31 C
Padang
Senin, Januari 18, 2021
Beritasumbar.com

Rahma El Yunusiyah, Tokoh Pendidikan Islam
R

Kategori -

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh

A. Riwayat Hidup Rahma El Yunusiyah

Tokoh pendidikan dan Pejuang Islam wanita dari Sumatera Barat ini, lahir di Padang Panjang pada Jumat pagi, tangal 20 Desember 1900, bertepatan dengan 1 Rajab 1318 H, di daerah Bukit Surungan Padang Panjang  dan wafat pada hari Rabu 9 Zulhijjah 1388 H/26 Februari 1969 (Nizar, 2002: 111) (Majalah Hidayah, 2004: 111; (Nizar, 2002: 111). 

Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Syaikh Muhammad Yunus (dari Pandai Sikat) dan Rafi‘ah (dari Sikumbang). Empat saudara Rahmah itu ialah: Zainuddin Labay El-Yunusi, Mariah, Muhammad Rasyad dan Rihanah. Di antara kakak-kakaknya, almarhum Zainuddin Labay (1318-1324 J/1890-1924 M), saudaranya tertua juga mashur sebagai seorang ulama pembaharu sistem pelajaran dan pendidikan di Sumatera Barat Majalah Hidayah, 2004: 111)

Ayahnya adalah seorang ulama dan menjabat sebagai Qadi di Pandai Sikat, Padang Panjang yang juga ahli dalam ilmu falak. Kakeknya adalah Syaikh Imanuddin, ulama terkenal Minangkabau, tokoh Tarekat Naqsabandiyah yang telah berjasa memberantas khurafat dan tempat-tempat keramat (Majalah Hidayah, 2004: 111)

Konon, pernikahan ibunya dengan sang Syaikh berdasarkan pilihan kakaknya, Kudi Urai (Hj.Khadijah), seorang kakak yang selama ini mendidik dan membesarkannya. Saat itu usia Rafi‘ah baru 16 tahun, sedang Syaikh Muhammad Yunus sudah menginjak 42 tahun Majalah Hidayah, 2004: 111.

Pada usia 16 tahun, ia dipersunting oleh Haji Bahauddin Lathif, ulama dan muballigh dari Sampur Padang Panjang. Namun demikian, enam tahun kemudian (1922) ia bercerai karena suaminya terlibat politik Islam Merah. Oleh karena itu Rahmah tidak punya keturunan dari suaminya Majalah Hidayah, 2004: 111)

Semula gadis belia tersebut menolak dinikahkan dengan laki-laki paruh baya yang alim itu. Sebab, disamping usianya yang terpaut jauh dengannya, Rafi‘ah tidak mau menjadi madu dari dari keenam istri Syaikh Yunus lainnya. Namun, karena kepatuhan dan rasa hormatnya kepada sang kakak yang telah membesarkan dan mengasuhnya sejak kecil, Rafi‘ah tidak berani menampiknya. Maka, berlangsunglah pernikahan itu pada tahun 1886 M/1306 H. Dari pasangan inilah, kemudian Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan Majalah Hidayah, 2004: 111)

Sejak kecil, Rahmah sudah terkenal sebagai anak yang keras hati, berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Segala kehendaknya pantang dihalang-halangi. Beliau sanggup menangis berjam-jam apabila keinginannya tidak terpenuhi. Rupa-rupanya watak dan kepribadiannya yang pantang mundur ini, kemudian hari,  menjadi bekal dirinya dalam mengarungi bahtera kehidupan  (Majalah Hidayah, 2004: 112).

Riwayat pendidikannya dimulai dari belajar pada ayahnya. Namun hal ini hanya berlangsung sebentar, karena ayahnya meninggal ketika ia masih muda. Ia kemudian dibimbing langsung oleh kakak-kakaknya yang karena itu telah dewasa. Mula-mula ia belajar membaca dan menulis dari kedua kakak lelakinya, Zainuddin Labay El-Yunusi dan Muhammad Rasyad yang kebetulan telah tamat dari sekolah Gubernemen dan pernah  berguru pada Syaikh Abbas Abdullah (Edwar, 1981: 167). Dan, sebagaimana lazimnya gadis cilik lainnya, Rahmah pun sangat menyenangi pekerjaan masak memasak, kerajinan rangan, jahit-menjahit. Meski masa kecilnya itu, ia juga sering sakit-sakitan (Edwar, 1981: 167).

