Manusia adalah makhluk unik yang diciptakan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi ini dengan keunikannya tersendiri. Ragam keunikan yang variatif itu sekaligus menjadi bukti dan tanda betapa Kuasa-Nya Tuhan atas diri kita. Karena itu, sudah semestinya keunikan tersebut diarahkan pada hal-hal yang positif, sebagaimana keinginan Tuhan terhadap kita sebagai hamba, sampai Ia meridhoi (baca: senang) atas apa yang kita lakukan.
.
Mengenal Keunikan Si Ferdi

.
Namanya Ferdi Ferdian. Ia akrab dipanggil Ferdi. Saya mengenalinya sejak tahun 2010 lalu. Saya bisa berkenalan dengan beliau karena selalu satu kelas dengannya sejak memasuki IAIN IB Padang (sekarang UIN), di samping juga ‘sama-sama’ sebagai angkatan I penerima Beasiswa Bidikmisi di kala itu.
.
Saat pertama kali berkenalan, saya mengenalinya sebagai sosok yang ” cool dan calm in down” dalam bergaul, sampai ia mulai berproses pada salah satu organisasi Mahasiswa Islam yang ada di Kota Padang.
.
Sejak saat itu, Ferdi mulai menunjukkan suatu perubahan yang signifikan, yang pada gilirannya mampu menstimulus mahasiswa lainnya untuk bisa menyadari betapa pentingnya arti sebuah pergerakan bagi kehidupan ini. Suatu perubahan yang pelan, namun pasti.
.
Perubahannya itu lebih terlihat lagi ketika Ferdi mulai mengawali karir kepemimpinannya, mulai dari memimpin Forum Studi Mahasiswa Bidikmisi (FOSMABIM), aktif di kegiatan senat mahasiswa sampai menjadi Presiden Mahasiswa di IAIN IB Padang dan juga aktif di sejumlah organisasi sosial lainnya.
.
Dalam proses tersebut, saya mengamati bahwa proses hidupnya tidak terlepas dari sebuah perjuangan yang harus dituntaskan dengan pasti untuk memperoleh keridhaan dari-Nya. Hidup adalah perjuangan , secara tidak langsung menjadi sebuah slogan dan motto hidup yang kentara melekat erat pada dirinya. Dahsyatnya, slogan tersebut tidak hanya sekedar ungkapan pemanis bibir belaka, namun terus ia buktikan dengan sikap dan tindakan nyata. Salah satu yang khas darinya adalah selalu tampil di garda terdepan dalam memperjuangkan ‘sesuatu’ yang dianggapnya benar, termasuk perjuangan dalam menggagalkan pendirian RS Siloam pada tahun 2013 yang lalu.
.
Diskusi Liar ‘Di Balik Novel Coronavirus?’
.
Sebelum pemerintah mengumumkan gerakan ‘Social Distancing’, dengan tagline #dirumahaja, Ferdi sebetulnya sudah terlebih dahulu memberikan contoh dalam bentuk sikap dan tindakan nyata. (Memang) sebelumnya, sejak pertama kali mendengar Covid-19 (waktu itu masih bernama novel coronavirus, belum dikenal sebagai nCov-19, apatah lagi Covid-19), kami selalu intens berdiskusi, ‘ada apa sebetulnya di balik covid-19 ini?’, adakah kaitannya dengan perang dagang antara AS Vs China, atau China Vs Indonesia atau Iran Vs AS?’, berseliweran bebas dalam pikiran kami ketika itu, namun hanya sebatas nutrisi otak dalam rangka mengasah katajaman analisis semata.
.
Dalam diskusi itu, kami sepakat dan secara tidak langsung sudah mensinyalir bahwa datangnya badai dinamika yang terjadi di tengah arus globalisasi perekonomian di saat pergantian tahun merupakan indikasi utama kenapa peristiwa novel coronavirus ini harus dikaji dan didiskusikan lebih lanjut. Ada apa sebetulnya di balik novel coronavirus?, menjadi sebuah pertanyaan inti yang mengganjal dalam pikiran kami.
.
