Padang – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor daerah itu pada September 2015 naik 12,04 persen dibandingkan Agustus 2015 dengan nilal total mencapai 143,1 juta dolar Amerika Serikat (AS).
“Pada Agustus 2015 ekspor Sumbar mencapai 127,7 juta dolar AS dan September 2015 naik menjadi 143,1 juta dolar AS yang semuanya berasal dari komoditas nonmigas,” kata Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri di Padang, Kamis.
Menurut dia peningkatan ekspor nonmigas September 2015 terjadi pada beberapa negara tujuan yaitu India 61,48 persen, Bangladesh 72,03 persen, Malaysia 36,45 persen, Jepang 21,43 persen dan Kanada 794,43 persen.
Golongan barang ekspor paling besar pada September adalah lemak dan minyak hewan 97,8 juta dolar AS, golongan karet dan barang dari karet sebesar 31,0 juta dolar AS dan produk kimia sebesar 2,6 juta dolar AS, kata dia.
Negara tujuan ekspor nonmigas bulan September terbesar ke India sebesar 61,5 juta dolar AS, Bangladesh 29,5 juta dolar AS, Amerika Serikat 24,2 juta dolar AS, dan Malaysia 5,8 juta dolar AS, ujar dia.
Ia menyebutkan ekspor ke India memberikan peran sebesar 36,73 persen terhadap total ekspor Sumbar September 2015, Amerika Serikat 19,36 persen, dan Singapura 8,93 persen.
Sementara menurut sektor, ekspor produk industri September 2015 meningkat sebesar 11,62 persen dibandingkan Agustus serta ekspor hasil pertanian juga naik 56,70 persen, ujarnya.
Ia menambahkan ekspor pada September 2015 semuanya melalui dari pelabuhan muat Teluk Bayur yang turun 21,67 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Puji Atmoko mengatakan komoditas ekspor daerah itu masih didominasi oleh crude palm oil (CPO) atau minyak sawit serta karet dalam lima tahun terakhir.
“Hasil industri pengolahan di sektor perkebunan masih menjadi komoditas ekspor utama di CPO berkontribusi sebesar 71 persen dan karet 16 persen,” kata dia.
Namun ia menilai negara-negara tujuan ekspor sedang mengalami perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi ekspor dan salah satu cara menyiasati adalah melalui industri pengolahan, agar produk yang dijual memiliki nilai tambah.
Ke depan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah CPO melalui industri pengolahan jika peningkatan produksi tidak dimungkinkan lagi, kata dia. (Ant/Ikhwan Wahyudi)