25 C
Padang
Jumat, Januari 21, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

‘Soeharto’ Turun Tangan Dinginkan Beringin
&

Kategori -
- Advertisement -

Ditulis oleh: Hafizd Mukti Ahmad (wartawan di CNN Indonesia). Tulisan opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

“Orde Baru adalah Golkar.” Petikan itu dikutip dari Akbar Tanjung saat CNN Indonesia berkunjung ke kediamannya di Jakarta Selatan tahun 2014, di akhir September, bulan yang menandai awal keretakan partai yang tak pernah menang sepeninggalan Presiden ke-2 Soeharto. “Pun sebaliknya,” kata Akbar menambahkan.

Posisi tokoh tangan kanan Soeharto di rezim Orde Baru itu, saat ini tak pasti, kala Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan kepastian hukum atas kepengurusan Partai Golkar kepada Agung Laksono pertengahan Maret 2015 yang berseberangan dengan kubu Akbar di sisi berlawanan kepemimpinan Aburizal Bakrie. Tujuh bulan terlewati, partai yang lahir 20 Oktober 1964 ini ibarat partai baru, labil, tak bisa mengendalikan situasi pribadi. Gejolak tak berhenti, bahkan hingga kini.

Nama besar Golkar tak diragukan lagi. Di bawah Soeharto, 32 tahun, dua partai lain saat itu PDI dan PPP tak kuasa menandinginya, yang mana hal itu tidak pernah lagi terjadi pascareformasi hingga kini. Semua berawal dari gilang gemilang pemilu 1971. Kekuatan nyaris sempurna, Golkar mencetak kemenangan berikutnya. Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, hingga 1997. “Bayangkan kemenangan Golkar selalu di atas 60 persen dari total pemilih,” kata Akbar.

Jabatan strategis di semua lini terisi oleh barisan ‘Cendana’ termasuk mereka yang berada dalam satu baris komando Soeharto. Tak lupa nama-nama besar dari keluarga Cendana lahir, sebut Mbak Tutut dan Tommy Soeharto, siapa yang tak kenal mereka, saat itu. Soehardiman, pendiri Golkar bertutur sekuat ingatannya kepada CNN Indonesia. Menurutnya apa yang dikemukakan Akbar benar adanya. Orde Baru dan Golkar adalah hal yang berkelindan. “Saling tunjang dan saling memanfaatkan itu hubungannya,” katanya.

Tidak salah apa yang dilakukan Soeharto atas Golkar saat itu, karena kondisi mendukung semua lini atas apa yang dilakukan Soeharto untuk menguasai seluruh negeri, yang kemudian menjadi kesalahan fatal jika Orde Baru saat itu sudah menganut perspektif demokrasi kekinian yang ada di republik ini dan akhirnya pecah di 1998.

Hingga 2014, praktis trah ‘Cendana’ tak muncul kepermukaan, sampai pada akhirnya satu persatu keluar kandang (kembali) meramaikan suasana republik ini. Kiprah ‘Cendana’ diawali Mbak Tutut yang menang atas pengambilalihan kembali Televisi Pendidikan Indonesia sepanjang 2014, hadirnya Titiek Soeharto yang menjadi Anggota DPR RI 2014-2019.

Paling anyar kemunculan putra bungsu Soeharto, Tommy, Hutomo Mandala Putra nama lengkapnya, yang kembali hadir setelah terakhir kali muncul di Munas Golkar Riau 2009, langsung mencalonkan diri menjadi ketua umum Golkar melawan Ical dan Surya Paloh, saat itu.

Tak cukup waktu persiapan, membuat Tommy terjungkal di Riau. Butuh waktu untuk akhirnya bersentuhan lagi secara langsung dengan Golkar yang telah melekat dengannya sejak lahir, sejak pertama partai itu berkuasa saat Tommy berusia 9 tahun.

