Sijunjung,-Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas diartikan : mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.

Dalam prakteknya integritas tentu bukan hanya sebuah teori yang semerta-merta jatuh dari langit, tapi perlu pembiasaan dan teladan dari orang-orang terdekat untuk menggapainya. Ketika, seorang ayah menginginkan anaknya menjadi anak yang berbaik dan sholeh tidak cukup dengan perintah saja, tapi harus diberikan teladan, dicontohkan dan dibawa ke tempat ibadah untuk bersama-sama untuk menuaikan kewajiban kepada Allah Swt. Integritas itu harus sudah diajarkan sedari usia dini. Busro Muqoddas, mantan komisioner KPK

mengatakan:“SDM berintegritas harus dimulai dari keluarga!”.
Kesholehan dan integritas perlu adanya pendekatan yang sama yaitu keharusan memberi teladan dan memberikan contoh dari lingkungan yang terkecil dalam Negara yaitu keluarga. Sebagai Negara yang berdasar atas Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dan menjadi ruh dari sila-sila yang lainnya, kedudukan keluarga sebagai tempat pendidikan (tarbiyah) menjadi sangat vital dalam menentukan wajah Negara di kemudian hari.

Dalam buku fii Dzilalil Quran, Sayyid Quthub seorang tokoh pergerakan kontemporer Mesir, mengatakan: dalam integritas terkandung makna kejujuran (al-shidq) dan konsistensi (istiqamah) dalam memperjuangkan kebenaran. Kedua makna atau sifat ini merupakan watak dasar dari kepribadian seorang Muslim. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang dimensi batinnya sama dengan dimensi lahirnya dan perilaku perbuatannya sama dengan omongannya.

Orang islam yang tergabung sebagai penyelengga pemilu harus menjauhkan diri dari unsur hipoktritas dan kemunafikan, integritas adalah sesuatu yang tak bisa ditawar, integritas adalah harga mati, ketika integritas kita hilang, bukan hanya akan menimbulkan bencana, namun juga akan kehilangan kepercayaan dan akan dicap sebagai orang yang munafik dalam ajaran agama.

Allah Swt berfirman,:”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah, kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Shaff, 2-3).

Ketika integritas sudah dijadikan selimut, apapun permasalahan yang terjadi, tuduhan dalam bentuk apapun yang dilekatkan, tuntutan apapun yang dilakukan, semuanya dengan sangat mudah bisa kita pertanggungjawabkan di pengadilan manusia di dunia dan mahkamah Allah yang maha dahsyat di akhirat.

Oleh: Fahrul Rozi Burda, lc,.M.Ud
Komisioner KPU Kabupaten Sijunjung
Divisi Hukum dan Pengawasan

loading...