spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Empat Tahun Pasca Kebakaran GPK Sawahlunto Ditarget Berfungsi Lagi 1 Desember 2026, Revitalisasi Capai 70 Persen
E

Kategori -
- Advertisement -
SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com – Empat tahun setelah dilalap api, Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto mulai kembali menunjukkan bentuk lamanya. Proses revitalisasi bangunan bersejarah itu kini mencapai sekitar 70 persen dan ditargetkan rampung sebelum akhir 2026.

Manager pelaksana PT Guna Cipta Kreasi (GCK), Erwanto, mengatakan pekerjaan revitalisasi ditargetkan selesai setelah adanya addendum waktu. Gedung tersebut selanjutnya direncanakan diserahkan kepada PT Bukit Asam Tbk pada 1 Desember 2026, bertepatan dengan hari jadi ke-138 Kota Sawahlunto.

“Progresnya sudah mencapai 70 persen. Direncanakan setelah addendum waktu, pekerjaan siap diserahkan ke PT Bukit Asam Tbk untuk selanjutnya difungsikan pada hari jadi Kota Sawahlunto 1 Desember 2026,” kata Erwanto kepada Beritasumbar.com, Jumat, 14 Agustus 2026.

Revitalisasi GPK tidak sekadar memperbaiki bangunan yang rusak akibat kebakaran. Pekerjaan dilakukan dengan mempertahankan karakter bangunan lama yang masuk kawasan cagar budaya.

Erwanto mengatakan struktur baru harus disesuaikan dengan konstruksi bangunan lama. Struktur baja, misalnya, dibuat dengan mempertimbangkan bentuk dan kondisi struktur sebelumnya.

“Pekerjaannya harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena ini bangunan cagar budaya.Bagian-bagian konstruksinya harus diperhatikan dan disesuaikan dengan struktur lama,” ujarnya.

Salah satu kendala muncul ketika proyek membutuhkan genteng kodok, jenis genteng yang digunakan pada bangunan lama. Genteng tersebut kini tidak mudah diperoleh karena sebagian besar pabrik yang memproduksinya sudah berhenti beroperasi.

Menurut Erwanto, pihaknya akhirnya mendapatkan genteng dari satu pabrik yang masih memproduksi jenis tersebut di Jawa Tengah.

Pengadaannya pun tidak sederhana

Genteng kodok dibuat melalui proses pembakaran menggunakan gas sehingga menghasilkan warna yang relatif merata. Kenaikan harga bahan bakar ketika pemesanan dilakukan turut meningkatkan biaya pengadaan.

“Genteng kodok ini diproses melalui pembakaran menggunakan bahan bakar gas, bukan sekam atau kayu. Warnanya jadi merata dan hidup, tetapi biayanya tentu bertambah,” kata dia.

Revitalisasi GPK merupakan bagian dari satu paket pekerjaan dengan penataan ruang hijau Lapangan Segitiga yang berada di depan Saka Ombilin Heritage Hotel. Berbeda dari pola ruang publik yang tertutup, kawasan tersebut dirancang tanpa pagar sesuai arahan Pemerintah Kota Sawahlunto.

Penataan Lapangan Segitiga juga ditargetkan selesai pada 1 Desember 2026.

Dari Societeit Gluck Auf hingga Gedung Kebudayaan

GPK merupakan salah satu bangunan yang merekam sejarah pertambangan Ombilin. Bangunan itu didirikan pada masa Hindia Belanda sekitar 1910 dengan nama Societeit Gluck Auf.

Istilah “Gluck Auf” merupakan salam yang dikenal di kalangan penambang Jerman, yang kurang lebih bermakna harapan keselamatan dan kesuksesan bagi para penambang.

Pada masa tambang Ombilin berkembang, gedung tersebut menjadi tempat pertemuan dan berkumpul para pejabat pertambangan serta kalangan elite Eropa di Sawahlunto.

Fungsinya berubah setelah Indonesia merdeka. Gedung itu sempat digunakan untuk kegiatan hiburan, rumah biliar, kantor Koperasi Ombilin, Bank BDN, hingga gedung pusat kebudayaa

Bangunan tersebut juga pernah disewakan untuk pesta pernikahan dan berbagai kegiatan seminar dan pertemuan lainnya. Kini di revitalisasi dengan biaya senilai Rp 22,5 miliar.

Namun sejarah panjang itu sempat terhenti pada 3 November 2022. Kebakaran akibat dugaan korsleting listrik menghanguskan bagian gedung ketika di kawasan Kubang sedang berlangsung lomba durian.

Kini, empat tahun setelah kebakaran, bangunan tua tersebut kembali direkonstruksi dengan tantangan mempertahankan jejak masa lalunya. Jika target revitalisasi tercapai, GPK akan kembali digunakan pada momentum hari jadi Sawahlunto ke-138.

Bagi kota yang identitasnya bertumpu pada sejarah tambang Ombilin, kembalinya GPK bukan sekadar soal menghidupkan sebuah bangunan lama. Ia juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan ruang yang pernah menjadi saksi perubahan Sawahlunto dari kota tambang menjadi kota warisan budaya.***
- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img