spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Datang ke Sawahlunto, Mencari Jejak Leluhur dan Warisan Kolonial
D

Kategori -
- Advertisement -

Pada usia 65 tahun, Maut Van Ommen menelusuri jejak keluarganya di bekas kota tambang batu bara Ombilin. Ia menemukan nama-nama leluhur, bangunan yang berubah fungsi, dan sejarah kolonial yang tak mudah ia banggakan.

SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com — Rumah leluhurnya sudah lama hilang. Yang tersisa di Sawahlunto hanya sebuah pompa bensin tua, sejumlah nama dalam dokumen, dan bangunan yang menyimpan sejarah tambang batu bara. Pada usia 65 tahun, Maut Van Ommen datang dari Belanda untuk menelusuri jejak keluarganya. Ia menemukan sesuatu yang lebih rumit daripada silsilah, warisan kolonial yang membuatnya terharu sekaligus gelisah.

Maut datang bersama suaminya, Antoni Miranda, 63 tahun. Mereka menempuh perjalanan darat dari Medan menuju Sawahlunto setelah mendarat di Indonesia. Ini kunjungan pertama mereka ke negeri yang pernah menjadi tempat kelahiran Maut.

Tujuannya bukan sekadar menikmati kota tua atau menyusuri peninggalan pertambangan. Ia ingin menemukan kembali keluarganya: kakek, nenek, ayah, ibu, serta kerabat yang pernah hidup di kota kecil di pedalaman Sumatera Barat itu.

Sebagian leluhurnya pernah bekerja di Tambang Batu Bara Ombilin pada masa Hindia Belanda. Sebagian jejak mereka masih tersimpan dalam dokumen. Sebagian lainnya mungkin tinggal nama di batu nisan.

Di Sawahlunto, Maut memperoleh kesempatan membuka kembali halaman sejarah keluarganya yang selama puluhan tahun terlipat jauh dari kehidupannya.

Sebuah dokumen berisi daftar nama orang Belanda yang pernah bekerja, menetap, meninggal, atau kembali ke negeri asal menjadi salah satu pintu masuk penelusurannya. Dari lembar-lembar itu, ia menemukan sejumlah nama yang memiliki hubungan dengan keluarganya.

Nama-nama tersebut bukan lagi sekadar catatan administratif. Di hadapannya, dokumen itu menjelma penghubung antara masa kini dan kehidupan orang-orang yang telah lama meninggal.

Ada kegembiraan. Ada keharuan. Ada pula perasaan asing ketika masa lalu yang sebelumnya jauh tiba-tiba terasa dekat.

“Saya mulai banyak membaca tentang masa lalu Indonesia setelah merencanakan perjalanan untuk menelusuri kembali sejarah keluarga ini. Sebelumnya, saya tidak terlalu memedulikan Indonesia, meskipun saya lahir di sana,” katanya.

Maut memang lahir di Cirebon. Namun, ketika usianya baru dua bulan, ia dibawa ke Belanda. Di negeri itulah ia tumbuh, mengenal bahasa dan kebudayaan, serta membangun pengertian tentang rumah.

Indonesia menjadi tempat kelahiran yang nyaris tak memiliki ruang dalam pengalaman masa kecilnya. Hingga perjalanan ke Sawahlunto membuatnya bertanya kembali: seberapa jauh tanah kelahiran ikut membentuk dirinya?

Nama keluarga dan hierarki kolonial

Sekitar 35 tahun lalu, Maut mulai mempelajari lebih jauh sistem kelas sosial di Hindia Belanda. Ia menemukan kenyataan yang mengusiknya, asal-usul, keturunan, dan identitas Eropa dapat menentukan kedudukan seseorang dalam tatanan masyarakat kolonial. Nama keluarga menjadi salah satu petunjuk yang membawanya memahami kerumitan itu.

“Leluhur saya, baik dari pihak ayah maupun ibu, memiliki nama keluarga Belanda atau Eropa, meskipun ada darah Indonesia-nya,” ujarnya.

Kedua orang tuanya, kata Maut, berkulit gelap, tetapi tetap memegang kewarganegaraan Belanda.

Baginya, kenyataan itu memperlihatkan betapa identitas seseorang tidak selalu dapat dibaca hanya dari penampilan fisik. Ia juga memperlihatkan bagaimana kolonialisme membentuk batas-batas sosial yang menentukan posisi manusia di tengah masyarakat.

