dr. Hardisman, MHID, PhD

Padang,BeritaSumbar.com,-Dalam enam bulan terakhir ada dua momen penting yang mengingatkan kita akan fenomena sampah dan perilaku hidup bersih dan disiplin. Pertama, adanya rangkaian berbagai kegiatan dalam menyongsong hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Kedua, fenomena perilaku menjaga kebersihan dan sikap terhadap sampah pada rangkaian kampanye di ruang terbuka pada Pilpres dan Pileg.


Hari bumi diperingati untuk meningkatkan kesadara masyarakat terhadap lingkungan hidup. Sehingga bumi sebagai ‘rumah’ manusia akan tetap menjadi tempat yang nyaman bagi manusia dan semua makhluk hidup, dan diwarisankan kepada generasi mendatang dalam keadaan terjaga.

Salah satu upaya dalam menjaga bumi adalah kepedulian menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas dari sampah yang merusak, terutama sampah-sampah plastik yang sangat sulit terurai.

Akan tetapi, perilaku sebahagian besar masyarakat dalam kesehariannya masih jauh dari harapan menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman. Masih banyak yang menumpuk dan membuang sampah di pinggir jalan umum, atau membuangnya ke sungai dan selokan .

Pada semua kota besar di negeri ini, sungai-sungai kecil yang ada ditengah-tengah kota tak ada bedanya dengan selokan-selokan pembuangan air limbah. Sungai-sungai itu bau, kotor dan banyak tumpukan sampah. Semua ini tentu akibat ulah manusia-manusia di negeri ini yang mayoritas mengaku beriman dan Islam.  Sudah lumrah bagi sebahagian orang membuang sampah tanpa ada rasa bersalah kesungai-sungai itu.

Bahkan tidak jarang kita lihat orang-orang yang bermobil bagus, seeenaknya membuang sampah melalui jendela mobilnya ke jalan raya, tanpa ada rasa malu dan bersalah. Akhirnya sampak-sampah dijalan itu dapat menyumbat saluran air yang ada, dan sampah-sampah disungai itu membendung aliran air ke laut. Hingga ketika musim hujan tiba dan terjadi banjir yang hebat, semuanya berteriak seolah-olah ini hanya sebuah fenomena alam saja.

Tumpukan-tumpukan sampah di jalanan, di pinggir sungai dan di berbagai tempat telah menjadi sarang penyebaran penyakit. Tikus dan kecoak hidup merajalela, sehingga berbagai penyakit infeksi tertular dengan mudah. Bau yang menyengat juga menimbulkan gangguan pernafasan. Masih banyak lagi dampaknya jika kita bisa menyadari.

Setiap orang merasa mereka tidak berperan dalam bencana ini karena mereka hanya membuang satu lembar plastik bekas saja, sehingga berfikir satu lembar itu tidak akan menyebabkan bau, penyakit dan banjir.  Padahal gundukan sampah yang kotor dan bau itu berasal dari kumpulan lembaran-lembaran itu. Bisa dibayangkan jika ada lima juta penduduk sebuah kota, yang semuanya membuang ‘hanya satu lembaran’ pada setiap hari, maka dalam beberapa bulan kota itu akan dipenuhi tumpukan sampah. Namun semuanya akan berkata “Saya tidak berbuat apa-apa”.

Perilaku yang hampir sama juga ditemukan pada ajang kampanye beberapa waktu lalu. Pada sebagian kampanye yang dihadiri oleh kerumunan massa, menyisakan sampah-sampah yang berserakan. Sekaligus, kdang merusak taman-taman yang sudah asri dan tanaman yang tumbuh hijau.

Lalu kemana intelektualitas yang ada di sana? Bukankah pada setiap partai dan kelompok pendukung Capres/Cawapres, di sana ada para cendikia, ustadz dan kiyai yang sangat faham akan nilai-nilai kedisiplinan dan kebersihan dalam agama.

