23 C
Padang
Kamis, Oktober 28, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

TRANSISI KEHIDUPAN REMAJA: PERANG & MENANG
T

Kategori -
- Advertisement -

Artikel Berseri:

Seribu Asa untuk Bahagia

(ABSAB)

#Seri 11/1000cerita

“TRANSISI KEHIDUPAN REMAJA: PERANG & MENANG”

Oleh : H. Nofrijal, MA

Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama (PUMA)IV-e

————————————————————————————–

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Union) telah merumuskan transisi remaja dalam “life-span” mereka. Transisi hidup remaja adalah peralihan masa yang dipenuhi dengan visi, persepsi, aksi dan kolaborasi untuk memberi ruang dan jalan menuju orang dewasa yang sukses. Kelima transisi yang melekat pada remaja adalah (1) Transisi Sekolah, (2) Transisi Bekerja, (3) Transisi Hidup Sehat, (4) Transisi Berkeluarga, dan (5) Transisi Hidup Bermasyarakat.

Penduduk usia remaja 10-24 tahun berjumlah lebih kurang 27 % dari populasi Indonesia sebesar 270 juta (hasil sensus penduduk tahun 2020). Persentase penduduk remaja perkotaan diperkirakan sebesar 30 % sementara remaja pedesaan sebesar 25 %. Ini menjadi salah satu tantangan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dalam menyediakan sarana pra sarana, pembangunan system dan pemerataan pendidikan yang berkuaitas, kesempatan kerja dan pelayanan kesehatan remaja.

1/5 Transisi Sekolah

Sekolah atau pendidikan formal adalah faktor penentu peradaban dan kemajuan suatu bangsa, hak dan kewajiban untuk sekolah adalah universal dan bagian dari pemenuhan hak-hak asasi manusia. Pada pembentukan manusia oleh Yang Maha Esa, manusia sebagai khalifah, membangun dan merekayasa bumi dan isinya, sekolah adalah persiapan bagi manusia menjadi cerdas dan menghasilkan karya.

Sekolah secara klasik sudah ditentukan durasi dan masa tempuhnya, pendidikan pre-school diberikan dalam bentuk Pendidikan Anak Usia Dini selama lebih kurang 2-3 tahun, kemudian masuk ke taman-kanak kanak (TK) lebih kurang 2 tahun. Ini adalah pendidikan anak usia dini untuk mengenali dan memantau tumbuh kembang anak bayi di bawah lima tahun (BALITA) selama “golden age” mereka.

Remaja yang didefinisikan oleh “United Nation” berusia 10 s/d 24 tahun, memiliki transisi sekolah sampai dengan perguruan tinggi. Inilah waktu emas bagi “remaja-youth” untuk membentuk struktur kualitas hidup melalui pendidikan, pemilihan jurusan dan kota pendidikan, pemilihan kecendrungan sesuai dengan bakat dan kemampuan, pemilihan sekolah yang favorit atau biasa, pemilihan antara pendidikan umum, vocasional dan boarding school, serta begitu mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi kompleksitas transisi menjadi lebh tajam karena mempertimbangkan pasar kerja, kemampuan finansial dan pengaruh teman. Sering terjadi pertentangan dan perang psikologis antara orang tua dan anak serta anggota keluarga lainnya.

Transisi sukses bidang sekolah adalah anak tidak putus sekolah; anak menikmati usia sekolahnya tanpa ada tekanan kerja lingkungan; anak dapat memutuskan prospek cita-cita dan harapan; anak dapat menghiasi transisi sekolahnya dengan bermain; anak mendapat porsi dan waktu mengembangkan bakat seni, olahraga dan sosial; dan anak dapat lebih memperkaya khazanah pengetahuan teknis dan non teknis.

Pergaulan dan interaksi teman sebaya “peer group” terjadi di era transisi ini, kegagalan dalam memilih teman bisa membawa fatalistik kegidupan. Pergaulan hidup yang tanpa direncanakan memiliki resiko dan akan menjadikan remaja keluar dari “track” cita-cinta mereka. Harapan pemanfaatan bonus demografi dalam usia mereka untuk 10-20 tahun ke depan berada pada tansisi sekolah generasi muda.

2/5 Transisi Bekerja

Tidak perlu menunggu “wisuda, commencement”, seorang remaja mesti sudah diperkenalkan dengan dunia kerja, mengembangkan bakat dan minat yang potensial menjadi kekuatan dunia kerja. Lihat, di beberapa negara barat Amerika dan Eropa dibuka “summer job” bagi anak-anak sekolah, tujuannya bukan sekedar kenikmatan mendapatkan “salary” akan tetapi lebih kepada pengenalan dunia kerja bagi remaja, kampus memperkerjakan mahasiswanya yang berasal dari keluarga “poor background” dan “first generation come to campus” demikian juga swalayan gerai supermaket memperkerjakan orang-orang yang masih di bangku sekolah, walaupun mereka mengambil “day off” untuk waktu tertentu di “summer season”. Tidak jauh-jauh, sebuah “lesson learned” yang diberikan oleh nenek-kakek moyang yang memperkenalkan “ life entrepreneur” kepada generasi baru masa lalu, para remaja muda bekerja sambil melatih diri dengan menjajakan kue-kue harian, diajak mengolah sawah dan berkebun, menggembalakan ternak, menacing ikan untuk dijual, menjahit dan sejenisnya.