Maut tidak menyukai sistem tersebut.

“Saya tidak suka perbedaan kelas sosial seperti itu,” katanya.

Penelusuran keluarga di Sawahlunto pun bergerak melampaui urusan silsilah. Ia tidak hanya ingin mengetahui siapa leluhurnya, di mana mereka tinggal, atau pekerjaan apa yang mereka lakukan. Ia juga berusaha memahami dunia yang memungkinkan keluarganya hidup dan bekerja di sebuah kota tambang di bawah pemerintahan kolonial.

Di balik rumah-rumah tua, jalur kereta api, dan bangunan perkantoran, ada sejarah mengenai siapa yang memegang kekuasaan dan siapa yang harus tunduk kepadanya.

Bagi Maut, warisan arsitektur tidak dapat dipisahkan dari hubungan sosial yang melahirkannya.

Di antara darah Belanda dan tanah Indonesia

Maut menyadari bahwa sejarah Hindia Belanda bukanlah kisah yang seluruh bagiannya pantas dikenang dengan kebanggaan. Ada ketimpangan, penguasaan, dan pengalaman manusia yang meninggalkan luka panjang.

Ia tidak mengetahui secara lengkap bagaimana leluhurnya menjalani kehidupan di Sawahlunto. Namun, gagasan bahwa satu bangsa merasa berhak mengatur bangsa lain merupakan sesuatu yang sulit diterimanya.

Masa lalu itu, bagi Maut dan Antoni, adalah dunia yang berbeda. Dunia yang ingin mereka pahami dengan jarak yang lebih tenang, tanpa menutup mata terhadap apa yang terjadi.

“Manusia membutuhkan perdamaian dan saling menghargai satu sama lain,” katanya.

Identitas Maut sendiri terbentuk dari banyak akar. Ia menyebut keterkaitan keluarganya dengan Indonesia, Belanda, Inggris, Belgia, Jerman, Swiss, dan Tiongkok, bahkan kemungkinan Taiwan serta sejumlah negara lain.

Secara fisik dan genealogis, ia merasa memiliki hubungan kuat dengan identitas Indisch, sebutan bagi identitas yang tumbuh dari percampuran sejarah dan kebudayaan Hindia Belanda.

Namun, ketika berbicara tentang dirinya, Maut memberikan penegasan “Yang terutama, saya adalah orang Belanda, karena itulah negara dan budaya tempat saya dibesarkan.”

Pengakuan itu tidak serta-merta menyelesaikan kegelisahannya. Ia tetap mempertanyakan bagaimana seharusnya seseorang menyikapi warisan kebudayaan yang sebagian sejarahnya bertaut dengan kolonialisme.

Apakah ia harus menjauh dari warisan tersebut? Atau menerimanya sebagai bagian dari sejarah keluarga, sembari mengakui ketidakadilan yang pernah menyertainya? Pertanyaan itu belum menemukan jawaban final

Ombilin, lebih dari sekadar tambang batu bara

Sawahlunto menyediakan konteks yang membuat pertanyaan Maut semakin nyata. Kota ini tumbuh dari kegiatan pertambangan batu bara yang dikembangkan pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.

Ombilin bukan hanya tambang yang menghasilkan batu bara. Ia merupakan bagian dari sistem industri terpadu yang menghubungkan lokasi penambangan, kota perusahaan, jalur kereta api, dan fasilitas pelabuhan.

Pada 2019, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini memperlihatkan perpaduan teknologi pertambangan Eropa dengan pengetahuan lokal sekaligus merekam perubahan sosial yang menyertai pengembangan industri batu bara pada masa kolonial.

Di balik keberhasilan teknis sistem tersebut, terdapat sejarah tenaga kerja yang berlapis. Para pekerja Minangkabau, pekerja kontrak dari Jawa dan Cina, serta orang-orang hukuman yang dikenal sebagai orang rantai menjadi bagian dari sejarah pertambangan itu.

Maut mengetahui sebagian leluhurnya bekerja sebagai pengawas. Mereka berada dalam posisi yang memungkinkan mereka mengawasi para pekerja tambang.

“Leluhur saya sebagian besar bekerja sebagai pengawas, meskipun saya tidak sepenuhnya yakin mengenai kakek saya. Mereka memegang kendali atas para pekerja,” katanya.

Ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana para leluhurnya menjalankan kewenangan tersebut.
“Mungkin dengan cara yang tidak terlalu ramah.”

Ada pula kisah keluarga lain yang belum sepenuhnya terang. Ayah tiri neneknya, menurut penelusuran yang ia ketahui, kemungkinan merupakan pekerja kontrak yang mengalami kehidupan berat di lingkungan pertambangan.

Kisah itu membuat sejarah keluarganya tidak bisa disederhanakan menjadi cerita tentang orang Belanda yang datang, bekerja, lalu pulang ke Eropa.

Di dalamnya mungkin terdapat posisi yang berbeda, pengalaman yang bertentangan, serta hubungan antarmanusia yang tidak seluruhnya dapat dipulihkan hanya melalui dokumen.

Maut belum memiliki semua jawabannya. Namun, ia memahami bahwa sejarah Ombilin perlu diceritakan secara utuh, termasuk pengalaman orang-orang yang bekerja di bawah sistem kolonial.

Mencari rumah yang sudah tidak ada

Selama berada di Sawahlunto, Maut dan Antoni mendatangi sejumlah tempat yang menyimpan jejak pertambangan. Mereka mengunjungi Kerkhof Belanda, Situs Lubang Tambang Batubara Soero, Museum Gudang Ransoem, dan Museum Kereta Api.

Bagi wisatawan, tempat-tempat tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan menyusuri warisan sejarah Sawahlunto. Bagi Maut, kunjungan itu memiliki arti yang lebih pribadi.

Ia juga menelusuri kawasan Saringan, tempat keluarga besarnya pernah bermukim. Lokasi itu berada tidak jauh dari sebuah pompa bensin peninggalan Belanda.

Rumah tempat leluhurnya dahulu tinggal sudah tidak ada. Berdasarkan penelusuran keluarga yang dibawanya, bangunan tersebut dibongkar dan digantikan bangunan permanen sekitar 1982.

Tidak banyak yang tersisa untuk membayangkan bagaimana kehidupan keluarga itu berlangsung lebih dari seabad silam. Hanya pompa bensin tua yang masih menjadi penanda.

Benda itu barangkali tidak memiliki kemegahan seperti bangunan kolonial yang kini dilindungi atau dijadikan objek wisata. Namun, bagi Maut, keberadaannya justru penting karena menghubungkan cerita keluarga dengan ruang yang nyata.

Di sana, sejarah tidak hadir sebagai rentetan tanggal dalam buku. Ia muncul melalui sebuah tempat yang pernah dihuni, digunakan, dan ditinggalkan manusia.

Rumahnya telah hilang. Penghuninya telah lama pergi. Tetapi sebuah benda tua masih bertahan, menyisakan kemungkinan untuk mengingat.

Semalam di bangunan masa lalu

Pengalaman paling personal lainnya menunggu Maut di sebuah bangunan bersejarah yang kini menjadi hotel.

Bangunan yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan kerja leluhurnya telah berubah fungsi menjadi Saka Ombilin Heritage. Maut dan Antoni menginap satu malam di sana.

Perubahan fungsi bangunan itu mempertemukan dua masa dalam satu ruang: sejarah pertambangan kolonial dan kehidupan kota yang kini mengembangkan warisan sejarah sebagai bagian dari pariwisata.

Bagi Maut, bermalam di bangunan tersebut menghadirkan perasaan yang berbeda dari sekadar mengunjungi museum.

Ada kedekatan yang sulit dijelaskan. Ia berada di tempat yang memiliki hubungan dengan kehidupan keluarganya, meskipun tidak semua detail masa lalu itu diketahui.

“Terlepas dari segalanya, ada pula nuansa romantisme di dalamnya,” katanya.

Ia mengakui bahwa melihat hal-hal yang berkaitan dengan leluhurnya membangkitkan emosi.
“Tentu saja, hal itu membangkitkan emosi dalam diri saya.” Ungkapnya lagi.

Romantisme itu bukan berarti ia melupakan sisi gelap kolonialisme. Justru di situlah kerumitan perjalanannya: ia dapat terharu oleh jejak keluarga sekaligus mempertanyakan sistem yang memberi leluhurnya tempat dalam masyarakat kolonial.