Ketika menginjak remaja, Rahmah tumbuh menjadi gadis pemalu. Tidak seperti gadis-gadis belia pada umumnya yang suka berkumpul-kumpul, ia jarang bergaul dengan kawankawan sebayanya. Ia lebih banyak menghabiskan aktivitas sehari-hari untuk belajar. Apalagi, setelah kakaknya, Zainuddin Labay mendirikan Diniyah School pada tahun 1915, sebuah perguruan Islam dengan sistem modern, ia ikut belajar pada sekolah yang baru berdiri itu (Edwar, 1981: 167).

Sebagai anak yang cerdas dan berotak cemerlang, Rahmah dengan mudahnya mengikuti pelajaran yang disuguhkan oleh sekolah yang bersistem koedukasi (sistem sekolah yang dicampur antara laki-laki dan perempuan) itu. Apalagi, sebelumnya, Rahmah sudah dibekali pelajaran oleh kakaknya.

Rahmah remaja memang puteri yang luar biasa. Selain tumbuh sebagai wanita yang cantik, ia pun begitu haus akan ilmu pengetahuan. Apa yang diperoleh dari Diniyah School tidak memuaskan hatinya. Oleh karena itu, pada sore harinya ia kemudian belajar pada sejumlah ulama terkenal Minangkabau, yang mana mereka sangat mempengaruhi pemikiran dan punya andil dalam membentuk kepribadian Rahmah. Para ulama terkenal Minangkabau tersebut adalah: Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang Panjang, pengarang kitab Fiqh al-Mu‟in al-Mubin), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, dan Syaikh Daud Rasyidi. Selain ilmu keislaman, ia juga mempelajari ilmu kesehatan (khususnya kebidanan) dan keterampilan-keterampilan wanita seperti memasak, menenun dan menjahit (Ensiklopedi Islam: 151-

152)

Sejarah masa lalu, kadangkala, seperti terulang kembali. Hal inilah yang dirasakan oleh Rahmah muda. Pengalaman menikah 16 tahun yang dialami ibundanya kini terjadi pada dirinya. Selagi gairah menuntut ilmunya bergejolak, atas permintaan kakaknya, Zainuddin Labay, ia dikawinkan dengan Haji Bahauddin Latif, putra seorang ulama yang beraliran Tarekat Naqsabandiyah asal negei Sumpur bernama Syaikh Haji Abdul Latif. Namun sayang, tidak lama setelah perkawinannya, pasangan muda ini harus berpisah. Kegetiran ini terjadi akibat perselisihan paham suaminya dengan mertuanya dalam masalah rabithah dan ushalli. Peristiwa ini menyebabkan H.Bahauddin, suaminya bersikeras meninggalkan surau ayahnya dan kemudian mengajar di Silungkang dan pindah ke Sawah Lunto. Di daerah ini, kelak, suami Rahmah mendirikan Sekolah Diniyah Putera. Rahmah sendiri, kala itu, tidak ikut pindah bersama suaminya, karena sesudah pernikahan itu, ia meneruskan lagi studinya di Diniyah School sampai tamat . kehidupan  (Majalah Hidayah, 2004: 112).

Sewaktu sedang asyik-asyiknya mereguk ilmu, pada tahun 1919, nun jauh di daerah sana, suaminya kawin lagi dengan gadis Jawa bernama Intan. Berita pahit itu diterima Rahmah dengan lapang dada. Rahmah menyadari kalau dirinya sebagai seorang isteri tidak dapat mendampingi suaminya bekerja di kampung lain. Pun ketika pada tahun 1920, sang suami kawin lagi dengan Dji‟ah, janda muda asal Ulak Karang Padang. Rahmah menerimanya dengan penuh pengertian dan berjiwa besar kehidupan  (Majalah Hidayah, 2004: 113).

Pada tahun yang sama, H.Bahauddin menderita penyakit yang amat berat. Berita buruk ini membuat ketiga istrinya datang ke Sumpur untuk merawat suami mereka selama empat bulan. Dalam masa empat bulan itu, Rahmah harus berhadapan dengan madu-madunya yang cukup garang dan tidak mau kalah terhadap satu sama lainnya. Beruntung sekali Rahmah tergolong wanita salehah yang sangat sabar dan tabah, sehingga ia menghadapi istri-istri muda suaminya, Rahmah berusaha menjadi istri yang baik bagi sang suami kehidupan  (Majalah Hidayah, 2004: 113).

