detik-detik pelatuk senapan ditarik. Tetapi Tuhan Maha Kuasa, entah bagaimana memang sebelum ajal berpantang mati, Khaidir Anwar Dt. Rajo Imbang diperintahkan turun dari tembok itu, ia tidak jadi ditembak. Dan entah bagaimana kemudian dia dibebaskan.
Pembunuhan dan kekejaman yang dilakukan Belanda di Jembatan Batang Agam berlanjut bebera-pa bulan lamanya.Sekalipun Roem-Royen Statement telah ditanda tangani pada tanggal 7 Mei 1949 tetapi pengaruhnya tidak terasa di Sumatera Barat. Pertem-puran berjalan terus bahkan leih meningkat.Dan baru berhenti setelah diumumkan Cease fire (Gencatan Senjata) pada tanggal 4 Agustus 1949.
Belanda meninggalkan Payakumbuh pada tanggal 3 Desember 1949, setelah serahterima dengan Pemerintahan RI, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota kembali ke Kota Payakumbuh. Demikian juga para pengungsi, mereka kembali kekota dengan pe-rasaan gembira bercampur haru. Karena banyak di-antara mereka yang kehilangan sanak keluarga, kehi-langan rumah tempat tinggal dan sebagainya. Banyak kampung-kampung yang dibakar Belanda, seperti Koto Nan IV, Ibuah dan Balai Panjang.
Payakumbuh mulai bertambah ramai, banyak orang-orang desa datang ke kota. Dan banyak pula diantara mereka yang sengaja datang untuk mencari anak, suami dan keluarganya yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke kota. Mereka mendapat keterangan bahwa sebagian besar yang ditangkap Belanda, dibunuh di Jembatan Batang Agam.
Mereka datang ke Jembatan itu, namun mereka tidak akan melihat jasad keluarganya yang telah gugur. Hanya di jembatan itu banyak ibu-ibu mencu-rahkan segala kesedihannya. Mereka meratap mena-ngisi keluarga mereka yang telah tiada. Dijembatan itulah segala duka nestapanya dicurahkan, sambil berdo’a kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Demikian peristiwa yang sering dilihat oleh orang lalu lintas di jembatan itu, sehingga akhirnya jembatan itu disebut orang Jembatan Ratapan Ibu.
Untuk mengenang kekejaman Belanda dan perjuangan para pejuang yang di bantai di jembatan ratapan ibu maka dibangun monumen ratapan ibu. Sebuah patung wanita paruh baya mencerminkan seorang ibu yg mengenakkan pakain khas Minang dan menunjuk kearah jembatan seolah-olah menggambarkan kesedihan seorang ibu yang melihat anak dan suami mereka di bantai di jembatan tersebut.
Dari tahun ketahun nama Ratapan Ibu itu tambah melekat pada jembatan Batang Agam. Pada tahun 1959 pada masa Pemerintahan Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota, Insp. Pol.SM.Djoko dalam rangka Peringgatan Hari Pahlawan ke 14 nama Jembatan Batang Agam diresmikan menjadi Jembatan Ratapan Ibu.
(Sumber,catatan Saiful guci.pencinta dan penulis sejarah)