Dari diskusi tersebut, ada beberapa kecurigaan yang kami alamatkan pada sejumlah peristiwa, yang anehnya terjadi berkelindan, seolah-olah peristiwa itu terjadi ‘by design’. Sekali lagi, hanya sebatas diskusi, dan bukan justifikasi atas realitas yang telah terjadi bagi negara-negara yang disebutkan sebelumnya.
.
Setidaknya ada beberapa analisis kecurigaan atas fenomena yang kami pertanyakan pada waktu itu. Pertama, menjelang tahun baru 2020, perang dagang antara AS Vs China telah tampak berada pada puncak klimaksnya, masing-masing mereka saling claim bahwa merekalah yang bla…. blu… bla… blu… bla…. ini kami jadikan sebagai indikator utama. Kedua, pada saat bersamaan juga terjadi kisruh yang cukup apik mengenai polemik UNCLOS antara China Vs Indonesia. Ketiga, dalam waktu yang bersamaan juga terjadi ‘perang’ antara AS Vs Iran yang bisa berakibat fatal bagi perdamaian dunia karena peristiwa tersebut bisa saja memantik api perang dunia ketiga. Kami menaruh kecurigaan atas beberapa peristiwa yang terjadi pada saat itu, kenapa itu bisa terjadi berkelindan? Mungkinkah peristiwa-peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang mendesign kejadiannya?, menjadi sebuah pertanyaan liar yang selalu muncul dalam pikiran kami umpama sebuah teka-teki yang harus dijawab, demi sebuah tuntutan kebenaran dalam rangka proses mengasah analisis pikiran.
.
Namun, aneh bin ajaib, di saat berita perang dunia ketiga lagi trending dan masih hangat dibicarakan oleh masyarakat dunia, sontak saja, kami langsung dikejutkan oleh pemberitaan heboh yang menampilkan banyaknya warga China yang seketika langsung mati mendadak, entah apa yang merasukinya?, hingga akhirnya trending pemberitaan-pun seketika beralih dari berita ‘isu perang dunia ketiga’ ke berita ‘keganasan novel coronavirus’ yang mematikan sejumlah Warga Kota Wuhan ketika itu, sebuah tampilan yang amat menakutkan dan sadis.
.
Peristiwa itu cukup mengagetkan kami sekaligus memperkuat kecurigaan bahwa peristiwa yang terjadi di Kota Wuhan (novel coronavirus), bisa jadi sebagai sebuah ‘counter’ agar perang dunia ketiga tidak menjadi kenyataan, suatu pilihan ‘counter’ yang hebat dan luar biasa yang ” disiapkan/dipilih China ” bagi kemaslahatan masyarakat dunia. Kalau perang dunia ketiga sampai terjadi, mungkin saja ratusan ribu nyawa akan mati sia-sia sebagai korban/tumbal atas peristiwa kedahsyatan perang tersebut. Alhasil, kita sampai pada satu kesimpulan ‘sementara’ bahwa China itu hebat karena telah berhasil membuat masyarakat dunia bersatu-padu dalam melawan ganasnya serangan novel coronavirus, meskipun harus menjadikan “warga mereka” sebagai “korban/tumbal pertama” demi terhindarnya dunia ini dari peperangan yang memungkinkan akan menelan banyak korban jiwa, jika peristiwa itu betul-betul terjadi. Lagi-lagi, pernyataan ini hanya sebatas opini dalam diskusi yang tak sengaja kami lontarkan untuk menerapkan contoh analisis logika terbalik, dalam mengkaji proses rangkaian peristiwa yang terjadi kala itu. Sebuah pemikiran liar yang masih belum bertuan dan tentu saja, yang paling mengetahui kondisi yang sebenarnya adalah aktor-aktor di balik layar, yang pada saat ini masih bersembunyi atau disembunyikan, jika sekiranya kesimpulan tesis yang diungkapkan seperti itu memang bernilai benar. Jika sekiranya tidak seperti itu atau bernilai salah, maka sekali lagi ini hanya sebatas opini dalam sebuah diskusi untuk membangun kerangka berpikir filosofis dan tentunya hal ini masih membutuhkan banyak respon dan masukan dari berbagai pandangan.
.
Tetap Produktif di Tengah Ancaman

.