Dalam Islam, ibadah sejatinya adalah untuk mengabdikan diri denga ikhlas kepada Yang Kuasa. Disamping itu, ada hikmah dari setiap ibadah yang kita lakukan. Diantaranya adalah  tentang kedisiplinan dan kebersihan.

Ibadah shalat misalnya, selain sebagai sarana berzikir dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT (Thahaa [20]:14), juga terdapat cerminan kedisiplinan dan kebersihan tersebut. Sebelum melakukan shalat harus bersuci dan berwudhuk kemudian menggunakan pakaian yang bersih dari segela bentuk kotoran (najis) yang dengan jelas mencerminkan makna kebersihan.

Ibadah shalat, baik shalat wajib ataupun shalat sunat dilakukan pada waktu yang telah ditentukan yang mencerminkan kedisiplinan. Tidak dapat seseorang merubah waktu-waktu itu sesuai keinginannya yang tidak sesuai dengan syariat dan jika tidak ada keringanan yang membolehkannya. Shalat Jum’at, harus dilaksanakan pada hari Jum’at secara berjamaah. Tidak ada alasan yang dibenarkan syariat untuk memindahkan shalat Jum’at itu misalnya ke hari Minggu agar tidak mengganggu pekerjaan.

Begitu juga shalat ‘Idil Fitri, harus dilaksanakn pada 1 Syawal, dan tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk menundanya hingga semingggu atau dua minggu sesudahnya. Terutama lagi Shalat wajib yang lima waktu, harus dilaksanakan pada waktu yang ditentukan (kecuali ada alasan syar’i yang dibolehkan), sehingga setiap Mu’min harus mengatur waktu mulai bangun pagi, bekerja dan waktu istirahat. Shalat subuh misalnya, haruslah dilakukan pada waktu terbit Fajr hingga sebelum terbit matahari, yang juga bermakna bahwa harus ada kedisiplinan bangun pagi dan memulai segala aktifitas pada hari itu dengan bersih dan mengharap Ridha Allah SWT.

Kesemua pengaturan ini mencerminkan bahwa bagaimana pentingnya setiap Mu’min mengenal waktu dan kemudian mengatur penggunaan waktu tersebut secara benar dan disiplin. Inilah yang difirmankan Allah SWT bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (Al-Ankabut [29]:45). Dalam makna luas, keji dan mungkar tentu dapat berarti menjaga diri dari segala bentuk perbuatan yang dapat mengakibatkan kerusakan baik pada diri sendiri ataupun lingkungan, termasuk didalamnya menjaga diri dan lingkungan dari yang kotor dan segala bentuk ketidakteraturan.

Namun sayang sekali, cerminan kebersihan dan kedisiplinan yang ada pada setiap ibadah itu tidak mampu direalisasikan oleh setiap orang. Banyak diantara kita orang-orang mu’min yang bisa bersuci dan membersihkan diri sebelum shalat, tetapi tidak mampu menjaga kebersihan diri secara umum dan lingkungannya.

Bahkan yang lebih ironi, setelah berkumpul pada acara-acara keagamaan pun masih menyisakan sampah dan ketidak teraturan. Padahal hampir semua orang tahu bahwa “Ath-thahuru Syatrul Iman” menjaga kebersihan adalah bagian dari perwujudan Iman (HR Muslim: no.223, Ahmad; no. 21834, dan At-Tirmidzi).

Kedisiplinan dan kebersihan harus mulai dari yang terkecil dan terdekat dengan diri kita masing-masing. Kedisiplinan dan kebersihan itu merupakan implementasi dari ibadah-ibadah Mahdah yang kita lakukan. Untuk menjadi Mu’min yang baik tidak cukup hanya dengan melakukan ibadah Mahdah saja, tetapi lebih dari itu dengan mengerti dan memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

(Bagian Kedua dari Tulisan Tentang “Sampah, Risiko Penyakit dan Perilaku”)