sumber foto: Olivier J Raap, Soeka-Doeka di Djawa Temp Doeloe

Hari ini permainan ceki merupakan permainan kartu yang sangat populer di Sumatera Barat. Mulai dari daerah pesisir, kota-kota, sampai nagari-nagari paling pelosok di dataran tinggi, para pria asik memainkannya.

Permainan kartu yang kini lazim dimainkan oleh empat pemain ini, disebut juga bakoa (bermain koa/ceki).

Ceki biasanya dimainkan sehabis isya sampai menjelang tengah malam di lepau-lepau kopi. Pada momen-momen tertentu bahkan dimainkan sampai menjelang subuh.

Secara aturan dan jumlah kartu, permainan ini berbeda dengan permainan kartu lainnya, misalnya gapleh.

Banyak orang yang menganggapnya sebagai tradisi. Selain dimainkan di lepau kopi, di beberapa tempat, ceki juga dimainkan pada malam bagorak. Yaitu malam menjelang pesta perkawinan atau acara sukuran salah seorang warga. Saat itu warga lainnya akan berdatangan membantu persiapan acara tersebut. Di sela-sela bagorak, biasanya orang-orang bakoa sambil menikmati dendang saluang.

Meski permainan ini sering disamakan dengan perjudian, tidak sedikit pula yang keberatan jika permainan ceki dianggap sama dengan perjudian

Mereka ini lebih suka menyebutnya permainan ber-Adat (main baradaik), main untuk sekadar hiburan serta mempererat pertemanan.

Bagaimanakah sejarah permainan kartu ceki ini? Bagaimana ia mengambil tempat dalam sejarah?

Berasal dari Cina Selatan

Permainan kartu ceki di Asia Tenggara hampir pasti diperkenalkan oleh orang Cina. Jenis permainan serta sebagian besar kata-kata untuk permainan kartu ini berasal dari bahasa Cina bagian selatan, ungkap Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 (2012: 229).

Di Negeri Bawah Angin, sejak lama, permainan kartu identik dengan perjudian. Menurut Reid, bermain kartu semata-mata untuk menghabiskan waktu tanpa bertaruh merupakan kejanggalan. Dimainkan tidak hanya oleh pria, namun juga wanita. Bahkan di beberapa tempat seperti Manila, permainan kartu lebih dikenal “sebagai hiburan utama” para perempuan.

Mengutip pengamatan Grawfurd, Reid menulis “Pada hari pasar, di setiap bagian negeri di mana perjudian terbuka tidak dilarang secara mutlak, lelaki dan perempuan, dan tua dan muda, membagi diri dalam kelompok di jalan-jalan pasar untuk melakukan perlombaan.”

Meski begitu, menurut Reid sendiri permainan-permainan tersebut, “tidaklah terutama didorong oleh keinginan untuk menang besar melainkan didorong oleh keinginan untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok keluarga serta golongan.”

Permainan Kartu Jawa

Di Jawa, permainan ceki dikenal juga sebagai permainan kartu Jawa. “Ceki adalah casino-nya Jawa,” demikian Olivier Johannes Raap dalam Soeka-doeka di Jawa Tempoe Doeloe (2013: 142) saat memberi catatan sebuah foto sekelompok orang tengah menyaksikan permain ceki di Yogyakarta pada 1911.

“Permainan bisa berlangsung sehari semalam tanpa berhenti dengan taruhan uang,” lanjut Raap. Saat itu, permainan ceki hanya dimainkan oleh tiga orang.

Selain untuk bertaruh, kartu-kartu ceki pada masa itu juga dapat dipakai untuk meramal nasib, karena setiap motif yang ada di kartu diyakini memiliki makna tertentu.

Dalam foto lainnya dari tahun 1910, Raap menunjukkan bahwa permainan ceki tidak terbatas pada kalangan bumiputra saja. Orang Tionghoa juga ikut dalam permainan.

“Namun dulu” lanjut Raap, “permainan ceki hanya terbatas pada kalangan priyayi dan keraton.”

