31 C
Padang
Jumat, Juli 19, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Melangkah Bersama: Strategi Inovatif Anak Nagari dalam Memaksimalkan Potensi Nagari di Panggung Global
M

Kategori -
- Advertisement -

Pada suatu kesempatan, Mahasiswa KKN Tematik Universitas Andalas mengadakan kunjungan ke kampung Inggris yang berada di Nagari Balingka kecamatan IV Koto Kabupaten Agam . Kunjungan tersebut disambut oleh keluarga kampung Inggris dan ketua kampung Inggris sekaligus Wali Jorong Pahambatan, Hajisman Kholid. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Januari ini tidak hanya bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga kampung Inggris, namun juga untuk melaksanakan kegiatan program kerja KKN Temaik Universitas Andalas dengan mengenalkan sekaligus melakukan simulasi diskusi dengan metode (Forum Group Discussion).

Keberadaan kampung Inggris di Balingka sendiri tidak lepas dari inisiatif anak nagari Balingka sendiri untuk mendirikan suatu lembaga pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman bahasa Inggris terhadap generasi muda. Kampung Inggris di Nagari Balingka didirikan pada tahun 2022, keberadaan kampong inggris ini ternyata menjadi kampung Inggris ke-enam di seluruh Kabupaten Agam. Tujuan awal pendirian kampung Inggris yaitu meningkatkan kualitas SDM anak nagari untuk dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Saat ini, anggota dari kampung Inggris tidak hanya berasal dari nagari Balingka saja namun mencangkup dari daerah yang beragam mulai dari Bukittinggi, kecamatan Banuhampu, dan lainnya. Kampung Inggris nagari Balingka juga menerima murid dari berbagai pelosok nagari dengan biaya masuk yang gratis melalui pemda.

Selain itu, Kampung Inggris di Nagari Balingka juga memiliki keunikan dari kampung Inggris lainnya, yaitu adanya pembelajaran materi mengenai kepariwisataan yang saat ini sedang diajarkan pada semester tiga. Kurikulum kepariwisataan di nagari Balingka dapat dilihat dari fakta bahwa nagari Balingka yang resmi menjadi desa wisata pada tahun 2023. Potensi kekayaan alam Balingka seperti agrowisata Strawberry, taman raya Balingka hingga kekayaan budaya dan UMKM. Potensi pariwisata ini tentunya akan menarik banyak wisatawan asing di kemudian hari. Oleh karena itu, keberadaan kampung Inggris juga bertujuan untuk mempersiapkan anak nagari agar dapat menjalin komunikasi dengan baik bersama turis internasional melalui bahasa Inggris.

Bersamaan dengan masuknya kurikulum kepariwisataan inilah kelompok KKN Tematik UNAND Nagari Balingka mengadakan Focus Group Discussion yang berbentuk Joint Statement Forum (JSF). Forum ini berupaya untuk memberikan masukan melalui diskusi interaktif untuk menganalisis dampak positif dari para peserta terhadap permasalahan suatu isu. Output Komunike bersama ini akan dibagikan dalam website nagari yang dapat menjadi bentuk aspirasi kepedulian generasi muda untuk nasib masa depan bangsanya sendiri dan dapat menjadi langkah acuan bagi para pengambil keputusan kebijakan dalam menyelesaikan isu atau permalahan tersebut. Selain output positif yang dihasilkan, JSF dapat melatih sikap kritis para peserta dalam menghadapi suatu permasalahan. JSF juga membantu meningkatkan skill writing, analisis dan speaking bahasa Inggris para peserta dalam mengutarakan ide.

Melalui metode Joint Statement Forum (JSF) dilaksanakan dengan tema “Meningkatkan Kesadaran Anak Nagari Dalam Memaksimalkan Potensi Nagari di Era Globalisasi”. Pemilihan tema ini tentu tidak lepas dari keadaan globalisasi yang dihadapi oleh seluruh masyarakat dunia terutama masyarakat Sumatera Barat yang kental dengan kekayaan alam dan budaya. Jika tidak ditanggapi dengan cermat, maka globalisasi ibarat gelombang besar dapat menghanyutkan segala budaya yang berada di bawahnya. Kekayaan alam dikeruk oleh kapitalis asing, budaya lokal memudar dan menghilang, hingga kalangan muda sebagai penerus emas nagari tidak memiliki sikap kepedulian terhadap masa depan nagarinya sendiri. Oleh karena itu, dengan melalui forum diskusi ini diharapkan dapat menemukan langkah konkrit untuk menghadapi tantangan globalisasi.

Sesi JSF dibuka dengan pembacaan ulang aturan JSF oleh moderator dari mahasiswa KKN Thoriq Giffan Aditya dan Co-moderator oleh Lauzah Sabrina Yosef kepada seluruh anak nagari Kampung Inggris yang sebelumnya telah dibagikan melalui brosur. Selanjutnya, moderator membagi seluruh peserta menjadi empat kelompok yang juga dibantu oleh mahasiswa KKN lainnya. Pada sesi selanjutnya, moderator kembali mengumumkan tema besar kepada seluruh anak nagari. “Kita sebagai anak nagari telah melihat besarnya ancaman yang ditimbulkan oleh globalisasi, namun bak pisau bermata dua, kita juga dapat memanfaatkan globalisasi dalam membangun nagari dengan mencari potensi dari nagari kita sendiri, lantas bagaimanakah kita mewujudkannya?”