Kendati demikian, diam-diam, Rahmah masih menyimpan hasrat intelektual yang begitu kuat. Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia bercita-cita ingin mendirikan sekolah pendidikan khusus untuk kaum perempuan. kehidupan  (Majalah Hidayah, 2004: 113).

Motivasinya untuk memajukan kaum perempuan didorong oleh keyakinan bahwa terdapat masalah-masalah yang khusus berlaku bagi perempuan yang hanya dapat diberikan oleh perempuan pula. (Noer, 1996:62).

Hingga, suatu hari, pernikahan kedua pasangan ini pun harus berakhir pada tanggal 22 Juni 1922, Rahmah resmi berpisah dengan suaminya setelah hidup sebagai suami istri selama enam tahun tanpa mendapatkan anak. Perceraian ini dipicu karena perbedaan pendirian di antara keduanya. Sebagai guru agama, H.Bahauddin secara aktif terjun ke dalam gelanggang politik di Minangkabau, sementara Rahmah sendiri berkeyakinan untuk aktif di dunia pendidikan tanpa diiming-imingi aliran politik apa pun (Noer, 1996:62). 

Usai bercerai dengan H.Bahauddin, gejolak idealis Rahmah yang dul sempat terkubur bangkit kembali. Ia merasa cita-citanya mendirikan sekolah khusus perempuan ini sudah mendesak, agar anak-anak perempuan dapat meraih kesempatan yang lebih luas untuk mereguk ilmu pengetahuan agama Islam lebih banyak dan lebih intensif. Sebab, selama ini sistem pendidikan ko-edukasi yang pernah ia alami betulbetul kurang memadai (Noer, 1996:62).

Pada mulanya, Rahmah sendiri masih ragu-ragu untuk mewujudkan harapan besarnya itu. Apakah masyarakat akan setuju menerima kehadiran sebuah perguruan khusus perempuan? Sebab, selama ini para gadis hanya terkurung di balik dinding rumah gadang sebagai istri atau ibu dari anakanak yang tidak dibekali ilmu dan pengetahuan yang memadai. Namun, bermodalkan semangat dan tekad yang kuat, ia utarakan niat mulianya itu kepada kakaknya, Zainuddin Labay, sebagai orang yang berpengalaman di dunia pendidikan. Gayung pun bersambut. Dan, gagasan Rahmah disambut baik oleh sang kakak. Maka pada tanggal 1 Nopember 1923, ia bersama teman-teman sebayanya yang tergabung dalam organisasi PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyah School) mendirikan sekolah khusus perempuan. Saat itu, secara aklamasi, Rahmah ditunjuk sebagai ketua pengurus oleh kawan-kawannya (Noer, 1996: 114).

Terletak di kota Padang Panjang, Sumatera Barat, sekolah bernama “Al-Madrasah al-Diniyyah li al-Banat” itu berdiri. Sekarang sekololah ini populer dengan sebutan Perguruan Diniyah Puteri. Perguruan ini masyhur sebagai sekolah plus pesantren pertama, se-Asia Tenggara yang mengkhususkan pendidikan untuk kaum perempuan. Bahkan salah satu jurusan bernama Kulliyatul Banat, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir mengadopsi dari perguruan ini. (Majalah Hidayah, 2004: 114).

