32 C
Padang
Selasa, Juli 23, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Jembatan ratapan Ibu,penghubung jalan,irigasi dan Sejarah anak bangsa
J

Kategori -
- Advertisement -

Payakumbuh,Beritasumbar.com-Sebuah jembatan peninggalan penjajah melintasi Batang Agam dan menghubungkan pasar Payakumbuh dengan Pasar Ibuah. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 40m. Konon Jembatan ini di buat di tahun 1880an. Tiga tahun setelah penjajah Belanda menginjakkan kakinya di Luak limopuluah.

Jembatan ini di bangun tidak menggunakan semen layaknya betonisasi zaman sekarang. belanda menggunakan campuran kapur dan putih telur untuk merekat pasir dengan batuan yang di pasang. Selain berfungsi sebagai penghubung jalan,tapak jembatan ini juga berguna sebagai bendungan irigasi. Belanda membangun pintu air di sebelah atas jembatan.

Irigasi ini mengalir menyisir pusat kota kearah Payakumbuh Utara dan Timur.Ratusan atau mungkin ribuan hektar sawah dialiri irigasi ini. Sampai saat ini irigasi buatan Belanda masih berfungsi dengan baik.Pemko Payakumbuh hanya melakukan perawatan sepanjang jalur irigasi.

Areal pertanian yang di aliri irigasi batang Agam ini merupakan lumbung berasnya Kota Payakumbuh. Dari awal masuknya Belanda sudah memikirkan bagaimana pertanian daerah ini bisa berkembang dan bertahan. Dibalik penjajahan yang di lakukan,Belanda juga sudah menerapkan ilmu pengetahuan negara mereka di daerah ini. Sampai saat ini semua areal pertanian yang di aliri irigasi Batang Agam masih menjadi lumbung padi Kota Biru.

Dibalik manfaat jembatan dan irigasi Batang Agam ini terselip sejarah duka anak bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan di Kota Galamai ini. Puluhan pejuang meregang nyawa di ujung peluru tentara Belanda. Para pejuang di tangkap dan di giring ke atas jembatan batang Agam ini. Dengan tangan terikat dan mata tertutup,para pejuang di jejer sepanjang jembatan. Sang eksekutor Belanda menembak dari arah bawah jembatan. Satu persatu pejuang berjatuhan ke Batang Agam.

Mereka gugur sebagai suhada dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya dari rampasan penjajah. Kisah ini menggugah hati salah satu mantan pejuang yang dulu tergabung dalam Pasukan Mobil Teras(PMT) front Utara H.marlius. Untuk mengenang rekan rekan seperjuangannya yang gugur di jembatan ini,H.Marlius membangun sebuah monumen. Monumen perjuangan ini di serahkan H.Marlius kepada Pemko Payakumbuh untuk dijadikan aset sejarah perjuangan kota Payakumbuh.

Sebuah patung ibu tua yang mengarahkan jari telunjuknya ke dalam Batang Agam dengan Raut muka sedih. Monumen seorang ibu ini menggambarkan kesedihan seorang ibu yang anaknya gugur di jembatan ini dan hilang di bawa aliran air yang deras. Gugur sebagai suhada dengan jasad tak bersua.

Sejarah dan monumen inilah yang akhirnya masyarakat Payakumbuh khususnya dan Sumatera Barat,Indonesia umumnya mengenal jembatan Ratapan ibu. Ratapan seorang ibu yang kehilangan anak di jembatan Batang Agam. Sampai saat ini nama jembatan ini melekat ratapan Ibu.

Sekilas cerita kejadian ratapan ibu

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img