25.1 C
Padang
Minggu, Juli 25, 2021
Beritasumbar.com

Tjokro, Hijrah dan Narasi yang Disembunyikan
T

Kategori -

Ditulis oleh: Erwyn Kurniawan

Tadi malam akhirnya saya berkesempatan menonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto bersama istri dan beberapa konco. Sejak karya besutan Garin Nugroho ini ramai digunjingkan, saya memang mengazzamkan diri untuk menyaksikannya. Bukan untuk mengkritisinya, karena sehebat apapun manusia pasti hasil buatannya tak sempurna, meski itu Garin sekalipun, sutradara bercita rasa Piala Citra. Saya justru penasaran dengan kabar soal kentalnya warna Islam, sesuatu yang mengejutkan mengingat berita seliweran di dunia maya soal Garin yang katanya berideologi liberal. Dan saya mendapatkan jawabannya dari komentar istri yang duduk di sebelah saya ketika film baru tayang kurang dari seperempat durasi.

“Ayah, kok beda ya?” tanya istri.

“Apanya yang beda?” saya balik bertanya.

“Enggak seperti yang kita pelajari saat sekolah. Waktu kita SD, SMP terus SMA kayaknya Sarikat Islam (SI) itu identik dengan komunis. Tjokroaminoto itu orang kiri,” ujar istri sambil matanya terus menatap layar besar dihadapannya yang menampilkan adegan Tjokro berkali-kali mengucap kata hijrah.

Istri saya benar. Dan saya begitu yakin ada jutaan orang yang memiliki pemahaman sejarah seperti istri saya. Bahwa Sarikat Islam cikal bakal komunis. Bahwa SI hanya melahirkan tokoh-tokoh kiri semacam Muso dan Semaoen. Bahwa Tjokro adalah bapak pendukung sosialisme dan komunisme di Tanah Air.

Ya, penulisan sejarah Tjokroaminoto dengan SI nya memang berkutat seputar sosialisme dan komunisme. Jika kita mau rajin membuka buku-buku sejarah, sangat mudah menemukan tulisan yang mengaitkan Tjokro dengan kedua isme di atas. Atau cobalah cari di google, maka kata sosialisme selalu ada di setiap pencarian tentang sosok Tjokro.

Misalkan tulisan Sastrawan dan filsuf yang kerap menulis tentang Islam dan pluralisme yakni Abdul Hadi W. M. Di situs www.serbasejarah.wordpress.com, dalam artikelnya yang berjudul Islam, Sosialisme dan Persoalan Marxiisme di Indonesia, ia tanpa ragu menulis bahwa sosialisme religius telah dianjurkan sejak awal abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Tjokroaminoto pada tahun 1905 (bukunya Islam dan Sosialisme). Kata Hadi, Tjokroaminoto memandang sistem kapitalisme yang dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia merupakan bentuk dari “Kapitalisme Murtad”, sekali pun sistem ini menurut Max Weber lahir dari buaian agama Protestan, yaitu madzab Calvinis.

“Kirinya” Tjokro tak tergambar di filmnya. Kita justru menemukan sebuah narasi baru yang sama sekali tak muncul di teks-teks sejarah. Narasi yang selama ini seperti disembunyikan. Narasi itu adalah hijrah dan iqro. Khusus kata hijrah, berkali-kali muncul dalam film: di awal, pertengahan hingga akhir.

“Hijrah…kemana engkau akan membawaku?” Tanya Tjokro (Reza Rahadian) di adegan pembuka.

“Kalau hijrah satu-satunya jalan, maka aku akan hijrah,” ucap Tjokro kepada istrinya Soeharsikin (Putri Ayunda).