Di luar dugaan, dari tahun ke tahun, perguruan yang dirintis Rahmah mengalami perkembangan dan kemajuan pesat. Perpaduan kurikulum agama dan umum yang ia terapkan dalam perguruan tersebut benar-benar mendapat sambutan masyarakat luas. Pasalnya sebagai sebagai seorang pendidik ia dapat menerapkan sistem pendidikan modern yang tidak mengadopsi metode Paedagogis Barat sebagaimana yang pernah dilakukan para pembaharu pendidikan lainnya. Hal ini yang membuat pemerintah Belanda melakukan segala cara. Di antaranya kehendak memberi bantuan dana untuk memajukan perguruan tersebut. Namun sayang, Rahmah menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Baginya, lembaga pendidikan itu tidak bisa dicampurtangani oleh kepentingan siapapun. Sebab, bila hal ini terjadi ia tidak akan bebas lagi menerapkan sistem pendidikannya. Ia khawatir, kurikulum pelajarannya akan diatur oleh pihak penguasa sehingga ia tidak dapat mewujudkan cita-citanya untuk membangun bangsa. Tindakan beliau, secara tidak langsung merupakan sikap politiknya sebagai seorang pejuang sejati untuk tidak tunduk pada kepentingan penjajah. Sikapnya demikianlah yang secara tidak langsung menempatkan ia sebagai pejuang yang juga sangat menjunjung nasionalisme (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Rahmah memang sosok yang teguh dalam berprinsip. Hal ini dibuktikan ketika banyak partai politik atau keagamaan yang menawarkan perguruannya agar bernaung dibawah partai atau organisasi mereka, ia menolaknya secara terangterangan. Sebab, bila hal itu terjadi, akan sangat membahayakan pendidikan dan perguruannya. Bahkan, lebih dari itu, tatkala Rasuna Said, salah seorang guru di perguruan Rahmah, mengusulkan agar ilmu politik dijadikan mata pelajaran wajib untuk murid-murid di perguruan, beliau tetap bersikukuh menolaknya (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Meskipun begitu, Rahmah bukan tipikal wanita pejuang yang hanya berani berkata-kata dalam menggembargemborkan nilai-nilai nasionalisme, ia juga berani terjun langsung memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan cara-cara tersendiri. Seperti keterlibatannya dalam panitia Persiapan Kemerdekaan di zaman penjajahan Jepang. Ia mau duduk sebagai salah satu wakil ketua dalam Sumatera Cuo Sang In yang diketahui oleh Muhammad Syafi‘I (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Dan setelah Indonesia menghirup udara kemerdekaan, Rahmah turut mempelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bahkan, dalam pada itu, beliau merelakan rumahnya sebagai markas barisan pejuang Indonesia, mulai dari TKR, TRI (sekarang TNI), sampai pejuang-pejuang berlatar organisasi Islam seperti Lasykar Sabilillah, Lasykar Hizbullah, dan lain-lainnya. Tak aneh, bila saat itu para pejuang kemerdekaan Indonesia menjuluki Rahmah sebagai ―Bunda Kandung‖ barisan perjuangan. (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Angin kemerdekaan memang memiliki berkah tersendiri. Setidaknya, suasana tersebutlah yang dirasakan Rahmah. Beliau banyak melakukan safari dakwah pendidikan dari kongres ke kongres. Pada titik lain, dia juga suka diundang beberapa negara Timur Tengah seperti; Syiria, Libanon, Yordania, Irak dan Mesir guna berceramah seputar dunia pendidikan bagi kaum perempuan. (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Sewakti di Kairo, Mesir, wanita yang pernah mengenyam kursus kebidanan di Rumah Sakit Umum Kayu Tanam dan Gymnastik di Meisje Normal School  di Guguk Malintang ini, meraih gelar ‗Syaikhah‟ dari senat perguruan tinggi Islam Universitas Al-Azhar. Saat itu gelar yang disematkan kepadanya tersebut merupakan gelar yang belum pernah diberikan kepada wanita manapun bahkan kepada wanita Mesir sekalipun. (Majalah Hidayah, 2004: 115).

Sebagai seorang pendidik, murid-murid Rahmah tersebar di semenanjung Indonesia dan Malaysia, baik yang berguru kepadanya secara langsung maupun sekedar mendengarnya dalam seminar-seminar. Menurut Rahmah, usia dan kesehatan bukanlah penghalang bagi dirinya untuk berdakwah dan bercita-cita mencerdaskan anak bangsa. Maka, ketika usianya sudah mulai uzur, ia masih menyempatkan waktu untuk berkunjung ke daerah Penang, Perak, Kualalumpur dan Trengganu yang ada di Malaysia guna menyebarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya (Majalah Hidayah, 2004: 113).

Ketika usianya menginjak 70 tahun, Rahmah masih menyimpan cita-cita besar dan mulia. Antara lain Rahmah ingin membangun sebuah Universitas Islam Wanita yang modern dan representatif untuk kaum perempuan serta berhasrat mendirikan Rumah Sakit Khusus Wanita. Namun sayang, ia belum sempat mewujudkan cita-cita luhurnya itu, Rahmah dipanggil Yang Maha Kuasa pada tanggal 27 Februari 1969, ia menghadap Ilahi dalam keadaan berwudhu untuk mengerjakan shalat Magrib (Majalah Hidayah, 2004: 113).

