31 C
Padang
Jumat, Januari 22, 2021
Beritasumbar.com

Tjokro, Hijrah dan Narasi yang Disembunyikan
T

Kategori -

Ditulis oleh: Erwyn Kurniawan

Tadi malam akhirnya saya berkesempatan menonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto bersama istri dan beberapa konco. Sejak karya besutan Garin Nugroho ini ramai digunjingkan, saya memang mengazzamkan diri untuk menyaksikannya. Bukan untuk mengkritisinya, karena sehebat apapun manusia pasti hasil buatannya tak sempurna, meski itu Garin sekalipun, sutradara bercita rasa Piala Citra. Saya justru penasaran dengan kabar soal kentalnya warna Islam, sesuatu yang mengejutkan mengingat berita seliweran di dunia maya soal Garin yang katanya berideologi liberal. Dan saya mendapatkan jawabannya dari komentar istri yang duduk di sebelah saya ketika film baru tayang kurang dari seperempat durasi.

“Ayah, kok beda ya?” tanya istri.

“Apanya yang beda?” saya balik bertanya.

“Enggak seperti yang kita pelajari saat sekolah. Waktu kita SD, SMP terus SMA kayaknya Sarikat Islam (SI) itu identik dengan komunis. Tjokroaminoto itu orang kiri,” ujar istri sambil matanya terus menatap layar besar dihadapannya yang menampilkan adegan Tjokro berkali-kali mengucap kata hijrah.

Istri saya benar. Dan saya begitu yakin ada jutaan orang yang memiliki pemahaman sejarah seperti istri saya. Bahwa Sarikat Islam cikal bakal komunis. Bahwa SI hanya melahirkan tokoh-tokoh kiri semacam Muso dan Semaoen. Bahwa Tjokro adalah bapak pendukung sosialisme dan komunisme di Tanah Air.

Ya, penulisan sejarah Tjokroaminoto dengan SI nya memang berkutat seputar sosialisme dan komunisme. Jika kita mau rajin membuka buku-buku sejarah, sangat mudah menemukan tulisan yang mengaitkan Tjokro dengan kedua isme di atas. Atau cobalah cari di google, maka kata sosialisme selalu ada di setiap pencarian tentang sosok Tjokro.

Misalkan tulisan Sastrawan dan filsuf yang kerap menulis tentang Islam dan pluralisme yakni Abdul Hadi W. M. Di situs www.serbasejarah.wordpress.com, dalam artikelnya yang berjudul Islam, Sosialisme dan Persoalan Marxiisme di Indonesia, ia tanpa ragu menulis bahwa sosialisme religius telah dianjurkan sejak awal abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Tjokroaminoto pada tahun 1905 (bukunya Islam dan Sosialisme). Kata Hadi, Tjokroaminoto memandang sistem kapitalisme yang dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia merupakan bentuk dari “Kapitalisme Murtad”, sekali pun sistem ini menurut Max Weber lahir dari buaian agama Protestan, yaitu madzab Calvinis.

“Kirinya” Tjokro tak tergambar di filmnya. Kita justru menemukan sebuah narasi baru yang sama sekali tak muncul di teks-teks sejarah. Narasi yang selama ini seperti disembunyikan. Narasi itu adalah hijrah dan iqro. Khusus kata hijrah, berkali-kali muncul dalam film: di awal, pertengahan hingga akhir.

“Hijrah…kemana engkau akan membawaku?” Tanya Tjokro (Reza Rahadian) di adegan pembuka.

“Kalau hijrah satu-satunya jalan, maka aku akan hijrah,” ucap Tjokro kepada istrinya Soeharsikin (Putri Ayunda).

Berkali-kali Tjokro memang berhijrah untuk menuntaskan kegelisahannya melihat penindasan penjajah Belanda kepada pribumi. Setelah menjadi pegawai perkebunan, ia pindah ke Semarang untuk menemukan makna hijrah seperti apa yang akan diwujudkan bangsa ini. Lalu ia pindah lagi ke Surabaya dan bekerja pada surat kabar. Sementara istrinya membuat batik sekaligus mengurusi rumahnya yang dijadikan kos-kosan. Rumah Paneleh, nama kos-kosan tersebut, dihuni oleh pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh-tokoh berpengaruh seperti Agus Salim (Ibnu Jamil), Semaoen (Tanta Ginting), dan Soekarno (Deva Mahenra). Di sinilah Tjokro mendirikan Sarekat Islam dan menjadikannya sebuah organisasi besar.

Kentalnya nilai Islam kian terasa saat tembang Lir Ilir dinyanyikan. Menariknya, running text yang ditampilkan berisikan makna dari syair lagu tersebut. Nuansa pergerakan Islamnya makin menguat.

