24 C
Padang
Sabtu, Juni 22, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Ubi Kayu Langka, Industri Makanan Kerupuk Terancam Tutup
U

Kategori -
- Advertisement -

Pengusaha industri kerajinan makanan kerupuk di Payakumbuh, pusing tujuh keliling. Produksi mereka anjlok pesat, dari biasanya berproduksi 1 ton per hari, kini hanya berproduksi sekitar 3.500 Kg per hari. Langkanya bahan baku ubi kayu, penyebab utama terjadinya penurunan produksi. Jika kondisi ini tetap berlanjut, tidak tertutup kemungkinan industri makanan khas Kota Batiah ini terancam tutup.

Vinna, pemilik Dapur Sanjai Oviga di Kelurahan Tanjung Pauh, Payakumbuh Barat, 2013, menginformasikan, dalam dua bulan terakhir produksinya anjlok tajam, dari biasanya 800/Kg per hari, turun menjadi 300 Kg/hari.  Vinna mengaku, untuk mendapatkan ubi kayu tersebut ia punya langganan lima toke, yang mengambil ubi dari daerah Limapuluh Kota dan Sinjunjung. “Kami tak bisa menambah permintaan, karena ubi kayu itu sendiri yang langka,” tambahnya.

Vinna tidak sendiri, keluhahan yang sama juga dirasakan oleh Rina, pengusaha sanjai dan karak kaliang yang berlokasi di Kelurahan Bulakan Balai Kandi, Payakumbuh Barat.  Menurut Rina, dampak dari langkanya ubi kayu, membuat usahanya jadi menurunkan produksi sampai 200%. “Biasanya, kami mampu berproduksi sanjai dan karak kaliang, total 700 Kg/hari. Tapi, sekarang hanya sekitar 250 Kg/hari, ungkapnya.

Kedua pengusaha muda ini berharap,kiranya Pemko ikut mengintervensi petani untuk menanam singkong serta menjamin harga  pasar. Dengan harga ubi kayu Rp2.200/Kg, diperkirakan akan membuat  petani bergairah kembali menanam singkong.  Sementara, ubi yang sudah dikubak, harganya juga lumayan tingi, Rp3.500/Kg. Padahal, akhir Desember lalu, disaat ubi kayu cukup tersedia, harganya hanya Rp500 sampai Rp600/Kg.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Payakumbuh, melalui Kabid Tanaman Pangan Holtikultura, Ir. Wal Asri, ketika dihubungi, Senin (21/4), menginformasikan, keterbatasan ubi kayu di kota ini, karena keterbatasan lahan yang tidak sebanding dengan permintaan ubi kayu. Menurutnya,  luas tanam selama setahun pada 2013, hanya berjumlah 278 hektar dengan total produksi 8.340 ton/tahun. Sementara, permintaan pengusaha diperkirakan mencapai 50 ton per hari.

Pihaknya, dikatakan, hanya bisa mengajak petani untuk menanam ubi kayu, sambil mensosialisasikan teknik bertanam yang baik dalam rangka peningkatan produksi. Selama ini, tambahnya, kekurangan produksi ubi kayu itu, disuplai dari sejumlah kabupaten tetangga, seperti Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Sijunjung dan Dharmasraya.

Menurut  Wal Asri, biasanya petani beralih menanam ubi kayu ke tanaman lain, kalau harga ubi kayu terlalu murah di pasaran, sehingga ongkos  tanam tak sesuai dengan hasil produksi.  Untuk itu, perlu duduk semaja antara petani melalui kelompok tani dengan pengusaha, untuk mencari solusi jaminan produksi ini. “Kita optimis, jika harga ubi kayu lebih baik, petani akan kembali membuka kebun ubi kayu,” simpulnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img