BeritaSumbar.com,-Setiap peradaban selalu ada pahlawan dan tokohnya. Persatuan Pemuda adalah kunci kejayaan suatu bangsa. Setiap zaman, ladang perjuangan dan arah pergerakannya tentu juga sangat berbeda. Dulu Pemuda bersatu untuk mengusir para penjajah. Setelah merdeka, pemuda dituntut menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan tersebut.

Tentunya Persatuan Pemuda itu tidak datang secara tiba-tiba. Bukan juga karena kepentingan individu dalam memperoleh keuntungan pribadi. Tapi lebih kepada membela hak-hak dan rasa kemanusiaan yang sudah lama tertindas dan terkoyak-koyak. Semangat juang itu juga dibarengi dengan karakter dan budi pekerti yang kuat. Rasa persaudaraan, se sakit dan se senang.

Nilai-nilai moral yang tertenam di dalam nurani mereka, menjadikan perjuangan itu adalah ibadah dan suatu hal yang wajib dilakukan. Bukan hanya sekedar gagah-gagahan dan unjuk gigi. Pengaruh dari dunia luar tidak begitu dirasakan. Zaman itu sumber informasi paling tren adalah radio. Mungkin Televisi hanya dinikmati oleh kaum berduit saja. Surau-surau penuh sesak. Malu adalah budaya yang mendarah daging di masa itu. Nilai kekeluargaan cukup kental.

Tapi zaman itu sudah berlalu. Semua menjadi kenangan dan nostalgia. Hari ini kita dihadapkan dengan mordenisasi globalisasi yang begitu masif. Persaingan global dan perkembangan teknologi menjangkau sampai ke ranah privat. Kemajuan ini bisa menjadi peluang, juga bisa menjadi ancaman bagi generasi kita hari ini.

Kebebasan berekspresi bisa juga menjadi kebablasan. Budaya malu sudah mulai hilang dan terdegradasi. Kasus demi kasus marak terjadi. Media Sosial menjadi sumber informasi yang paling utama. Sifat Tabayyun tidak lagi menjadi acuan. Berita Palsu (Hoax) tersebar tanpa ada filterisasi. Ajakan dan arahan dari Guru, Orang tua, Ulama dipandang tidak perlu lagi. Dan terkesan dicurigai.

Sudah saatnya Pemuda mengintrospeksi diri. Pendidikan Karakter tidak hanya sebagai jualan teori dan slogan. Tapi tertanam dalam hati sanubari. Supaya arah juang pemuda tampak jelas. Pemuda boleh saja menjadi politisi, tapi politis yang berkarakter. Pemuda boleh saja menjadi pengusaha, tapi pengusaha yang berkarakter. Pemuda boleh saja menjadi apapun yang mereka inginkan. Tapi disetiap ladang perjuangannya diimbangi dengan nilai moral dan karakter yang kuat.

Penguatan ekonomi juga sangat penting. Pemuda diharapkan menjadi Produsen, bukan konsumen. Revolusi Industri 4.0 menuntut pemuda untuk bekerja dan berfikir keras. Menciptakan peluang ekonomi baru. Sehingga pemuda kedepannya menjadi pelaku utama dalam kemajuan zaman ini.

Sudah saatnya pemuda lepas dari gombalan “Negeri ini kaya, SDAnya melimpah ruah, kalau tidak kita yang mengolah siapa lagi”. Ini hanyalah sekedar kata-kata nina bobok. Pemuda harus mampu melahirkan peluang. Bukan hanya memanfaatkan peluang.
“Bialah manjadi kapalo ayam, daripado manjadi ikua gajah”.

Oleh : Harbi Hanif Burdha

loading...