Bekerja adalah sumber mata pencaharian. Pendapatan per-capita penduduk akan menjadi tolok ukur kemakmuran suatu bangsa. Suatu priode kepemerintahan mendapat kepuasan tinggi atau rendah sangat tergantung kepada jumlah & persentase tingkat penggangguran. Penelusuran minat dan motivasi kerja dimulai dari usia 10, kemudian diikuti perkembangannya selama masa sekolah dan kuliah, sehingga tamatan pendidikan memperoleh jenis dan tempat pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan potensi, baik untuk peluang layanan jasa dan industri, kontruksi, engineer, pertanian dan seterusnya. Pendidikan vokasional yang diawali dengan penelusuran bakat dan kecendrungan anak, dilanjutkan dengan pemberian pendidikan keterampilan dan melakukan pemagangan kerja, serta internalisasi.

3/5 Transisi Hidup Bergaya Sehat

Ini adalah transisi yang “sensitive and future effect”. Gaya hidup sehat remaja “healthy life style” akan menentukan tingkat kesehatan dan kebugaran masa depan. Remaja yang berkomitmen dan membangun gaya hidup sehat seperti menghindari konsumsi NARKOBA; menghindari prilaku seksual menyimpang; gemar berolahraga; pola makan yang sehat; time management yang baik; serta hidup dalam lingkungan yang harmonis secara psikis dan sosial, bukti empiris mereka akan terhindar dari bahaya penyakit degeneratif.

Penyakit yang muncul pada usia dewasa bahkan di usia tua sekalipun disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat usia remaja. Sosok remaja yang adiktif dengan minuman-minuman keras, remaja yang tidak peduli dengan asupan nabati dan hayati yang sepadan, serta remaja yang perokok berat akan menjadi penderita penyakit-penyakit penyerta ketika sudah dewasa dan tua. Penyakit degeneratif di usia dewasa dan tua dipicu oleh gaya hidup tidak sehat di usia transisi sehat remaja dapat berupa penyakit jantung “kardiovaskuler”; osteoporosis; diabets; hipertensi; kanker; dan sejenisnya.

BKKBN dalam program pembinaan remaja, telah menempatkan 5 prilaku tidak sehat remaja yang mesti dihidari pada usia usia 10-24 tahun, program ini dipekenalkan dengan sebutan GENRE (Generasi Berencana). SALAM GENRE! Prilaku tidak sehat remaja itu ada 5, adalah (1) Menikah di bawah umur atau di usia anak (di bawah 19 tahun); (2) Prilaku seksual menyimpang, melakukan hubungan seks pada usia dan cara yang tidak tepat, (3) Akses dan kecanduan Narkoba; (4) Akses dan kecanduan pornografi; (5) Terinfeksi dan tergolong ODHA (Orang dengan HIV & AIDs).

4/5 Transisi Hidup Berkeluarga

Transisi hidup berkeluarga adalah fase seseorang untuk disiapkan memasuki jenjang hidup berkeluarga atau yang lebih dikenal dengan “siap nikah”. Kesiapan nikah bagi calon pasangan meliputi kesiapan anatomis dan fisiologis, alat reproduksi terutama perempuan; Kesiapan mental psikologis untuk memulai hidup berbeda, memulai hidup mandiri dan terlepas dari dependency orang tua dan keluarga; kesiapan sosial dan ekonomi untuk menopang hidup berkeluarga, ini menyangkut sandang-papan dan pangan. Ini adalah priode esensial bagi siklus kehidupan manusia, di periode transisi ini perhatian dititik beratkan pada masalah pernikahan anak, atau pernikahan di bawah umur yang dahulu dekenal dengan pernikahan dini remaja. Effect pernikahan usia anak telah membawa konsekwensi berbahaya bagi kehidupan dewasa, mengancam upaya penurunan angka kemiskinan, angka kematian ibu hamil dan bersalin, mengancam kelahiran anak stunting dan mengancam kesejahteraan negara di masa depan.

5/5 Transisi Hidup Bermasyarakat

Success stories” seseorang dalam dunia politik; hubungan kerja; relasi bidang sosial dan bidang ekonomi menjadi tiang kedewasaan dan kesuksesan seseorang dalam bermasyarakat. Pemahaman dan sekaligus praktik “daily life” terhadap dunia global, demokratisasi, pluralisme, toleransi, gotong royong menjadi  taruhan sukses generasi kedua. Hidup dalam era digital dan teknology menyongsong puncak bonus demografi, transisi hidup bermasyarakat di lingkupi dengan kemampuan berinovasi, produktifitas dan kompetitiveness yang ketat baik secara nasional maupun dalam tatanan global.

Masalah-masalah kepemimpinan juga di bangun pada transisi hidup bermasyarakat, kepanduan Pramuka, Forum Generasi Berencana, Forum Anak Indonesia dan organisasi pembelajaran untuk “character building” lainnya memegang peran sentral melengkapi hasil persekolahan “hard skill” remaja melalui sistem pendidikan formal dengan soft skill yang yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Selamatkan remaja dalam menjalani transisi hidupnya yang panjang dan punya tantangan.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img