30 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

MENGENAL SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOUS (SLE)
<

Kategori -
- Advertisement -

Penulis: Ns. Fitri Mailani, M.Kep

Sistemik Lupus Eritematous (SLE) adalah penyakit autoimun multisystem di mana organ, jaringan, dan sel mengalami kerusakan yang dimediasi oleh autoantibodi pengikat jaringan dan kompleks imun. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Sistemik Lupus Eritematous (SLE) dapat diartikan sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Hal ini disebabkan sistem autoimun seseorang tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga berbalik menyerang organ tubuhnya sendiri. SLE atau Lupus lebih sering dikenal dengan penyakit seribu wajah, karena merupakan penyakit yang gejala klinis nya sangat berbeda antara satu pasien dengan pasien yang lain. Juga karena penyakit ini sering menyerupai penyakit lain.

SLE terjadi karena mekanisme sistem kekebalan tubuh tidak dapat membedakan antara jaringan tubuh sendiri dan organisme asing misalnya, bakteri atau virus karena autoantibodi (antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri) diproduksi tubuh dalam jumlah besar sehingga terjadi pengendapan kompleks imun (antibodi yang terikat pada antigen di dalam jaringan) sehingga menyebabkan kerusakan organ dan peradangan. Faktor hormon, lingkungan dan genetik adalah sebagian pemicu penyakit lupus.

Patogenesis SLE bersifat multifaktorial yang merupakan interaksi dari faktor genetik, faktor lingkungan dan faktor hormonal yang menghasilkan respon imun yang abnormal. Abnormalitas pada sel T meliputi respon abnormal pada autoantigen, gangguan toleransi sistem imun dan gangguan transduksi signal pada T cell receptor. Pada pasien Systemic Lupus Erythematosus juga terjadi peningkatan produksi sitokin proinflamasi, antara lain Interleukin 2 (IL-2), Interferon gamma (IFN-γ), Interferon alpha (IFN-α), Interleukin-4 (IL-4), Interleukin-6 (IL-6), Interleukin-10 (IL-10), Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α), dan Transforming Growth Factor Beta (TGF-β) dimana semua sitokin proinflamasi ini semua disekresi oleh sel T Helper-1 (TH1). Patogenesis SLE terdiri dari tiga fase, yaitu fase inisiasi, fase propagasi, dan fase puncak (flares).

Manifestasi klinis yang umum terjadi kepada penderita SLE diantaranya sering demam tinggi tanpa diiringi dengan penyakit yang lain, sering lelah berlebihan tanpa aktifitas fisik berat, munculnya ruam diwajah sebagai akibat rekasi tubuh yang berlebihan terhadap cahaya matahari yang benbentuk kupu-kupu, ujung jari membiru saat merasakan kedinginan, sendi sering bengkak, kaku dan nyeri, jika menyerang ginjal menyebabkan tekanan darah tinggi dan gagal ginjal.

Dalam hal penatalaksanaanya, sampai saat ini belum ada pengobatan yang permanen untuk SLE. Setiap pasien memiliki gejala dan manifestasi klinis yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Tujuan utama dari pengobatan SLE adalah mengurangi gejala dan melindungi organ dengan mengurangi peradangan dan/atau tingkat aktifitas autoimun di tubuh. Banyak pasien dengan gejala yang ringan tidak membutuhkan pengobatan atau hanya obat-obatan anti inflamasi yang intermitten. Pasien dengan sakit yang lebih serius yang meliputi kerusakan organ dapat membutuhkan kortikosteroid dosis tinggi yang dikombinasikan dengan obat-obatan lain untuk menekan sistem imunitas. Untuk pasien SLE dengan gejala ringan, pemberian NSAID dan anti malaria bisa digunakan jika diperlukan. NSAID membantu mengurangi peradangan dan nyeri pada otot, sendi, dan jaringan lainnya. Contoh NSAID adalah aspirin, ibuprofen, naproxen, dan sulindac. Pada gejala yang lebih parah, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menentukan jenis terapi apa yang akan dilakukan sesuai dengan gejala yang diderita. Dari segi pengobatan non-farmakologi, pasien diharapkan untuk mengindari sinar matahari langsung semaksimal mungkin. Pasien juga harus meminimalkan faktor pencetus, seperti kelelahan dan kedinginan. Kualitas tidur yang baik sangat membantu keberhasilan pengobatan SLE. Untuk pasien dengan obesitas, penurunan berat badan diperlukan untuk meminimalkan efek gejala penyakit ini seperti masalah persendian.

Penatalaksanaan SLE membutukan penanganan dokter ahli variasi klinis yang sangat beragam. Semakin cepat ditemukan penyakit Lupus ini, semakit cepat pula penanganan medis yang dapat dilakukan, sehingga dapat mencapai perbaikan klinis (remisi) dan menjadikan penyakit nya terkontrol dengan baik.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img