Berkali-kali Tjokro memang berhijrah untuk menuntaskan kegelisahannya melihat penindasan penjajah Belanda kepada pribumi. Setelah menjadi pegawai perkebunan, ia pindah ke Semarang untuk menemukan makna hijrah seperti apa yang akan diwujudkan bangsa ini. Lalu ia pindah lagi ke Surabaya dan bekerja pada surat kabar. Sementara istrinya membuat batik sekaligus mengurusi rumahnya yang dijadikan kos-kosan. Rumah Paneleh, nama kos-kosan tersebut, dihuni oleh pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh-tokoh berpengaruh seperti Agus Salim (Ibnu Jamil), Semaoen (Tanta Ginting), dan Soekarno (Deva Mahenra). Di sinilah Tjokro mendirikan Sarekat Islam dan menjadikannya sebuah organisasi besar.

Kentalnya nilai Islam kian terasa saat tembang Lir Ilir dinyanyikan. Menariknya, running text yang ditampilkan berisikan makna dari syair lagu tersebut. Nuansa pergerakan Islamnya makin menguat.

Lir ilir, lir ilir. Tandure wis sumilir
Bangun, bangunlah (dari keterpurukan). Saatnya telah tiba

Tak ijo royo-royo tak sengguh kemanten anyar
Panji Islam mulai berkembang, menarik hati semua orang

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai para pemuda, amalkan Islam dengan benar

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodo iro
Meski berat perjuangan, tetaplah terus berbuat (amal), untuk menyucikan jiwamu

Dodotiro, dodotiro kumitir bedahing pinggir
Saat pakaian (akhlakmu) terkoyak

Domdomona jlumatono kanggo sebo mengko sore
Perbaikilah, sempurnakanlah (Islammu), demi masa depan (akhirat)

Mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane
Senyampang usiamu masih muda, selagi masih ada kesempatan

Yo sorak ooooo, sorak hiyooo
Hingga kita temui kebahagiaan

Pemaknaan syair Lir Ilir ini seakan ingin menguatkan pesan film ini tentang hijrah yang harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh. Dan Garin sepertinya ingin para penonton menangkap ruh film ini dengan memberikan dialog Tjokro dan Agus Salim jelang akhir film.

“Dan Aku Agus Salim akan berhijrah bersama Tjokroaminoto.”

Lalu diikuti kalimat hijrah terakhir Tjokro di film ini:

“Satu-satunya cara berhijrah adalah dengan setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid.”

Akhirnya, saya harus mengatakan bahwa film ini layak ditonton. Karena ini bukan sekadar film sejarah yang mengobati kerinduan akan hadirnya sosok-sosok pemimpin sekelas Tjokro di masa kini, tapi lebih dari itu. Garin melalui filmnya ini akan membuat persepsi sejarah kita “hijrah”: dari yang semula mengidentikkan Tjokro dengan sosialisme menjadi Tjokro yang Islamis. Persis seperti yang dialami istri saya saat menyaksikan film ini di bioskop tadi malam.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Peringatan HUT IAD, Kejari-IAD Sijunjung Tabur Bunga Ke Makam Pahlawan

Sijunjung, beritasumbar.com - Dalam Rangka Peringatan HUT Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) ke 21 Tahun 2021, Kejaksaan Negeri Sijunjung beserta pengurus IAD setempat melaksanakan Ziarah...
- Advertisement -

Bupati Sijunjung Buka Kegiatan Gebyar PKH Cinta Vaksin

Sijunjung, BeritaSumbar.com,- Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir membuka secara resmi kegiatan Gebyar PKH Cinta vaksin Nagari Tanjung Gadang, Kecamatan Tanjung Gadang, Senin (19/7).

Paket Tender Solok Selatan Rp299,2 juta Tanpa Ada Penawar

Padang Aro, beritasumbar.com - Satu paket tender di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Pagu dan Rp299,2 juta dinyatakan gagal karena tidak ada penawaran...
- Advertisement -

Kapolres Sijunjung Pimpin Gelar Patroli Skala Besar Pembagian Bansos Malam Ini

Sijunjung, BeritaSumbar.com,--Dalam rangka menggelar Patroli Skala Besar Pembagian Bansos pada malam hari ini Kamis malam, sesuai dengan Instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada seluruh Polda dan Polres se-Indonesia untuk menggelar Apel dengan dilanjutkan melakukan patroli skala besar pembagian bantuan sosial (bansos).

