MENYAPA MATAHARI

Oleh : Utari Khairunnissa

 

Kepada  seseorang yang selalu membawa aura positif.

Karena waktu kita semakin sedikit, dan aku akan semakin takut.

Takut tidak ada pertemuan setelah pertemuan kemarin.

Nanti, kalau rindu mulai terasa.

Bersegeralah untuk menengadah keatas,

Ada yang menyinari kamu atau mungkin kamu adalah jelmaan dari sinar sang surya.

Sudahkah dulu kubilang bahwa kamu matahari.

Jadi jangan sedih ya.

Nanti, hari hari akan mulai terasa berat.

Bersedialah kamu, kembali membaca beberapa pesan singkat yang aku tulis, rehat sebentar ya.

Kan sesekali matahari juga redup. Tapi jangan keseringan ya, kasihan bulan.

Ia ingin terang bersama, karenanya ia butuh matahari dengan teramat.

Sampai juga pada akhir bait,

Dan, hallo matahari yang masih bersedia terang walau sesekali rintik hujan yang gemas menutupi,

Tidak apa ini hal yang wajar. Karena begitulah proses penciptaan pelangi yang indah.

Lalu palingkan lah kini wajah mu pada 40 sampai 60 derajat,

Dan lihat bulan sedang melafalkan doa baik,

Tentu saja melibatkan hati.

Menurutnya doa yang disertakan hati adalah bentuk dari doa tulus setelah doa dari sepasang hamba akan buah hati mereka.

Bulan selalu tahu, ia menyaksikan. Walau jauh dan kadang tidak terlihat. Ia ada.

loading...