Kemunculan Tommy yang didaulat menjadi ketua sekaligus pembina asosiasi batu akik ini tak tanggung, mendatangi Ical, Ketua Umum Golkar definitif versi musyawarah nasional Bali. Akbar buka suara, ‘Cendana’ menggalang kekuatan, inisiasi pertemuan itu diprakarsai Titiek, sang kakak. Rasa prihatin atas kondisi beringin menjadi alasan utama Tommy ingin bermediasi dengan Ical.

“Tidak ada kata ‘tidak’ jika serius ingin membesarkan partai, dan tentunya selalu ada kata ‘tidak’ jika berniat merusak partai,” cuit Tommy dalam akun Twitter @HutomoMP_9 , Jumat (10/4), atau empat hari sebelum pertemuan dengan Ical. Dalam pertemuan itu, Tommy disebutkan mendukung munas luar biasa yang menggabungkan kubu Ical dan Agung. Dari situlah bermunculan spekulasi mulai berangnya keluarga ‘Cendana’ yang diwakili Tommy melihat kondisi partai yang dibesarkan sang ayah. Informasi yang beredar Tommy diduga pula mendatangi kubu Agung.

Jika kemudian munas luar biasa bakal digelar, maka spekulasi bisa saja semakin liar. Petarung bisa saja berjumlah tiga orang dalam satu ring, dan bukan tidak mungkin menjadi palagan yang akan dikuasai “Cendana’ mulai saat itu, jika melihat bagaimana begitu berpengaruhnya partai warisan sang ayah atas hidup Tommy, dan seluruh keluarganya.

Tommy perlu lebih lima tahun sampai akhirnya benar-benar muncul lagi peta politik Indonesia, dengan semangat yang ‘mungkin’ lebih besar dari kedua pihak berseteru yang telah terkuras, Tommy jadi dewa penyelamat Golkar, mungkin. Terlebih, dana besar telah digelontorkan Ical selama kampanye dan pemilu, dengan hasil gagal total, ditambah kiprah Agung yang tak terbilang moncer dalam dinamika politk negeri ini dan bukan pula pebisnis ulung.

Biaya mahal berpolitik, khususnya bagi partai sekelas Golkar adalah sebuah keniscayaan. Terlebih sejak 2014, Ical terpental dari daftar 50 besar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, sedangkan Agung tak pernah punya cerita memiliki sokongan dana raksasa. Tak hanya itu, dari 11 perusahaan yang menyokong singgasana Bakrie, tujuh di antarnya memiliki tren negatif.

PT Bakrie and Brothers Tbk pada 2013 kuartal III sampai 2014 di kuartal yang sama mencatatkan pertumbuhan minus 103,01 persen dan PT Bumi Resources Tbk minus 103,53 persen, termasuk PT Darma Henwa, PT Energi Mega Persada dan PT Bakrieland Development merugi, dengan total kerugian di kuartal III 2014 mencapai Rp 1,76 triliun.

Sulit disangkal partai politik tidak membutuhkan biaya besar. Menghidupi ribuan kader dalam struktur DPP hingga daerah, dengan jumlah tak lebih dari Rp 1 miliar bagi Golkar dari APBN sebagaimana diatur dalam UU Partai Politik sangatlah tidak masuk akal. Ihwal keprihatinan dalam konteks partai, dan juga ‘prihatinnya’ para pemangku partai saat ini menjadi pintu masuk bagi ‘Cendana’ sebagai juru selamat yang diawali wacana munas luar biasa, yang sebelumnya ditolak kedua belah pihak, Agung-Ical, sampai akhirnya Tommy berkomentar menginginkan munas segera.

Wajar bagi Tommy yang nyaris menghabiskan seluruh umurnya bersama Golkar, merasa prihatin saat akar beringin tak lagi kuat mencengkram. Bahkan terancam hilang dalam peredaran politik jika dalam pilkada serentak Golkar tak ikut ambil bagian. Tak dipungkiri, ‘Cendana adalah Beringin’ pun sebaliknya, dengan modal 32 tahun berkuasa, akan sangat menyakitkan bagi Tommy melihat warisan sang ayah harus terbelah.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img