Lir ilir, lir ilir. Tandure wis sumilir
Bangun, bangunlah (dari keterpurukan). Saatnya telah tiba

Tak ijo royo-royo tak sengguh kemanten anyar
Panji Islam mulai berkembang, menarik hati semua orang

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai para pemuda, amalkan Islam dengan benar

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodo iro
Meski berat perjuangan, tetaplah terus berbuat (amal), untuk menyucikan jiwamu

Dodotiro, dodotiro kumitir bedahing pinggir
Saat pakaian (akhlakmu) terkoyak

Domdomona jlumatono kanggo sebo mengko sore
Perbaikilah, sempurnakanlah (Islammu), demi masa depan (akhirat)

Mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane
Senyampang usiamu masih muda, selagi masih ada kesempatan

Yo sorak ooooo, sorak hiyooo
Hingga kita temui kebahagiaan

Pemaknaan syair Lir Ilir ini seakan ingin menguatkan pesan film ini tentang hijrah yang harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh. Dan Garin sepertinya ingin para penonton menangkap ruh film ini dengan memberikan dialog Tjokro dan Agus Salim jelang akhir film.

“Dan Aku Agus Salim akan berhijrah bersama Tjokroaminoto.”

Lalu diikuti kalimat hijrah terakhir Tjokro di film ini:

“Satu-satunya cara berhijrah adalah dengan setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid.”

Akhirnya, saya harus mengatakan bahwa film ini layak ditonton. Karena ini bukan sekadar film sejarah yang mengobati kerinduan akan hadirnya sosok-sosok pemimpin sekelas Tjokro di masa kini, tapi lebih dari itu. Garin melalui filmnya ini akan membuat persepsi sejarah kita “hijrah”: dari yang semula mengidentikkan Tjokro dengan sosialisme menjadi Tjokro yang Islamis. Persis seperti yang dialami istri saya saat menyaksikan film ini di bioskop tadi malam.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Silaturahmi Dengan Paguyuban Jawa Di Payakumbuh, Ini Kata Walikota

Wali Kota Riza Falepi menerima kunjungan dari perwakilan masyarakat suku jawa yang berada di Kota Payakumbuh yang dikenal dengan nama Paguyuban Saduluran Ngapak dan Paguyuban Pakuwojo di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Payakumbuh, Minggu (17/1).
- Advertisement -

Asrama Putri Pesantren Cahaya Islam Payakumbuh Terbakar

Kebakaran hebat terjadi di Lingkungan Padang Kaduduak, Kelurahan Tigo Koto Diate, Kecamatan Payakumbuh Utara, Sabtu (16/1) dini hari. Gedung Asrama Putri Pondok Pesantren Cahaya Islam terbakar sekitar pukul 01.10 WIB.

Polres Payakumbuh Aman Pria Pembuat-Pengedar Uang Palsu, Diedarkan 10 Lokasi

Payakumbuh, beritasumbar.com- Polres Payakumbuh, Sumatera Barat mengamankan seorang pria atas nama GUNTUR TRIMERLANDA (26) karena membuat dan mengedarkan uang palsu. Kapolres Payakumbuh AKBP Alex Prawira...
- Advertisement -

IMM Pariaman dan Padang Pariaman Peduli Korban Banjir Solok

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pariaman dan kabupaten Padang Pariaman melaksanakan aksi sosial peduli terhadap korban banjir Solok. Kegiatan aksi sosial itu dilaksanakan di jalan protokol Kota Pariaman, Senin, 18 Januari 2021.

Disnakerin Payakumbuh: 51 Paket Pelatihan Akan Diselenggarakan Pada 2021

Payakumbuh, beritasumbar.com- Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) Kota Payakumbuh, mengemukakan pada tahun 2021 akan  ada 51 pelatihan keterampilan dari berbagai bidang yang akan...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mimpi bertemu sang Ayah, “Sang Datuk” nya anak-anak; Ceracau soal Wanita hingga Virus Corona

Lama tak berjempa dengan beliau, seingat kami sejak kasus Aksi Panas 4 Maret 2004 bersama Forum Aksi Demokrasi Arus Bawah Univ. Negeri Padang yang berujung di tahannya 20 aktivis UNP oleh sang Rektor waktu itu, beliau mangkat pas seminggu sebelum usai kami dibebas tahankan tepatnya 4 Mei 2004; baru sekali beliau datang dalam mimpi panjang. Entah apa hikmahnya gerangan, hanya Allah SWT yang lebih tahu.

Darurat Gempa Majene! Segera Bantu Saudara Terdampak!

Dilansir laman resmi BNPB, Data per Jumat (15/1), pukul 06.00 WIB, BPBD Mamuju melaporkan korban meninggal dunia 3 orang dan luka-luka 24. Sebanyak 2.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sedangkan kerugian material berupa kerusakan, antara lain Hotel Maleo dan Kantor Gubernur Sulbar mengalami rusak berat (RB). Jaringan listrik masih padam pascagempa.

Melahirkan Kepercayaan Masyarakat Untuk di Vaksinasi

Untuk lahirkan Kepercayaan Masyarakat Pada Vaksin Covid-19 pemerintah perlu lebih transparan soal vaksin Covid-19, terutama pada aspek keamanan dan biaya.

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Keuntungan Berbisnis Kotoran

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...
- Advertisement -