26 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Bimbingan dan Konseling Dalam Masyarakat Multibudaya Serta Penerapannya di Sekolah Oleh: Elfithri Rahmadia, S.Psi (Guru MAN 1 Solok)
B

Kategori -
- Advertisement -

Pengetahuan terhadap suatu budaya merupakan suatu hal yang  penting dalam proses kehidupan manusia secara umum. Kehidupan manusia yang majemuk, baik ditinjau dari segi pendidikan, sosial, ekonomi dan juga politiknya. Hal tersebut menjadi penting dalam menjalani kehidupan suatu kelompok ataupun suatu bangsa.

Meskipun begitu, keaneka ragaman yang ada juga dapat menjadi sebuah faktor yang dapat  menunjang dalam kehidupan di masyarakat, akan tetapi juga bisa menjadi kendala dan penghambat yang dapat menimbulkan konflik antar sesama. Hal ini penting bagi seorang konselor untuk dapat memiliki pemahaman tentang keberagaman tersebut.

Belakangan ini, terdapat banyak alasan untuk memahami kebudayaan dari perspektif keragaman budaya. Tidak terkecuali bagi dunia psikologi, saat ini semakin terdorong memperhatikan keragaman manusia. Di antaranya dengan daya sosial yang sedang terjadi sekarang ini adalah perubahan demografi masyarakat secara keseluruhan yang semakin pluralistik serta multikultural.

Hal ini menuntut setiap orang dapat mengenali, memahami dan menghadapi keragaman yang ada saat ini, agar ia dapat bertanggung jawab di dalam masyarakat saat ini. Seiring waktu yang mendekati zaman milenial dan teknologi, banyak perubahan dan isu sosial yang semakin penting, semakin luas dan perlu untuk dihadapi. Dengan demikian, budaya tidak sama dengan kebangsaan (nasionalitas).

Matsumako (2008) mengakui bahwa budaya merupakan konsep yang sulit didefinisikan. Sedangkan Margaret Mead, Ruth Benedict dan Geer Hopstede mendefinisikan budaya sebagai sekumpulan sikap, nilai perilaku dan keyakinan bersama yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa.

Konseling multi budaya menurut Von Tress, ia menyatakan dimana konselor dan kliennya adalah berbeda secara budaya, karena sosialisasi berbeda dalam memperoleh budayanya, sub kultur, racial ethnic, atau lingkungan sosial ekonomi. Sementara APA (Sue, dkk 1982) menjelaskan konseling multi budaya sebagai hubungan konseling dimana dua atau lebih peserta berbeda berkenaan dengan latar belakang budaya, nilai-nilai, dan gaya hidup.

Konseling multi budaya meliputi situasi yang mana, antara konselor dan klien adalah individu minoritas tetapi dari kelompok minoritas berbeda, konselor ialah seorang minoritas, tetapi klien sebaliknya. Konselor dan klien sesuai rasnya, secara etnis serupa. Namun, memiliki keanggotaan kelompok budaya berbeda berdasarkan variable jenis kelamin, orientasi seksual, faktor sosial ekonomi, orientasi religious, atau usia, dan lainnya.

Ada hal yang penting bagi kita untuk tidak menyederhanakan konsep multi budaya. Pada tingkatan tertentu, budaya dapat dipahami sebagai “cara hidup seseorang atau sekelompok orang.” Dalam setiap usaha memahami kata “cultur” merupakan keharusan untuk menggunakan kontribusi yang dibuat oleh disiplin keilmuan sosial yang khusus menjelaskan serta memberikan pemahaman terhadap berbagai budaya yang berbeda, yaitu antropologi sosial.

Sebuah riset antropolgi sosial selalu mengambil pandangan yang meyatakan bahwa bersikap adil terhadap kompleksitas sebuah kultur hanya dimungkinkan dengan hidup di dalamnya untuk waktu tertentu, dan melaksanakan serangkaian observasi  sistematik dan seksama terhadap cara anggota dari budaya tersebut membangun dunia yang mereka kenal melalui cara seperti hubungan darah, ritual, mitologi, serta bahasa.

Konseling lintas budaya (cross-culture counseling) mempunyai arti suatu hubungan konseling dalam mana ada dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai-nilai dan gaya hidup (sue et al dalam Suzette et all 1991; Atkinson, dalam Herr, 1939).

Perihal lintas budaya dalam bimbingan dan konseling adalah bagaimana seorang konselor bisa efektif melakukan konseling dalam suatu kelompok yang memiliki budaya beragam. Setiap orang yang berbeda dalam budaya yang berbeda dengan dirinya, maka ada beberapa pengalaman yang dipahami oleh orang lain, misalnya bahwa setiap budaya memiliki kerangka referensi yang berbeda, lingkungan yang tidak sama, latar belakang orang berbeda dan system nilai berbeda pula.

Oleh kerena itu, seorang konselor yang ada dalam suatu kelompok yang multi budaya harus memiliki mindset lintas budaya, di antaranya seorang konselor harus memiliki kelenturan dan mampu beradaptasi (Flexibility and adaptibility), toleransi dan kesabaran (tolerance and patient), rasa humor (a sense of humor), keinginan untuk mengetahui secara intelektual dan sosial (intellectual and social curiosity), kepercayaan pada diri sendiri dan kontrol diri (Self Confidance and control), kemampuan untuk berkomukasi (ability to comunication)

Adanya beberapa kendala yang akan dihadapai dalam konseling multi budaya, yaitu: penguasaan bahasa, yang mana bahasa merupakan sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan pikiran dan perasaan.

