Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com. – Penguasa identik dengan wibawa tinggi, susah ditemui dan susah dihubungi oleh masyarakat biasa. Namun tak begitu halnya dengan Wabup Kabupaten Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan yang sehari – hari akrab dipanggil ‘Buya’ oleh siapa saja, baik itu pejabat, pemuda hingga masyarakat biasa boleh memanggilnya dengan sapaan ‘Buya’ tersebut.

Tanpa kenal waktu dan tanpa memandang siapa pun, sosok Buya tersebut selalu bersedia ditemui atau menemui siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Dari urusan remeh temeh hingga urusan penting, hampir tak pernah di cancelnya. Pembaca tentu saja boleh komplain, bila ada undangan yang tak terpenuhi, atau bila Sang Penguasa ini tak bisa ditemui.
Penulis sendiri, sejak urusan beasiswa untuk kuliah (tahun 2016), urusan proposal acara remaja mesjid, acara futsal dan serangkaian acara Tan Malaka hingga menjadi saksi nikah selalu dihadirinya. Alhamdulillah, padahal penulis hanyalah masyarakat biasa, namun begitulah real testimoni yang ada.
Tidak hanya itu, untuk urusan dagangan bagi pelaku UMKM. Wabup Ferizal Ridwan selalu menyediakan tempat bagi produk – produk Limapuluh Kota dan biasanya, diakhir acara ia akan memborong semua dagangan bersama tamu – tamunya.
Selalu mewakafkan diri bagi masyarakat menjadikan wibawa Ferizal Ridwan melambung, ketulusan hatinya tak dapat diukur dengan materi apa pun, kecuali dengan kata terima kasih. Sebab setiap ada peristiwa, Wabup Ferizal Ridwan lah yang datang ke lokasi terlebih dahulu. Sebut saja masalah kedatangan pekerja cina ke Manggani, perihal ikan mati di Batang Maek dan sekarang ini musibah banjir di Limapuluh Kota, Wabup Ferizal Ridwan hadir memberikan bantuan dan perhatian kepada daerah yang terdampak bencana.

Wabup Ferizal Ridwan benar – benar bukti bahwa ‘memimpin itu menderita,’ baginya hidup susah sudah biasa. Hingga sudah menjadi Wakil Bupati selama 4 tahun, ia tak pernah lupa siapa – siapa saja yang telah berjuang bersamanya dari waktu muda.
Tak khayal bila rumah dinasnya sendiri pun bak rumah singgah, siapa saja masyarakat yang datang boleh makan dan nginap seperti di rumah sendiri. Buya paham betul rumah dinas adalah uang dari rakyat, harus kembali ke rakyat. Begitu juga dengan fasilitas – fasilitas lain, seperti mobil dinasnya yang pernah menolong ibu yang akan melahirkan.
Kita tentunya tak ingin kehilangan sosok seperti Wabup Ferizal Ridwan, Sang Buya yang low profile dan sosok yang baik untuk diajak curhat (menyurahkan isi hati) menyelesaikan sejumlah masalah. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang tak bersalah. Namun pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa diajak bicara, menyelesaikan sejumlah masalah. Ayo kita melawan lupa!
Penulis : Fadli Riansyah Putra