Kegiatan lalu dilanjutkan dengan sesi diskusi antar sesama anggota kelompok. Dalam sesi ini, para anggota dituntut untuk mengenali nagarinya sendiri. “Apa saja potensi baik dari segi alam, budaya, dan UMKM dari nagari yang bisa dikembangkan?”,“Bagaimana cara mengembangkannya”, “Bagaimana cara mempromosikannya ke area yang lebih luas”, atau “Adakah tradisi tertentu dari nagariku yang sebenarnya ada namun keberadannya jarang diexpos?” “Bagaimana cara menghidupkan kembali tradisi tersebut” dan seterusnya. Kegiatan disuksi yang berlangsung selama 15 menit ini berlangsung dengan diskusi antar anggota yang saling menyucurkan keringat dalam memberikan permasalahan dan solusi. Segala point lalu diformulasikan ke dalam selembar kertas.

Setelah seperempat jam berlalu, moderator mengakhiri sesi diskusi dan memulai dengan sesi presentasi dan tanya jawab di mana masing-masing kelompok diwakilkan oleh dua anak nagari dalam mempresentasikan point-point dari solusi yang mereka buat. Sesi presentasi disambut dengan antusias oleh para kelompok yang saling berebutan untuk menampilkan solusinya. Sesi dimulai dari kelompok tiga yang menenkankan kepada Digital literacy. Digital literacy bertujuan untuk mempromosikan literatur-literatur mengenai kebudayaan di nagari secara online, misalnya dengan mendeskripsikan apa itu budaya tambua melalui postingan di instagram. Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh kelompok dua yang menggali berbagai potensi UMKM terutama di nagari Balingka dan meningkatkan infrastruktur bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kelompok selanjutnya yaitu kelompok satu yang berfokus kepada promosi melalui vlogging terhadap berbagau kegiatan seperti festival dan acara tambua yang sudah dilakukan oleh Kampung Inggris sebelumnya.

Di saat kelompok lain menekankan kepada promosi nagari, kelompok empat mengejutkan semua partisipan dengan ide “Baliak ka Surau”. Solusi ini disampaikan dengan lantang oleh perwakilan kelompok empat, beliau menyampaikan bahwa peran surau pada hakekatnya ialah central pembelajaran anak minangkabau, disana terdapat media pembelajaran al-quran, budaya, agama dan ilmu kehidupan. Namun realitasnya peran surau telah perlahan tergerus hingga yang tersisa hanya untuk tempat beribadah. Tidak dapat dipungkuri ini juga akibat dari adanya globalisasi yang perlahan menimbun nilai nilai dari peranan surau sebagai pusat pembelajaran.

Dalam sesi diskusi kegiatan ini, Ketua Kampung Inggris, Hajisman Kholid mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai konsepsi “Baliak ka Surau”. Pertanyaannya ialah, “apakah Baliak ka Surau sukses atau gagal dalam mengembalikan kesadaran. Hal ini kemudian dijawab oleh salah satu perwakilan yang menyatakan bahwa “Baliak ka surau tentunya akan menjadi solusi aktif dan sukes dalam mengembalikan kesadaran budaya dan nilai-nilai dalam membangun nagari. Sejatinya masyarakat Minangkabau paham akan makna adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Hal ini sekiranya bisa mengembalikan identitas, nilai-nilai budaya, dan inovasi dalam membangun nagari” ujar salah satu peserta diskusi.

Tentunya hasil dari diskusi ini menarik untuk ditindaklanjuti bersama baik oleh pemerintah maupun anak nagari, karena sejatinya masa depan bangsa terletak ditangan pemudanya. Setelah kegiatan presentasi berakhir, moderator dan co-moderator berdiskusi untuk menentukan kelompok yang berhak untuk mendapatkan “the most outstanding group”. Setelah sekian menit, moderator mengumumkan pemberian penghargaan itu diberikan kepada kelompok empat. Rasionalitas dibalik penghargaan tersebut adalah keunikan dari ide yang diberikan, pemilihan kata yang tepat saat presentasi, beserta komunikasi melalui presentasi. Moderator sekaligus penulis memberikan cerminan mengenai kegiatan JSF sekaligus mengenai isu peran anak nagari secara luas.