Bermodalkan sejumlah informasi tentang fakta nCov-19 yang dikeluarkan oleh WHO, baik secara anatomi maupun karakter dan sifat-sifatnya, yang mengungkapkan bahwa salah satu keunggulan nCov-19 adalah kemampuan membelah dirinya yang super cepat dan mudah menempel dari satu benda ke benda lainnya, tidak terkecuali manusia serta mampu membahayakan sistem pernapasan manusia hingga bisa mengakibatkan kematian, jika tidak diantisipasi sedini mungkin. Ferdi yang sejak awal diskusi sudah mengisyaratkan bahwa penyebaran atas serangan nCov-19 tidak akan menutup kemungkinan juga akan menyasar ke banyak negara di dunia, termasuk, (Indonesia), bahkan daerah-daerah terpencil pun akan terimbas jika tidak dicegah sebaik dan sedini mungkin. Karena itu, Ferdi mulai menghindari daerah perkotaan agar diri dan orang-orang yang berada di sekitarnya tidak ikut terimbas. Padahal, Kota Padang tempat ia bermukim saat ini menjanjikan banyak peluang bagus untuk meningkatkan taraf perekonomian baginya. Bagaimana tidak, ia terpaksa harus mengulur waktu keberangkatan para traveller yang sudah booking keberangkatan jauh sebelum nCov-19 muncul. Tapi bagaimana pun, bisnis travel ‘pai tour’ yang dilakoninya sejak awal tahun 2018 yang lalu terpaksa harus memilih jalan pahit, hanya demi memberikan kualitas pelayanan terbaik kepada para traveller. Dia tidak menginginkan pilihan buruk nantinya akan terjadi bagi para traveller dan juga masyarakat tempat ia bermukim. Karena itu, sebelum pemerintah mengumumkan gerakan ‘ social distancing ‘, ia telah dahulu mengambil kebijakan itu lewat tour dan travel yang ia jalani. Hingga akhirnya, Ferdi harus memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, yang terletak di Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Keputusan ini ia pilih agar melalui gerakan jaga jarak itu bisa memutuskan mata rantai penyebaran nCov-19.
.
Bagi Ferdi, gerakan ‘social distancing’ yang baru saja diumumkan oleh pemerintah sejak beberapa hari ini, adalah sebuah keputusan yang tepat. Hanya saja, kepada masyarakat perlu diberikan contoh dan keteladanan beragam jenis kegiatan bersifat positif-produktif agar hari-hari yang membosankan tidak muncul dalam masyarakat.
.
Lebih lanjut, Ferdi mengungkapkan ada banyak kegiatan produktif yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Terkhusus bagi masyarakat Sumatera Barat yang notebene-nya bersuku Minangkabau tentu telah diajarkan sejumlah kearifan lokal yang bisa dilakukan saat berada di rumah, seperti merajut, menjahit, membuat aneka resep makanan dan sebagainya.
.
Bagi Ferdi sendiri, sebagai seorang tokoh pemuda di kampung halamannya, ia lebih memilih untuk menghidupkan kembali lahan-lahan tidur milik keluarganya agar bisa lebih produktif. Ia mulai membuka lahan mati tersebut dengan membersihkan rumput-rumput dan pepohonan yang sudah mulai menghijau dan panjang. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, kita harus sedapat mungkin untuk menjaga jarak dengan rekan-rekan dan mitra kerja, apalagi dengan mereka yang baru saja kembali dari luar negeri. Karena itu, menurutnya yang paling tepat dilakukan oleh generasi muda adalah menghidupkan kembali lahan-lahan tidur milik keluarga, untuk ditanami dengan aneka tanaman produktif yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang.
.
Akhirnya, Ferdi berpesan kepada seluruh generasi muda Indonesia, khususnya kepada generasi muda Minangkabau agar tetap menjaga jarak dan tetap melakukan kegiatan produktif yang tidak bersentuhan dengan banyak orang, salah satunya kembali ke alam. Saatnyo rang mudo babaliak ka rimbo (saatnya pemuda kembali ke rimba),, guyon Ferdi saat menutup pembicaraan.

Penulis: Oleh: Khairul Zikri, S.Th.I

loading...