Logas,Dulu sering mendengar cerita orang tua tua dikampung akan nama Logeh, ternyata daerahnya Logas Provinsi Riau. Kisah pilu bagi mereka dulu zaman Jepang karena banyak kehilangan saudara yang dibawa kedaerah Logas ini.

kenapa tidak pilu, karena setiap yang dibawa ke Logeh(Logas) tidak satupun kembali pulang. Ternyata disana mereka dipekerjakan secara paksa oleh Jepang. Berikut kita coba salin tulisan dari Nulis.co.id tentang Logas ini.

Tak banyak orang yang pernah mendengar namanya, bahkan letaknya kini nyaris tak terlukiskan lagi dalam peta. Namun inilah mugkin sekeping “neraka” yang jatuh ke bumi. Daerah yang dalam sejarahnya berlumuran darah dan kini menjadi salah satu daerah paling angker dan ditakuti di jantung pulau Sumatera.

Logas adalah nama sebuah daerah pertambangan emas yang hendak dibuka dan dijangkau oleh Jepang dimasa penjajahannya di Indonesia. Para pekerja paksa (romusha) yang didatangkan dari berbagai daerah di Sumatera, Jawa dan orang Belanda yang menjadi tawanan perang dipaksa untuk membuka jalan, menebang pohon, memotong bukit dan selanjutnya memasang rel kereta di tengah hutan perawan yang tak pernah terjamah oleh manusia, penuh duri dan belukar dan binatang buas yang selalu mengintai mereka.

Kerja Paksa (foto : gurusejarah.com)
Kerja Paksa (foto : gurusejarah.com)

Rencana pembangunan jalur kereta ke tambang emas ini sebenarnya pertama kali direncanakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun setelah mereka takluk kepada Jepang, rencana detail pembangunan jalur kereta yang bermula dari Muaro – Logas – Muara Lembu – Lipat Kain – Taratak Buluh – Tangkerang dan berujung di Pekanbaru ini jatuh ke tangan Jepang.

Jepang yang melihat jalur yang strategis dan potensi tambang emas di Logas yang sangat bisa untuk menambah pundi-pundi uang untuk biaya perang ini segera merealisasikannya.

Ratusan ribu orang pekerja didatangkan tersebut pada awalnya dengan janji akan di beri gaji yang menggiurkan. Namun apa hendak dikata, ternyata mereka harus bekerja dibawah todongan bayonet tentara Jepang atau dibayangi peluru yang sewaktu-waktu dapat bersarang di dada.

langitkatablogspot3
Tawanan tentara Jepang dari bangsa kulit putih (Eropa/Belanda)

Mereka diperlakukan sangat tidak manusiawi. Dengan makan sekali sehari dengan umbi-umbian yang tumbuh didalam hutan, mereka dipaksa bekerja tanpa henti. Tidak ada peralatan yang canggih, semuanya dikerjakan dengan tenaga manusia.. Menebang pohon, memotong tebing sampai memasang rel dan membuat jembatan semua dikerjakan secara manual dengan tangan dan keringat para Romusha.

Bahkan yang lebih kejam lagi, tak jarang para tawanan itu “tertimbun” atau lebih tepatnya ditimbun, karena reruntuhan tanah yang sengaja diledakkan dengan dinamit untuk membuka tanah, menggali terowongan atau memecah bukit batu tanpa peringatan terlebih dahulu. Selanjutnya rekan-rekan mereka yang lain kemudian akan menyingkirkan tanah dan batu hasil reruntuhan sekaligus mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang tertimbun.

foto ; langitkata.blogspot.com
foto ; langitkata.blogspot.com

Selain itu, Asupan gizi yang sangat buruk, tidak adanya perawatan kesehatan, serangan binatang buas serta perlakuan diluar batas kemanusiaan, juga menjadi penyebab tingginya angka kematian.

Di jalur rel sepanjang hampir 220 km ini, diperkirakan lebih dari 80.000 orang romusha dan 700 orang tawanan perang berkebangsaan Belanda tewas dan berkubur di disini. Jumlah romusha yang mati ini adalah bagian terbesar dari total sekitar 100.000 orang romusha dan 5000 orang tawanan perang dipekerjakan di jalur rel ini.

Jadi bisa dibayangkan, apabila dihitung disepanjang 220 km rel kereta ini memakan korban 80.000 korban tewas, maka rata-rata korban tewas di setiap kilometer rel ini adalah sekitar 364 orang, atau dengan kata lain jika kita berjalan di rel kereta ini, maka setiap kita melangkah sejauh 3 meter saja, maka akan ada 1 mayat pekerja yang terkubur disana.

Bahkan Henk Hovinga, dalam bukunya yang berjudul “Eindstation Pekan Baru 1944-1945-Dodenspoorweg door het Oerwoud”  terbitan KITLV Leiden, secara detil mengungkap tentang tragedi ini dalam karangannya dengan kalimat “para Romusha dalam suatu neraka hijau, penuh ular, lintah darat dan harimau, lebih buruk lagi miliaran nyamuk malaria, di bawah pengawasan kejam orang-orang Jepang dan pembantu mereka orang Korea”.

Para romusha (foto : jakartapedia.com)
Para romusha (foto : jakartapedia.com)

Namun kenyataannya biaya mahal dan darah yang ditumpahkannya dalam pembangunan “Rel Kereta Maut” ini sangatlah tidak sebanding dengan manfaat yang dapat dihasilkannya. Jalur rel kereta ini juga tercatat sebagai jalur kereta yang paling singkat umur pemakaiannya.

Rel ini diresmikan pada 15 Agustus 1945, hanya 2 hari sebelum kemerdekaan Indonesia dan Jepang dinyatakan takluk kepada Sekutu. Sebuah rangkaian kereta yang mengangkut sisa-sisa romusha yang beruntung karena masih hidup, menjadi kereta yang pertama sekaligus menjadi yang terakhir yang melintasi “Jalur Berdarah” ini. Kereta  berjalan pelan meninggalkan lebatnya belantara hutan Sumatera, meninggalkan jasad-jasad rekan-rekan mereka yang terkubur di bawah lintasan kereta.

Para pekerja yang masih hidup (foto : langitkata.blogspot.com)
Para pekerja yang masih hidup (foto : langitkata.blogspot.com)

Hingga kini hanya ada sisa puing-puing besi rel dan kereta yang teronggok kaku dan menjadi saksi bisu betapa kejamnya perbudakkan manusia yang terjadi puluhan tahun silam di luar nalar dan logika kemanusiaan.

Heningnya belantara hutan Sumatera dan angkernya nama Logas, menjadi satu-satunya monumen pengingat untuk mereka yang kini telah dilupakan.( Adrun Tamhar Yded/nulis.co.id)

loading...