31 C
Padang
Jumat, Desember 8, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Dilema Generasi Z
D

- Advertisement -

Penulis: Obel SP.MP
Dosen Prodi Agroteknologi Fak Pertanian Unand

Generasi Z atau sebagai gen Z (lahir antara 1996-2012) memiliki kecendrungan untuk mempunyai mental yang lemah. Terdapat banyak orang, khususnya generasi-generasi sebelumnya yang memberi cap mental sensitive. Cap ini terjadi lantaran perhatian dan kesadaran soal kesehatan mental di masa lalu belum seperti sekarang. Saat ini, Gen Z dianggap lebih sadar soal kesehatan mental sehingga negatifnya mereka tak jarang menjadikan kesehatan mental untuk melindungi dirinya. Mental gen Z saat ini memang lebih rentan depresi. Berbagai tantangan dan persaingan yang jauh lebih berat dianggap jadi penyebab utama mental Gen Z disebut lemah.

Saat ini, semakin terbukanya akses social media apalagi dikota-kota besar tidak hanya di dunia diberbagai Negara, di Indonesia hal demikian sudah dapat kita rasakan. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Seperti yang kita ketahui bahwa Gen Z memang tumbuh dan dewasa di era media sosial. Di satu sisi, hal ini memudahkan komunikasi dengan banyak orang diberbagai lokasi dan mendekatkan yang jauh sekalipun. Namun, di sisi lain, dampak negatifnya cukup signifikan bagi kesehatan mental mereka.Saking bergantungnya pada media sosial, Gen Z sering terpaku pada pembaruan konstan  di Instagram, Facebook, dan platform lain. Mereka melihat betapa indahnya kehidupan orang lain melalui postingan foto atau video. Ini adalah sumber depresi, kecemasan, kebencian diri bagi banyak orang akhir-akhir ini. Media sosial juga membuat Gen Z mengalami overstimulasi. Di dunia nyata, mereka telah sibuk dengan pekerjaan, tugas dan PR, tapi fokus mereka juga terbagi pada media sosial. Hal ini dapat menghabiskan sebagian besar sumber daya kognitif mereka, tidak menyisakan sedikit pun untuk fokus pada orang lain dan bahkan diri sendiri.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr.Celestinus Eigya Munthe menjelaskan masalah kesehatan jiwa di Indonesia terkait dengan masalah tingginya prevalensi orang dengan gangguan jiwa. Untuk saat ini Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa.

Dilansir dari tulisan Dr. Lisa Damour, seorang psikolog remaja, ada beberapaa hal yang dapat dilakukan perawatan diri dan menjaga kesehatan mental, diantaranya yaitu .

1.     Menyadari bahwa cemas itu wajar

Para psikolog sudah lama menyadari bahwa kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri’

2.    Mencari kondisi alternative sebagai  pengalihan

ketika kita berada dalam kondisi yang sangat sulit, akan sangat membantu untuk mengenali masalah menjadi dua kategori: Hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.Saat ini ada banyak hal yang jatuh pada kategori kedua, dan itu tidak apa-apa. Tapi satu hal yang bisa membantu kita untuk menghadapi situasi tersebut adalah dengan mencari pengalihan untuk kita sendiri. Mengerjakan PR, menonton film kesukaan, atau membaca novel sebelum tidur dapat menjadi solusi pelampiasan dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

3.    Merancang cara komunikasi yang hangat

Bermedia social dengan bijak menjadi cara komunikasi yang baik dalam menmukan teman-teman sefrekuensi. Cara ini akan menuntun kamu untuk dapat mengekplore kreativitasmu, namun disadari juga, harus bijak yah

4.    Fokus pada diri sendiri

Fokus pada diri sendiri dan mencari cara untuk memanfaatkan waktu tambahan yang kamu dapatkan adalah cara yang produktif untuk menjaga kesehatanmu.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img