Jika kita tarik dari garis sejarah, banyak anak nagari dari Sumatera Barat yang dapat memanfaatkan segala bentuk pengaruh dari luar tanpa meninggalkan identitas aslinya. Muhammad Hatta, Tan Malaka, Muhammad Yamin merupakan beberapa dari segelintir tokoh asli minang yang mendapatkan pendidikan langsung dari dan di barat. Pikiran mereka terbuka oleh berbagai macam wawasan dan wacana dari barat, mulai dari bahasa, pemikiran, hingga berbagai macam bentuk kebudayaan lainnya. Ketika barat mengharapkan para-para tokoh ini dapat kembali ke nagarinya untuk menjadi alat bagi bagi barat untuk mendapatkan kepentingan kolonialnya, nyatanya justru tokoh-tokoh ini justru menggunakan wawasan dan pengetahuan yang didapatkan sebagai senjata untuk membebaskan bangsanya sendiri dari cengkraman barat.

Lantas mengapa para bapak pendiri bangas ini bersikap demikian? Menurut penulis, kesadaran adalah kunci emas bagi para tokoh ini dalam membangun rasa kepeduliannya terhadap masyarakatnya sendiri walaupun para tokoh ini terbuka kepada dunia luar. Berkaca dengan pengalaman yang demikian, kita para anak nagari nyatanya dapat mengilhami sikap dan semangat dari para tokoh pendiri bangsa ini di dalam menghadapi globalisasi. Langkah pertama dalam membangun rasa kepedulian juga dapat dibangun dari pendidikan dengan mengenal lingkungan dalam nagari sendiri. Konsepsi “Baliak Ka Surau” menjadi salah satu langkah awal dalam mengembalikan ajaran Minangkabau kepada anak nagari yang mencangkup agama, budaya, dan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang dicontohkan oleh para tokoh besar ini seperti Agus Salim yang menempuh pendidikan di surau. Hal yang dapat diterapkan untuk mengembalikan fungsi surau di era modern ini dapat dilakukan secara bertahap, yaitu menghidupkan remaja masjid dan mengembangkan fungsi Surau untuk kegiatan lainnya seperti tempat pembelajaran adat istiadat.

Lalu bagaimana dengan anak nagari yang berada di perantauan? Menghidupkan berbagai macam festival nagari dengan mengundang kembali anak nagari yang telah berada di daerah perantauan juga merupakan pilihan alternatif. Nyatanya, Nagari Balingka juga telah melakukan festival budaya nagari yang diseleggarakan selama tiga hari berturut-turut, mulai dari hari Jum’at 19 Januari 2024 hingga Minggu, 21 Januari 2024. Kegiatan ini dijalankan atas inisiatif himpunan mahasiswa Balingka. Kegiatan ini terdiri dari ajang lomba kebudayaan minang seperti lomba randai, solo song hingga acara kuliah umum. Festival nagari ini dapat menjadi jembatan dalam membangun hubungan harmonis antara para anak nagari dengan nagarinya sendiri sehingga anak nagari akan selalu ingat dan peduli akan nagarinya sendiri.

Himpunan mahasiswa nagari dan pembentukan festival nagari juga dapat menjadi model acuan bagi nagari lainnya untuk turut berpartisi dalam membangun kesadaran anak nagari. Oleh karena itu, penting bagi anak nagari dalam mempromosikan berbagai potensi nagarinya sendiri seperti festival kebudayaan dengan cara menggunakan teknologi dan media sosial. Anak nagari dapat membangun komunikasi dengan dunia luar menggunakan berbagai macam cara, seperti pembuatan video vlog untuk memperkenalkan nagari atau sekedar melakukan posting berita di website atau media sosial seperti instagram untuk menarik perhatian massa dan yang terpenting dapat bersifat berkelanjutan, yaitu dapat dikelola dari generasi ke generasi berikutnya.

Massa yang tertarik seperti turis mancanegara dapat berkunjung langsung ke nagari Balingka untuk menyaksikan secara rill. Di sinilah anak nagari untuk dapat menerapkan kemampuan bahasa Inggrisnya melalui komunikasi pariwisata bahasa Inggris, yaitu dengan menerapkan konsep keramah-tamahan, mengenalkan petunjuk jalan, mempresentasikan objek wisata atau points of interest, dan lainnya.

Kegiatan diakhiri dengan pembacaan argumen seluruh point dari semua kelompok yang dijadikan rekomendasi kepada anak nagari hingga pengambil kebijakan untuk langkah di masa depan. Melalui kegiatan ini, diharapkan kegiatan diskusi model JSF masuk menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan di kampung Inggris dalam membangun kemampuan berpikir kritis, writing dan speaking untuk berpendapat secara langsung dalam bahasa Inggris. Melalui kegiatan ini, para anak nagari juga dapat memiliki pemahaman mengenai potensi dari masing-masing jorong seperti keindahan alam, budaya, dan UMKM yang nantinya dapat dikembangkan oleh anak nagari secara berkelanjutan dan dipromosikan melalui teknologi. Di akhir, semuanya kembali kepada pepatah minang:

Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak.

Artinya, Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas. Walaupun perubahan dari luar datang silih berganti, namun jangan lupakan adat istiadat nagari sendiri.

Penulis:

Thoriq Giffan Aditya, Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Andalas

Hildayatul Rizki, Mahasiswa jurusan Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Andalas

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img