B. Pemikiran Rahma El Yunusiyah Tentang Pendidikan

1.      Wanita Memperoleh Pendidikan Sesuai Kodratnya

Konsep pendidikan Rahmah El-Yunusiyah didasarkan pada cita-citanya bahwa kaum wanita Indonesia harus memperoleh kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita (Noer, 1969: 62).  Dengan kata lain konsepsi pendidikan Rahmah El-Yunusiyah didasarkan pada konsep pendidikan untuk semua. Falsafah ini diangkat dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits yang memposisikan manusia pada posisi yang sama. Perbedaan di antara manusia yang satu dengan yang lainnya hanya terletak pada tingkat ketakwaan (QS: 49: 13) dan kebermaknaannya di muka bumi. Tujuan ideal ini menempatkan manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu pengetahuan. Proses ini dilakukan sejak manusia berada dalam alam rahim sampai meninggal dunia. (Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005: 256)

Cita-cita Rahmah adalah menjadikan kaum wanita sanggup berdikari untuk menjadi ibu pendidik yang cakap, aktif dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan bangsa dan tanah air. Cita-cita dan tujuannya ini dirumuskan dalam tujuan pendirian Diniyah Putri Padang Panjang Diniyah Putri didirikan oleh Rahmah pada tanggal 1 November 1923 atas bantuan Persatuan Murid-murid Diniyah School yang didirikan oleh kakaknya, Zainuddin Labai El-Yunusi (Nata, 2005: 30). 

Cita-cita dan tujuan pada Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang adalah dua komponen pendidikan yang sulit dipisahkan. Keduanya mempunyai hubungan organik. Kesadaran yang utuh dalam diri Rahmah, yaitu bahwa kaumnya tertinggal dari kaum pria, sedangkan ilmu yang diperoleh melalui sekolah yang memakai sistem ko-eduksi tidak memuaskan, karena banyak persoalan wanita tidak dibicarakan dan dipecahkan secara terbuka, telah menumbuhkan keinginan dan cita-cita di dalam hatinya untuk mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk wanita, agar mereka dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya sebagai istri yang melahirkan anak-anak atau keturunan semata, melainkan dituntut untuk mempunyai derajat yang lebih wajar dan pantas, yaitu sebagai pribadi yang sempurna, menerima dan memberi ilmu, pendapat dan nasehat, yang memungkinkannya duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan kaum prianya. Untuk itu wanita dituntut mengerti hak dan kewajibannya sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat (Abdullah, 1971: 55).

Cita-cita Rahmah ini tampaknya muncul jauh mendahului zamannya, sebab usaha peningkatan peranan wanita dalam pembangunan di Indonesia baru terlihat dengan nyata sejak tahun 1978, saat seorang Menteri Muda Urusan Peranan Wanita diangkat dalam kabinet Pembangunan III, yaitu Ny.Lasiah Soetanto. Dan jika dibandingkan dari cita-cita Kartini, terlihat pula bahwa cita-cita Rahmah ini lebih jelas dan rinci. Pendirian Diniyah Putri telah mendorong terbentuknya kelompok Kaum Muda Wanita terdidik yang energik the energetic female Kaum Muda education group” yang akan memainkan peran yang penting dalam gerakan politik dan sesuai yang lebih luas di Minangkabau, Sumatera Barat. (Rasyad,et.al., 1978: 56).

Cita-cita Rahmah yang demikianlah yang kemudian muncul dalam rumusan mengenai maksud Diniyah Putri, dan memberikan gambaran bahwa ia sangat terpengaruh oleh ajaran Islam. Meskipun demikian pemikiran Pestallozi yang mempengaruhinya tidaklah bertentangan dengan bertentangan dengan ajaran Islam, sebab di dalam Islam ditemukan norma yang menjelaskan ―semulia-mulia manusia adalah yang paling taqwa kepada Allah‖. Nilai-nilai yang mempengaruhi tokoh Pendiri Diniyah Putri sekaligus juga menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang rajin membaca dan mempunyai pemikiran yang luas dan bebas, namun tetap tunduk kepada nilai mutlak yang ada di dalam ajaran Islam (Rasyad,et.al., 1978: 56).