Kesenangan Para Priyayi

Akan tetapi Raap tidak memberi keterangan lebih jauh bagaimana ceki menjadi bagian dunia priyayi. Dan Jika gambaran Raap tentang permainan ceki masa kolonial terkesan agak negatif dengan melihatnya lebih pada sarana perjudian, Umar Kayam memberi gambaran berbeda.

Lewat novelnya, Para Priyayi (2003: 50-53), Kayam menggambaran bagaimana proses identifikasi diri priyayi lewat permainan ceki pada masa kolonial.

Dengan menguasai cara bermain ceki, seorang priyayi dapat masuk ke dalam suatu lingkungan pergaulan bernama “kesukan” (kesenangan).
Diterima dalam kesukan bagi seorang priyayi berarti diterima dalam pergaulan priyayi.

Dalam kesukan inilah seorang priyayi belajar lebih banyak tentang bagaimana menjadi priyayi, menambah pergaulan, serta meluaskan jaringan.

Saat bermain ceki, selain bertaruh kecil-kecilan, mereka juga membicarakan banyak hal. Mulai dari gosip remeh-temeh, perkembangan politik, sampai pembicaraan-pembicaraan mendalam seperti makna kehidupan.

Ceki dan Identitas Nasional

Di pantai barat Sumatera, di Padang, pada 1930-an “permainan ceki merupakan pergaulan para pegawai.” Tulis Ismail Lengah dalam memoar berjudul Cerita untuk Anak Cucu (naskah tidak diterbitkan. Tanpa tahun, hal. 15).

Sayangnya Lengah tidak memberi keterangan lebih banyak mengenai aturan main serta besar taruhan atau perbincangan-perbincangan selama berlangsungnya permainan.

Namun, masih berdasarkan memoar Lengah, permainan ceki disebutnya diselenggarakan di sebuah gedung milik suatu perkumpulan bernama Medan Pertemuan. Selain sebagai tempat bermain ceki, di sana juga tersedia meja billiard.

Gedung tersebut jelas merupakan suatu model tandingan dari Rumah Bola-Rumah Bola (rumah sodok) yang eksklusif dan telah ada di Padang semenjak abad 19.

Jika di Rumah Sodok Tuan-tuan Eropa berkumpul sesama mereka sambil memainkan kartu remi Eropa, maka di gedung milik Medan Pertemuan para bumiputra memainkan ceki.

Kelak, pada masa Revolusi, kebanyakan dari anggota Medan Pertemuan ini menjadi bagian dari Badan Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) yang gencar menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menentang apa yang mereka anggap sebagai kekuatan pro-Belanda, termasuk Ismail Lengah sendiri. Medan Pertemuan sendiri, seperti dikatakan Lengah, merupakan salah satu dari sekian perkumpulan pemuda yang bermunculan pasca Sumpah Pemuda.

Dari pengamatan awal ini, saya tidak bisa menahan godaan untuk tidak berasumsi kalau permainan ini–selain memilki hubungan dengan persoal “menjadi priyayi”–juga memiliki kaitan dengan persoalan “menjadi Indonesia” di masa kolonial.

Asumsi ini bisa jadi berlebihan. Walau begitu, bisa dikatakan, sedikit banyaknya, ceki turut ambil bagian dalam pembentukan identitas nasional.

Hari ini, seperti telah disinggung di atas, permainan ceki bisa dikatakan sebagai permainan paling populer di Sumatera Barat. Bisa dikatakan ceki sudah identik dengan orang Sumatera Barat. Perlu penelitian lebih jauh mengenai sebab-sebabnya.

Yang jelas, di meja ceki semua pemain memiliki hak dan kewajiban yang sama. Seorang dengan kedudukan lebih tinggi secara tradisional harus menanggalkan hak istimewanya saat melawan pemain dengan status sosial yang berbeda. Di meja-meja tersebut, status mereka setara, sebagai pamain (pemain). (*)

loading...