30 C
Padang
Minggu, November 28, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Standar Hidup Negara Berkembang
S

- Advertisement -

Oleh: Syaiful Anwar, S.E., M.Si

(Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh)

Hampir diseluruh negara berkembang standar hidup dari sebagian penduduknya sangat rendah. Standar hidup yang rendah didefinisikan secara kuantitatif dalam bentuk jumlah pendapatan uang yang sangat sedikit, perumahan yang kurang layak, kesehaan yang buruk, pendidikan yang rendah, angka kematian tinggi dan peluang mendapatkan pekerjaan rendah. Dibawah ini akan dijelaskan akibat dari standar hidup yang rendah yakni sebagai berikut :

  1. Pendapatan Nasional Per Kapita

Angka total pendapatan merupakan atau produk nasional bruto (GNP) per kapita merupakan konsep yang paling sering digunakan sebagai tolak ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk suatu negara. GNP adalah  nilai moneter atas segenap kegiatan ekonomi yang dimiliki oleh penduduk suatu negara, tanpa haris dikurangu dengan depresiasi atas stok  modal domestik. Sedangkan produk domestik bruto (GDP) merupakan nilai total atas segenap output akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian (baik itu yang dilakukan penduduk warga negara maupun orang-orang dari negara lain yang bermukim di negara bersangkutan).

Jadi GNP = GDP + Pendapatan penduduk domestik di negara lain – pendapatan penduduk asing yang ada di negara tersebut.

            Pada tahun 1992, produk nasional bruto di seluruh dunia diperkirakan mencapai nilai lebih dari US$23 triliun. Lebih dari US$18,3 triliun diantaranya dihasilkan oleh negara-negara maju, sedangkan yang berasal dari negra berkembang kurang dari US$4,8 tiliun. Apabila ditinjau dari sudut peneybaran penduduk dunia, maka sekitar 80 persen dari nilai total pendapatan dunia dihasilkan oleh negara maju yang jumlah penduduknya kurang dari 2- persen penduduk dunia. Negara-negara berkembang yang jumlah penduduknya hampir meliputi 80 persen dari total penduduk dunia hanya memperoleh bagian pendapatan dibawah 20 persen dari output dunia. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara berkembang ternyata kurang dari seperdua puluh pendapatan per kapita yang dimilki negara-negra kaya.

  • Tingkat Pertumbuhan Relatif Pendapatan Nasional dan Pendapatan Per Kapita

Disamping tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita yang rendah, pertumbuhan pendapatan nasional (GNP) di banyak negara berkembang lebih rendah dibandingkan negara-negara maju. Berdasarkan data yang diperoleh dari World Bank mengenai laju pertumbuhan GNP Riil perkapita untuk beberapa negara dekade 1980-an. Selama dekade 1980-an kesenjangan pendapatan antara negara kaya dengan negara miskin semakin melebar dalam kecepatan yang sangat tinggi , paling tinggi selama tiga dekade terakhir.

  • Distribusi Pendapatan Nasional

Terus melebarnya kesenjangan tingkat pendapatan per kapita antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin bukanlah merupakan satu-satunya manifestasi atas melebarnya disparitas ekonomi antara kelompok negara-negara kaya dan miskin. Dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih luas dan mendalam tentang kemiskinan di negara-negara Dunia ketiga, kita perlu pula mempelajari proses melebarnya kesenjangan antara orang-orang kaya dan miskin  yang ada didalam negara-negara berkembang itu sendiri. Hal penting pertama yang perlu diketahui adalah bahwasanya tngkat pendapatan dari semua negara di dunia memang tidak sama. Sampai batas tertentu senantiasa mendapat ketimpangan pendapatan (income inequality). Antara orang kaya dan miskin di semua negara baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang, pasti terdapat perbedaan atau ketimpangan pendapatan yang besar. Hanya saja, ketimpangan di negara-negara berkembang ternyata jauh lebih parah atau lebih besar daripada yang ada di negara-negara maju.

  • Tingkat Kemiskinan

Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung pada dua faktor utama yakni: (1) tingkat pendapatan nasional rata-rata, dan (2) lebar sempitnya kesenjangan distribusi pendapatan. Selama dekade 1970-an, pada saat minat dan perhatian pada masalah kemiskinan tengah menigkat, para ahli ekonomi pembangunan mulai berusaha mengukur luasnya atau kadar parahnya tingkat kemiskinan didalam suatu negara dan kemiskinan relatif antar negara dengan cara menentukan atau menciptakansuatu batasan yang lazim disebut sebagai garis kemiskinan (poverty line). Setelah melakukan telaah yang lebih mendalam, mereka menemukan konsep kemiskinan absolut (absolute poverty) yang kemudian dipakai secara luas. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cuup untuk memenuhi kebutuhan-ebutuhan fisik dasar setiap orang berupa kecukupan makanan, pakaian, serta perumahan sehingga dapat menjamin kelangsungan hidupnya.

  • Pendidikan

Sebagai contoh diantara negara-negara yang paling terbelakang tingkat melek huruf (konsep kebalikan dari tingkat buta huruf) rata-rata hanya mencapai 45 persen dari jumlah penduduk itu artinya tingkat buta hurufnya masih berkisar 55 persen). Untuk negara-negara Dunia Ketiga lainnya yang relatif sudah berkembang, tingkat melek hurufnya 64 persen. Sedangkan angka untuk negaranegara maju telah mencapai 99 persen. Dewasa ini, di berbagai penjuru negara-negara Dunia ketiga, diperkirakan lebih dari 325 juta anak-anak terpakda keluar  (dropped out) daru bangku sekolah dasar dan menengah, karena berbagai alasan.

#SyaifulAnwar #Unand #Payakumbuh

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img