Nilai merupakan kecenderungan mengenai kelebihan yang didasarkan pada konsepsi tertentu, yaitu hal yang diinginkan serta disukai orang banyak yang berkenaan dengan baik/buruk, patut/tidak patut, pantas/tidak pantas. Strereotip merupakan pendapat yang disederhanakan, dan tidak disertai penilaian/kritikan (Brown et al, 1988).

Stereotip juga merupakan generalisasi mengenai orang-orang dari kelompok lain, dimana seseorang memberi pengertian terlebih dahulu baru kemudian mengamat. Stereotip menjadi kendala konseling karena terbentuk secara lama sehingga sulit untuk diubah lagi, dan menjadi pola tingkah laku yang berulang-ulang.

Hal itu merupakan hasil dari belajar, sehingga semakin lama semakin susah berubah. Kelas sosial muncul karena latar pendidikan, pekerjaan, kekayaan, penghasilan, dan perilaku orang tersebut  mengeluarkan uang. Situasi yang menjadi kendala ialah seperti tingkat perbedaan pengalaman antara konselor dengan klien, persepsi dan wawasan mereka terhadap dunia. Konselor dari kelas sosial menengah mungkin kurang paham terhadap kebiasaan konseli dari kelas sosial tinggi/rendah.

Kendala selanjutnya adalah ras, yang mana pengolongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik, rumpun bangsa. Sedangkan suku merupakan masyarakat yang tergabung dalam satu kelompok. Perbedaan dari suku yang menjadi kendala dalam konseling lintas budaya karena masing-masing suku memiliki kebiasaan, falsafah hidup, dan nilai yang berbeda-beda selain itu golongan minoritas terkadang disamarkan oleh golongan mayoritas.

Perbedaan jenis kelamin sudah menjadi perbincangan sejak zaman dahulu, perbedaan jenis kelamin mempengaruhi konseling, karena terkadang konselor laki-laki mempunyai stereotip terhadap perempuan yang bersifat kurang mandiri, kurang tegas, dan kurang berani mengambil resiko. Konselor perempuan terkadang menganggap laki-laki tidak boleh cengeng dan tegas.

Namun, jika dalam proses konseling baik laki-laki atau perempuan menampakkan sikap yang tidak sesuai dengan gender mereka, maka terkadang konselor menganggap suatu hal yang aneh dan salah.

Setiap individu memiliki tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan untuk melaksanakan tugas perkembangan dan mematuhi berbagai kebutuhan tersebut. Setiap tahapan usia mempunyai nilai-nilai budaya usia masing-masing. Hal itu terkadang menjadi sebuah masalah dalam pelaksanaan konseling karena adanya perbedaan kebutuhan, kebiasaan, gaya hidup dan nilai budaya tertentu dalam setiap rentangan usia.

Kendala lainnya usaha-usaha yang dilakukan orang untuk mengatasi masalah seksualitasnya merupakan isu yang lazim menjadi bahan kajian dalam konseling. Itu perihal mengakui sebuah perasaan seksual, menyerap perasaan-perasaan itu ke dalam dan membentuk citra diri seseorang, dan membuat keputusan tentang bagaimana bertindak atas dasar perasaan dan jati dirinya.

Pengaruhnya terhadap layanan bantuan konseling ialah jika suatu saat terdapat klien yang mengalami kasus berkenaan dengan preferensi seksual, hal ini akan menghambat konseling karena kemungkinan konselor tidak memiliki pemahaman akan nilai-nilai klien tersebut.

Gaya hidup dapat dibagi menjadi gaya hidup tradisional dan gaya hidup alternatif. Pengaruhnya terhadap layanan bantuan konseling yaitu terkadang gaya hidup seseorang sulit untuk diterima dan dimengerti oleh konselor.

Keadaan orang cacat merupakan penghambat dalam pelaksanaan konseling karena kondisi tersebut mempengaruhi perilaku, sikap, kepekaan perasaan, dan reaksi terhadap lingkungan. Contoh, seorang klien yang memiliki cacat fisik dianggap konselor sebagai individu yang rapuh, tidak ada harapan, penuh penderitaan, frustasi serta perasaan ditolak

Keragaman konseli merupakan sesuatu yang harus disadari oleh konselor sekolah. Perbedaan dan keragaman tidak hanya ada pada perbedaan  etnis/ suku, tetapi juga pada setiap perbedaan karena jenis kelamin, bahasa, latar belakang sosial ekonomi, pendidikan orang tua, aliran atau paham keyakinan yang dimiliki. Perkembangan dinamis komunitas konseli tersebut berdampak pada konselor sekolah.

Keragaman mengakibatkan kebutuhan layanan konseling yang beragam pula. Konselor ditantang mampu untuk menyediakan layanan yang beragam sebagaimana perbedaan dan keragaman budaya konseli. Menghadapi keragaman konselor sekolah perlu mengubah persepsi mereka, belajar tentang konseling dan konsultasi terhadap beragam populasi, mencukupkan diri dengan pengetahuan tentang budaya lain, tentang bentuk rasisme dan mampu berperan sebagai ikon perubahan sosial.

Keragaman konseli menuntut konselor sekolah untuk menunjukkan seluruh keterampilan profesional dan kualifikasi yang dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan konseli. Pendidikan dan pelatihan peningkatan kesadaran, pengetahuan serta keterampilan konseling di antaranya adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan keterampilan pengungkapan diri (self -disclosure) terhadap beragam konseli yang semakin dibutuhkan.

Editor: Fitria

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img