31 C
Padang
Kamis, Januari 20, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Peningkatan Produksi Padi
T

- Advertisement -

Oleh: Dr.rer.Nat. Ir. Syafrimen Yasin, MS. MSc.
Fakultas pertanian Universitas Andalas

Agam,BeritaSumbar.com,- Padi merupakan komoditas utama pangan di Sumatera Barat dan menjadi tulang punggung ekonomi nagari, termasuk di Nagari Sungai Batang Kabupaten Agam. Kebutuhan pangan tersebut (padi) terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Di lain pihak, luas sawah justru berkurang dan kesuburan tanah makin menurun yang diindikasikan oleh kandungan C-organik tanah berkisar antara sangat rendah sampai rendah.

Tanpa perbaikan mutu lahan dan kesuburan tanah, usaha peningkatan produktivitas padi akan makin sulit dilakukan. Sebagian besar (73%) lahan pertanian di Indonesia, baik lahan sawah maupun lahan kering mempunyai kandungan bahan organik yang rendah (< 2%).

Terabaikannya pengembalian bahan organik ke dalam tanah dan intensifnya penggunaan pupuk kimia pada lahan sawah telah menyebabkan mutu fisik dan kimiawi tanah menurun. Kondisi tanah yang demikian mengakibatkan populasi biota tanah yang berpengaruh terhadap fiksasi nitrogen dan kelarutan fosfat menurun, miskin hara mikro, perlindungan terhadap penyakit rendah, boros dalam penggunaan pupuk dan air, serta tanaman peka cekaman kekeringan. 

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, diintroduksikan varietas unggul baru padi yang memerlukan input berupa pupuk kimia dan air irigasi untuk menghasilkan gabah dalam jumlah yang lebih banyak dengan umur tanaman yang lebih pendek. Dengan penerapan teknologi modern melalui revolusi hijau yang memprioritaskan penanaman padi varietas unggul responsif terhadap pemupukan, penggunaan pupuk anorganik makin meningkat dan pupuk organik makin terlupakan.

Oleh karena itu dalam kegiatan pengabdian pemberdayaan KWT Semangat Berarya menjadi penangkar benih padi bersertifikar, KWT Semangat Berkarya Nagari Sungai Batang diberikan penyuluhan dan bimbingan teknis mengenai pengelolaan lahan sawah dengan baik dan benar.

Penyuluhan dan sekolah lapang mengenai teknologi pengelolaan lahan sawah untuk peningkatan produksi padi kepada kelompok tani di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam (oleh Dr. Syafrimen Yasin, MSc.)

Bahan organik tanah merupakan komponen penting penentu kesuburan tanah, terutama di daerah tropika seperti Indonesia dengan suhu udara dan curah hujan yang tinggi. Kandungan bahan organik yang rendah menyebabkan partikel tanah mudah pecah oleh curah hujan dan terbawa oleh aliran permukaan sebagai erosi, yang pada kondisi ekstrim mengakibatkan terjadinya desertifikasi (perubahan menjadi padang pasir).

Setiap tahun lebih dari 165 juta ton bahan organik dihasilkan dari limbah panen tanaman pangan dan hortikultura, namun potensi tersebut pada umumnya belum terkelola dengan baik. Di lain pihak, kandungan bahan organik di dalam tanah pertanian saat ini rendah, rata-rata kurang dari 2%. Jerami sebagai limbah hasil panen padi yang jumlahnya mencapai 75-80 juta ton lebih banyak digunakan untuk keperluan industri (kertas, karton, jamur merang), sedangkan di sawah, jerami lebih banyak dibakar.

Bahan organik dari pupuk kandang juga sangat terbatas karena ternak sapi atau kerbau yang awalnya terdapat di petani dan digunakan sebagai tenaga pengolah tanah sudah tergantikan oleh traktor. Pupuk hijau dari azolla sudah lama dikenal petani, namun dengan tersedianya pupuk anorganik, bahan organik ini menjadi tidak populer.

Sampah industri dari tebu lebih banyak digunakan untuk bahan baku kertas dan bahan bakar industri gula. Sampah organik dari wilayah kota sebagian besar dialihkan untuk menimbun tanah cekungan atau rawa untuk mendapatkan lahan permukiman baru. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam pengelolaan bahan organik untuk memelihara kesuburan tanah pertanian masih amat rendah.

Bahan organik mempunyai peranan penting sebagai sumber karbon, dalam pengertian yang lebih luas sebagai sumber pakan, dan juga sebagai sumber energi untuk mendukung kehidupan dan berkembangbiaknya berbagai jenis mikroba dalam tanah. Tanpa bahan organik, mikroba dalam tanah akan menghadapi keadaan defisiensi karbon sebagai pakan sehingga perkembangan populasi dan aktivitasnya terhambat. Akibatnya, proses mineralisasi hara menjadi unsur yang tersedia bagi tanaman juga terhambat. Kondisi tanah yang miskin kandungan bahan organik dan populasi mikroba sering secara populer disebut sebagai tanah lapar atau tanah “sakit”. Tanah yang mengalami defisiensi sumber energi bagi mikroba menjadi tanah berstatus lelah atau fatigue. Bahan organik juga sangat diperlukan dalam proses agregasi tanah untuk membangun struktur fisik tanah yang sehat.

Penanaman benih padi oleh Tim Pengabdian Unand dan kelompok tani di lahan sawah Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Pada kesempatan ini, narasumber mengemukan betapa pentingnya penambahan bahan organik guna meningkatkan produktivitas lahan. Oleh karena itu, pada kegiatan ini narasumber mengajak kelompok tani untuk melakukan pengelolaan lahan sawah dengan baik dan benar. Dengan harapan bantuan benih unggul padi yang diberikan oleh tim Pengabdian Unand dapat ditanam oleh kelompok tani Nagari Sungai Batang dengan menghasilkan produksi yang

Selain penyuluhan dan bimbingan teknis mengenai pengelolaan lahan, pada kegiatan pengabdian ini juga dilakukan penanaman benih padi varietas yang diberikan Tim Pengabdian Unand (varietas Kahayan dan Anak Daro) di lahan sawah kelompok tani Nagari Sungai, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Ketua tim Pengabdian Unand (Dr. Indra Dwipa) pun langsung turun mempraktekkan kegiatan penanaman varietas benih padi di lahan sawah  kelompok tani Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img