Lima Puluh Kota,BeritaSumbar.com, — Upaya pemulihan pascabencana tanah bergerak di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, mulai menunjukkan hasil melalui keterlibatan mahasiswa dalam program pemberdayaan masyarakat.
Program ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak 2026 yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia dan dilaksanakan oleh Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Sebanyak 50 mahasiswa diterjunkan langsung ke kawasan hunian sementara (HUNTARA) untuk membantu pemulihan ekonomi, lingkungan, dan sosial masyarakat terdampak. Bencana yang terjadi pada akhir 2025 itu mengakibatkan ratusan rumah rusak dan warga kehilangan sumber penghidupan.

Program ini dipimpin oleh Synthia Ona Guserike Afner bersama Dr. Hendra Alfi dan Veronika Sriwulantari dengan pembagian peran sesuai bidang keahlian. Synthia fokus pada pemberdayaan ekonomi dan pertanian, Hendra Alfi pada penguatan produksi dan kapasitas petani, serta Veronika pada pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan sosial masyarakat.
Pada sektor pertanian, dilakukan rehabilitasi lahan, penerapan pertanian adaptif, serta diversifikasi tanaman hortikultura. Lahan yang sebelumnya tidak terkelola kini mulai kembali produktif.
Di sisi lain, pengelolaan lingkungan dilakukan melalui penerapan teknologi TOSS dan pembangunan IPAL sederhana. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara limbah plastik dimanfaatkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
“Kami membangun sistem yang tidak hanya memulihkan, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat ke depan,” ujar Synthia.

Program ini juga mencakup pendampingan psikososial, pembentukan ruang ramah anak, serta revitalisasi posyandu yang sempat terhenti.
Keterlibatan mahasiswa menjadi kunci dalam mendorong partisipasi masyarakat. Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara kampus dan masyarakat mampu mempercepat pemulihan pascabencana secara berkelanjutan.