HUT Adhyaksa, Ini Capaian Kinerja Kejari Sijunjung

Sijunjung, beritasumbar.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Sijunjung, Sumatera Barat meraih beberapa keberhasilan dalam menggungkap berbagai kasus dan penyelamatan uang negara, sedikitnya ada Rp.4,5 miliar...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mengenal Politik Praktis & Pragmatisme

Dalam praktik perebutan maupun mempertahankan sebuah kekuasaan Politik Praktis dan Pragmatisme seolah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan, khususnya di negara Demokrasi seperti Indonesia.

Filosofi Lidi

Dari filosofi pohon kelapa yang sangat banyak manfaatnya, bahkan hampir seluruh bagian tanaman kelapa tersebut memberi manfaat untuk kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna tentu seharusnya juga memberi manfaat dan berperan menjaga bumi dan lingkungan setelah mengambil manfaat untuk kehidupan. Sesuai juga dengan perintah Tuhan dalam ajaran agama bahwa tujuan Tuhan menurun-kan manusia ke muka bumi ini adalah untuk beribadah dan berbuat yang bermanfaat.

Raih Keridhaan Allah melalui Etos Kerja

Dalam Manajemen Pendidikan Islam, etos kerja (semangat/motivasi kerja) dilandasi oleh semangat beribadah kepada Allah Swt. Maksudnya, bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan duniawi melainkan juga sebagai pengabdian kepada Allah Swt,

Rugi Rasa Untung

Apakah beberapa fenomena terbalik yang terjadi ditengah masyarakat bangsa ini atau mungkin juga ditengah masyarakat dunia adalah pertanda bahwa kiamat sudah dekat ? Wallahu a’lam bishawab hanya Allah pencipta langit dan bumi yang tahu persis.

Mengatur Konflik dengan Teknik Mind Mapping

Konflik. Ketika kita mendengar kata itu, kebanyakan orang akan membayangkan seperti perang, rusuh, gontok-gontokan, atau orang yang berkelahi antarkampung. Tidak, sebenarnya konflik bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Kalau menurut psikologi, konflik itu bisa dimulai dari ketika kita merasa ada perbedaan, entah perbedaan pendapat atau perasaan tentang sesuatu hal.

DPW PTPI Sumbar Buka Bimbel & Bimtes CPNS 2021 Online

Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Trainer Profesional Indonesia Wilayah Sumatera Barat (DPW PTPI Sumbar) resmi membuka kegiatan Bimbingan Belajar (BIMBEL) dan Bimbingan Test CPNS 2021...

BUMN Berburu di Kebun Binatang

Sangat menarik menyimak perjalanan PT POS Indonesia sebuah perusahaan BUMN yang pionir dalam bidang jasa pengiriman barang dan serta pengiriman uang dalam bentuk wesel.

Kita Pancasila

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki komitmen dan memahami buah pemikiran dan cara pandang hidup yang disarikan para pendiri bangsa. Mereka telah membuat rumusan atau intisari yang digali dari jiwa bangsa ini, dari ruh bangsa ini, dari sikap hidup bangsa ini, yang berbhineka dan penuh nilai-nilai luhur.

Menanamkan Pendidikan Karakter Kepada Anak Sejak Dini

Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan dan sangat menarik untuk diteliti, terutama karena pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan karakter siswa.

Pentingnya Penggunaan Dan Pemanfaatan Teknologi Ditengah Pandemi

Pandemi covid 19 merupakan tantangan bagi kita sampai saat ini bagaimana kita menyikapinya dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Seluruhnya merasakan dampaknya.
- Advertisement -