Ia dapat menghargai bangunan bersejarah tanpa harus membenarkan seluruh sejarah yang berlangsung di dalamnya. Bagi Maut, dua hal itu tidak selalu harus dipertentangkan.

Sejarah yang tidak harus dibanggakan

Maut tidak menyembunyikan perasaan campur aduknya terhadap peninggalan Belanda di Indonesia. Ia tidak merasa bangga terhadap sejarah kolonial negaranya, tetapi juga tidak ingin warisan yang tersisa diabaikan.

“Saya tidak merasa bangga terhadap ‘kita’, orang-orang Belanda. Di saat yang sama, saya sangat menghargai keberadaan sisa-sisa sejarah Belanda di sini,” ujarnya.

Pernyataan itu menempatkan warisan sejarah pada wilayah yang lebih rumit daripada sekadar kebanggaan nasional atau penyesalan.

Bangunan tua, terowongan tambang, stasiun, dan jalur kereta api merupakan bukti material dari perjalanan sejarah. Namun, keberadaannya tidak menghapus pengalaman manusia yang membentuk sejarah tersebut.

Bagi Sawahlunto, tantangannya adalah menjaga warisan itu tetap hidup tanpa menghilangkan konteksnya. Pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan dinding, atap, mesin, atau rel. Kisah para pekerja dan hubungan sosial di balik pembangunan industri itu juga perlu disampaikan.

Maut berharap pemerintah dan masyarakat Sawahlunto terus merawat bangunan tua serta aset warisan pertambangan yang masih tersisa.

Ia memperkirakan akan semakin banyak orang Belanda yang datang untuk melihat peninggalan tersebut. Sebagian mungkin wisatawan, sebagian peneliti, dan sebagian lainnya keturunan keluarga yang ingin menemukan kembali asal-usul mereka.

Harapan itu menjadikan pengalaman pribadinya relevan bagi kota yang kini merawat sejarah pertambangan sebagai warisan dunia.

Sawahlunto bukan semata-mata tempat orang datang untuk melihat masa lalu. Kota ini juga dapat menjadi ruang bagi orang-orang yang ingin memahami bagaimana sejarah memengaruhi identitas keluarga, masyarakat, dan hubungan ant bangsa.

Perjalanan yang belum selesai

Sehari semalam di Sawahlunto belum cukup bagi Maut untuk menuntaskan penelusurannya. Ia dan Antoni masih akan melanjutkan perjalanan ke Jawa tempat keluarga dari pihak ibunya pernah memiliki hubungan kehidupan. Cirebon, kota kelahirannya, juga menjadi tujuan berikutnya. Namun sebelum menuju Cirebon mereka main dulu ke Kota Kerinci.

Masih ada nama yang harus dicari, cerita yang perlu diperiksa, dan bagian sejarah keluarga yang belum dipahami.

“Saya masih akan menuju Jawa, tempat asal keluarga ibu saya dan tempat kelahiran saya, Cirebon. Masih banyak hal yang harus saya renungkan dan pahami,” katanya.

Maut bahkan membuka kemungkinan bahwa pandangannya terhadap warisan Belanda di Indonesia akan berubah setelah seluruh perjalanan itu selesai.

Barangkali itulah yang membuat pencarian sejarah keluarga berbeda dari perjalanan wisata biasa. Tujuannya tidak selalu berupa jawaban yang pasti. Terkadang, semakin jauh seseorang menelusuri masa lalu, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Maut datang ke Sawahlunto untuk menemukan leluhurnya. Ia memang memperoleh sejumlah nama dan tempat yang menghubungkannya dengan kehidupan keluarga pada masa kolonial. Namun, ia juga menemukan sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam silsilah: pergulatan tentang identitas dan tanggung jawab dalam mengingat sejarah.

Darah Belanda membawanya pergi dari Indonesia ketika ia masih bayi. Enam puluh lima tahun kemudian, ia kembali ke tanah kelahirannya untuk mencari tahu dari mana sebagian dirinya berasal.

Ia tidak pulang untuk menetap. Setidaknya, bukan itu tujuan perjalanan kali ini. Ia datang untuk melihat, mendengar, dan memahami.

Mungkin pada akhirnya sejarah tidak meminta setiap keturunan memilih antara bangga dan malu. Sejarah hanya menuntut keberanian untuk melihat masa lalu secara utuh—termasuk bagian yang membanggakan, bagian yang menyakitkan, dan bagian yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img