Payakumbuh, BeritaSumbar. com,- Sejak terbentuk pada tahun 1970, Kota Payakumbuh belum mengantongi ikon daerah yang permanen, ternyata. Walhasil, kota yang tengah berkembang ini tidak memiliki identitas diri hingga sekarang.
Menyikapi kondisi yang begini ini, maka Pejabat Walikota Payakunbuh, Rida Ananda, menggelar pertemuan dengan para Ketua KAN, tokoh masyarakat, alim ulama, ninik mamak, seniman, budayawan, dan sejumlah jurnalis, sejumlah para pimpinan organisasi perangkat daerah serta para camat se Kota Payakumbuh, di Agamjua Cafe, Selasa (1/11) sore.
Dari pertemuan tersebut, sejumlah masukan digulirkan. Antara lain, soal tapal batas, pembangunan gerbang kota, termasuk memperhatikan soal budaya serta isu-isu sosial.
Sehubungan dengan upaya menerima masukan tentang ikon daerah, Rida Ananda mencatat beberapa pendapat, baik dari unsur tokoh masyarakat, unsur KAN, budayawan, penulis, dan dari kalangan jurnalis.
Salah seorang tokoh masyarakat, yang juga mantan anggota DPRD kota itu, Asmadi Thaher, mengatakan, ikon daerah yang bakal ditetapkan hendaknya bisa memancing daya tarik para wisatawan untuk berkunjung ke Kota Payakumbuh.
Katanya, Payakumbuh kini makin dikenal sebagai kota kuliner, sehingga banyak pengunjung dari daerah lain yang datang baik siang maupun malam hari.
Sementara Sas Usually, salah seorang yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut, mengusulkan supaya kota kuliner dijadikan sebagai ikon daerah ini. “Sebab, kuliner sekarang ini telah menjadi gaya hidup masyarakat kita, tersebab dalam kehidupan kuliner sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Lainnya, hanya kegiatan kuliner yang bisa berkait dengan upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat secara luas. Sebab dari kegiatan kuliner ini bisa digerakkan roda perekonomian masyarakat,” ujar Sas.
Selepas pertemuan, kepada media ini Sas menyebutkan bahwa kalau pun ada, misalnya produk-produk lain yang berhubungan dengan makanan, serupa rendang, batiah, itu hanya menjadi salah satu bagian dari kuliner. Begitu pula dengan kegiatan lainnya seperti pacu itik, orientasi belum berpihak benar kepada upaya peningkatan perekonomian masyarakat secara luas. Artinya, hanya segelintir orang saja yang baru bisa menikmati manfaat dari lomba pacu itik tersebut.
Kuliner bisa digunakan untuk pelbagai kegiatan, misalnya, wisata kuliner, seni kuliner, bahkan pendirian kursus atau sekolah yang mangajarkan tentang kuliner, dan pendirian jurnal kuliner.
“Kita berharap ikon daerah ini mampu menyentuh masyarakat banyak,” ulas Sas. “Maka itu, saya mengusulkan bagaimana kalau ikon Kota Payakunbuh adalah kota kuliner. Karena kuliner bisa jadi identitas budaya,” tandasnya.
Menurut Rida, hasil pertemuan di Agamjua Cafe akan dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya dalam beberapa pekan mendatang. Semoga, kata Rida, dari pertemuan mendatang itu telah bisa diperoleh jawaban dari pertanyaan tentang apa sih ikon Kota Payakumbuh? (sas)