Travelling Di Masa Pandemi: Catatan Perjalanan Seorang Diaspora Minang

Saya melakukan perjalanan dari Padang ke Amsterdam, melalui rute Padang – Jakarta – Doha – Schiphol (Indonesia, Qatar, dan Belanda). Saya memulai penerbangan dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang berlokasi di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia. Sebelum penerbangan, semua calon penumpang harus menjalani tes bebas Covid-19 yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Terhitung cepat jika tidak dihitung waktu antriannya. Hasil tes bebas Covid-19 tersebut berlaku dan valid selama 14 hari.

Sampai di Jakarta, kalau belum melapor ke web Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, maka ada petugas yang akan membagikan form berwarna kuning, “Kartu Kewaspadaan Kesehatan”. Petugas tersebut yang langsung mengisikan data saya dan selesai dalam dua menit. Setelah itu maka bebas untuk masuk ke Kota Jakarta. Sayapun langsung menuju ke rumah adik saya untuk temu kangen sebentar.

Setelah itu, sayapun melanjutkan perjalanan dari Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk penerbangan ke Amsterdam, Belanda. Di Bandara Soeta, sebelum memasuki ruang tunggu atau boarding room, saya mendapat pembagian di pelindung wajah atau face shield yang wajib dipakai selama penerbangan. Sesampainya di dalam pesawat, saya juga mendapatkan pembagian paket sanitizer, dan sebagainya. Ketika tiba jam makan, seperti biasanya, saya menikmati hidangan yang tersedia. Menu makanan ala Qatar, menurut saya enak. Saya pun memilih omelet telor.

Pesawat yang saya tumpangi sangat lega, susunan bangkunya adalah 3 – 3 – 3. Toilet di dalam pesawat selalu bersih. Bahkan ketika saya akan masuk dan ada orang yang baru keluar dari toilet, maka saya pun ditahan oleh personil atau awak pesawat. Pramugari mengecek langsung apakah toilet sudah siap pakai. Menurut saya, pelayanannya bagus. Rancak bana!

Perjalanan dari Jakarta ke Doha menempuh waktu selama delapan jam. Selama menempuh perjalanan, saya menghabiskan waktu untuk menonton film, bercakap-cakap dengan penumpang lain yang baru saya kenal, membaca buku, dan memantau perkembangan di media sosial seperti Facebook dan WhatsApp, dan sebagainya. Pesawat Qatar Airways menyediakan Wi-Fi gratis untuk penumpang. Selain itu, tentu saja saya juga makan dan minum serta tidur dengan santai.

Salah satu yang menjadi perhatian dan ingatan saya adalah ketika perjalanan bersama anak saya yang berusia dua tahun. Terutama ketika dia merengek untuk minta main sepeda dan keluar dari pesawat. Penerbangan yang jauh dan memakan waktu lama membuat anak-anak merasa cepat jenuh. Di pesawat, bisa menggambar dan menonton film kesukaan mereka sangat membantu untuk menenangkan.

Oya, penerbangan saya kali ini adalah untuk kembali berkumpul dengan keluarga saya di Belanda. Setelah saya pulang kampung sebentar ke Sumatera Barat, untuk bertemu dengan keluarga besar di kampung. Selama di Padang, saya sempat menjadi salah satu narasumber Seminar Online Koperasi Mandiri Dan Merdeka/KMDM (SemOK – 1) untuk berbagi pengalaman menjadi pengusaha kuliner di negara lain. Sebelum berangkat, saya mendaftarkan diri menjadi Anggota KMDM. Oleh Ketua KMDM, diterima sebagai anggota ke – 42, dan ditugaskan secara khusus menjadi Duta KMDM di Eropa.

(Amsterdam, 16 Juli 2020)

Catatan Editor:
Erita Mursyid Lubeek (Uni Ita) berasal Koto Panjang, Taluak, Batang Kapeh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia. Pemilik restoran Minang pertama di Eropa, yakni Salero Minang, didirikan pada tahun 2011. Restoran ini berada di Prins Hendrikstraat 150a, 2518HX Kota Den Haag, tidak jauh dari Kantor Biro Republik Indonesia (KBRI) Den Haag.

Sebelumnya, pada 2005, Uni Ita membuka usaha dengan berjualan kaki lima di Pasar Blaak, Rotterdam. Uni Ita menjual makanan ringan dan bumbu-bumbu asal Indonesia, usaha tersebut berjalan hingga akhirnya memberanikan diri membuka restoran pada 2011. Melayani pesanan masakan Padang ke berbagai negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, dan Belgia.

Dalam wawancara khusus jarak jauh dengan Editor (16/07/2020, 19.05 – 19.35 WIB), Uni Ita menyampaikan bahwa restorannya sudah ditutup terhitung sejak Januari 2020. Alasannya karena lokasi yang selama ini dipakai kecil dan bangunan yang ditempati sangat tua. Selain itu, Den Haag bukanlah kota yang ramai dikunjungi oleh para turis. Uni Ita berencana memindahkan restorannya dengan nama yang sama ke Kota Amsterdam yang menjadi pusat kunjungan turis di Belanda.

Meskipun restorannya ditutup dan tempatnya dijual, Uni Ita terus melanjutkan bisnis kulinernya dengan membuka katering dan mengisi berbagai iven yang ada di sana. Semua makanan dimasak di rumahnya di Kota Schiedam.

“Ditunggu di Belanda ya, harus cek lapangan dulu sebelum mengekspor berbagai produk dari Sumatera Barat”, demikian disampaikannya di akhir wawancara.

Oleh: Erita Lubeek (Diaspora Indonesia di Belanda)
Editor: Virtuous Setyaka (Ketua KMDM)

loading...