BeritaSumbar.com,-Seorang bapak adalah tulang punggung keluarga yang harus cari nafkah untuk istri dan anak-anak dan demi kelangsungan hidup. Begitu pula yang di lakukan oleh seorang bapak terhadap 8 orang anaknya bersama seorang istri yang selalu setiap mendampingi nya dalam suka maupun duka.

Bapak ini bernama Sawir Nazar, beliau adalah anak dari Bapak Nazar dan ibu bernama Minsan, beliau lahir bertepatan dengan tanggal 12 April 1942. Bapak ini bersaudara 8 orang dari 2 ibu yang berbeda, saudara laki-laki 2 orang dan perempuan 6 orang.

Dari semua saudara ini hanya bapak Sawir inilah yang lebih dikenal masyarakat. Bapak ini mulai membuka usaha wiraswasta beliau sejak tahun 1960. Beliau seorang yang ulet dan tekun dalam bekerja, apapun pekerjaan dia lakukan, mulai dari berbengkel menambal ban sepeda, mengelas, menjahit sepatu, jaket, tas dan lainya. Semua keterampilan itu di dapat hasil belajar dari sekolah beliau di STM dan pengalaman dari merantau beliau kenegeri orang di Pekanbaru dan Medan.

Bapak Sawir ini menikahi seorang wanita dari sebuah kampung Parambahan di kelurahan Latina pada tahun 1965. Istri beliau bernama Sunarti yang lahirnya bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945.

Dari pernikahan itu lahirlah delapan orang anak yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Nama anak yang paling besar atau sulung adalah Hendri Sawir, ST, MM, Hendra Susanti,S.P, M. Budi Arman AMd, Fitri Susanti, S.Si. APT, Kurniawan S.S ing.M.Pd, Delramiati, S.Pd, Linofrianti, A.Md dan si bungsu Eva Kurniati, S.E.

Dengan jumlah anak yang tidak sedikit ini beliau bersama istri tercinta saling bekerja sama dalam membesarkan buah hati mereka. Walaupun jumlah anak yang banyak tidak membuat istri mengeluh dalam membesarkan dan merawat anak. Si istri sering sakit-sakitan dan sering berobat ke rumah sakit tidak hanya di Payakumbuh sampai ke Bukittinggi dengan dokter spesialis penyakit dalam.

Kebersamaan sepasang suami istri ini tidaklah lama karena ajal menjemput istri terlebih dahulu, meninggal istri pada tahun 1986 saat itu umur istrinya 42 tahun. Anak yang di tinggalkan yang paling besar baru kelas 2 SLTA, yang paling kecil umur 6 tahun akan masuk TK. Tinggallah bapak dengan 8 orang anak yang masih butuh kasih sayang dan perhatian dari sosok ibu. Jadilah bapak serang single parent bagi anak-anak, tanpa berlama beliau bersedih hati beliau bangkit untuk menyelamatkan semua anak-anak tanpa dibantu oleh sanak saudara istri maupun dari pihak saudaranya.

Walupun anak delapan orang yang masih kecil-kecil bapak ini mendisiplinkan cara hidup pada anak-anak sesuai dengan usia anak. Setiap anak di beri tanggungjawab pada diri dan adik-adik mereka yang masih kecil. Kakak perempuan yang membimbing adik yang masih kecil, mulai dari mempersiapkan bangun, mandi, ke sekolah, pakaian dan semua masalah makan semua anggota keluarga.

Kedispinan orangtua yang mendidik anak sejak kecil, tanggungjawab terhadap tugas masing-masing. Setiap anak ada tugas sesuai umurnya, karena bapak adalah seorang wiraswasta yang bergerak di bidang jasa, beliau mengajarkan kepada anak-anak kepandaian yang beliau miliki untuk bekal masa depan anak-anaknya. Karena dia sudah membayangkan akan susahnya kehidupan ini kalau tidak ada bekal keterampilan selain dari pendidikan. Dari kecil anak sudah bisa bekerja membantu bapak seperti mengisi angin ban atau menempel bojor – bojor tenda truk / fuso yang diperbaiki di bengkel papa anak perempuan dibekali dengan menjahit dan ilmu perbengkelan juga di wariskan kepada anak laki- lakinya.

Selain menyekolahkan anak-anak ke jenjang yang lebih dari sekolah beliau dan istri hanya tamatan SLTA, beliau juga memberikan ilmu ketermpilan bekal hidup anak-anak setelah dewasa seandainya tidak dapat kerja jadi pegawai. Bapak ini bisa menyekolahkan dan sanggup menjadikan anak-anak kuliah / sampai keperguruan tinggi jadi sarjana, tanpa dibantu oleh orang lain.Hanya beliau dan anak-anak yang saling mengerti kesusahan hidup orang tua.
Hasil usaha dan doa bapak ini membawa hasil menjadikan anak lulusan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang ada di Sumatera Barat dan Medan. Beliau dapat menghadiri setiap wisuda anak-anaknya, walaupun tidak ada lagi pendamping hidupnya untuk berbagi kebahagian.

Beliau dapat menunaikan ibadah haji dan menikahkan anak yang terakhir sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya, Beliau sempat di rawat di RS di Payakumbuh dan dirujuk ke RS Bukittinggi. Beliau meninggal pada Tahun 2014 tepatnya tanggal Bapak ini meninggalkan pusaka yang sangat berharga, ilmu dan keterampilan yang sangat berguna terutama bagi anak – anak kandung juga anak angkat yang didik dan diasuh juga dilatih keterampilan di bengkel yang di kelola beliau.

Pada saat meninggalnya beliau banyak yang merasa kehilangan sosok beliau karena beliau orang yang pandai bergaul, banyak relasi dan langganan dan kenalan, ramah dan panutan oleh saudara dan kerabatnya.

Bapak Sawir itu adalah orangtua kami,berkat beliaulah yang mengajarkan hidup sangat disiplin, keras dan sederhana dan selalu mendoakan kami agar kami dapat hidup layak dan merobah nasib hidup yang lebih baik.

Sekarang kami anak-anak anaknya alhamdulillah telah berhasil mendapatkan pekerjaan, walaupun masing-masing dah ditentukan oleh Allah SWT jalan hidup, tapi kami tetap bersyukur, anak-anak beliau ada yang jadi Dosen, jadi Apoteker, jadi pengusaha / pedagang, kerja di RS, jadi wiraswasta menggantikan dan melanjutkan kerja papa dan juga ada jadi guru. Semoga beliau merasa senang di alam sana dengan melihat anak-anaknya seperti sekarang begitu juga dengan ibunda.

Perjungan seorang bapak tanpa malu dan rendah diri berusaha untuk menghidupi 8 orang anak walaupun banyak lika liku kehidupan yang mengganggu dan cobaan hidup, beliau tetap yakin dan optimis sanggup menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi seperti anak orang yang berkecukupan hidupnya.

Prinsip hidup beliau 10 jari lebih baik mencari / mengakeh, dari pada menampung / menengadah pada orang lain tanpa usaha. Tidak perlu malu dan gengsi bekerja apapun selagi halal karena kita tidak maling.(ul)

loading...