Maksud Diniyah Putri yang dikutip di atas menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang dicita-citakan Rahmah dengan Diniyah Putrinya ini, yaitu:

  1. Anak didik yang bergairah hidup lahir dan batin
  2. Mengajar dan mendidik anak untuk masuk kedalam kehidupan yang sebenarnya.
  3. Menumbuhkan kesadaran untuk hidup mandiri, dan berguna bagi lingkungan
  4. Membina akhlak dan budi pekerti manusia. (Rasyad,et.al., 1978: 56).

Dari keempat kriteria ini, dapatlah dirumuskan bahwa cita-cita Rahmah dengan Diniyah Putrinya secara sederhana, yaitu menggairahkan anak didik secara lahir maupun batin untuk memasuki kehidupan yang sebenarnya, secara mandiri dan dilakukan berdasarkan akhlak yang mulia, agar dapat mendatangkan manfaat yang besar bagi lingkungannya.

Cita-cita ini kemudian dikonkritkan dalam tujuan perguruan ini, yang menjelaskan bahwa perguruan ingin membina para wanita menjadi ibu pendidik bagi putera-puteri Islam, berilmu, dan mencintai Islam, sehingga dapat hidup secara harmonis.

Kajian dan analisis atas teks tujuan pendidikan Diniyah Puteri ini memperlihatkan bahwa:

  1. Diniyah Puteri ingin menyebarluaskan pengetahuan agama kepada para wanita Islam, lantaran mereka pada umumnya malu bertanya. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan menjadi mencintai agama dan masyarakat secara sempurna, dan tetap menjaga kesopanan agar ada kemajuan yang harmonis
  2. Para wanita seperti tersebut pada angka satu akan dididik menjadi ibu pendidik bagi putera puteri Islam, agar mereka berbakti kepada Allah, melaksanakan kewajiban kepada bangsa dan tanah air, tetap menjaga dan dengan nilai ajaran agama yang telah terinternalisasi ke dalam kepribadian mereka.

Kandungan isi tujuan Diniyah Puteri ini tampaknya menekankan kepada pemberian pengetahuan dan moral agama kepada para wanita, yang kemudian dapat pula digunakan untuk mendidik putera dan puterinya, bila telah berumah tangga kelak. Tidak diperoleh petunjuk dari teks tujuan tersebut mengenai ibu pendidik, apakah terbatas di rumah tangga, ataukah juga meliputi ibu pendidik di lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah.

Untuk mewujudkan cita-cita Rahmah dengan Diniyah Puterinya tersebut selain memberikan ilmu pengetahuan baik umum, maupun agama kepada para muridnya, juga memberikan keterampilan, antara lain menenun. Keterampilan menenun ini sebenarnya mempunyai nilai filsafat yang sangat tinggi, yang terungkap dari ungkapan ―dari selembar benang menjadi selembar kain‖ dari salai banang menjadi salai kain. Nilai yang terkandung dari kegiatan menenun ini adalah: 1) cinta hasil karya sendiri, 2) melatih sifat teliti dan sabar, dan 3) pandai mengubungkan silaturrahmi.

Ketiga hal tersebut sebenarnya merupakan modal yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin, karena cinta hasil karya sendiri akan menumbuhkan rasa percaya diri, teliti dan sabar dalam menyelesaikan berbagai masalah, sebagaimana yang digambarkan oleh peribahasa Minang kusuik banang cari pangkanyo, karuah aia cari ulunyo” ‟sedangkan pandai menyambung benang putus akan menumbuhkan sikap pandai menyambung kembali silaturahmi yang telah putus secara bijak seperti yang diungkapkan dalam peribahasa kusuik manyalasai, karuah mampajaniah, putuih manyambuang”.

Rumusan tujuan sederhana yang telah dibahas terdahulu merupakan tujuan yang pertama kali dirumuskan, dan masih merupakan arah atau sasaran dari segala kegiatan pendidikan yang dilaksanakan hingga perguruan tersebut berusia lima belas tahun. Dalam perjalanan selanjutnya, rumusan tujuan ini mengalami koreksi dan penyempurnaan. Pada waktu perguruan ini berusia 55 tahun, rumusan tujuannya adalah sebagai berikut: Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap, aktif serta bertanggung tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air dalam pengabdian kepada Allah SWT.‖ (Rasyad,et.al., 1978: 38).

Koreksi terhadap rumusan tujuan pertama tampaknya lebih ditekankan kepada makna yang dikandung oleh ungkapan ibu pendidik, sehingga pada rumusan kedua, ibu pendidik‖ mempunyai makna yang lebih luas yang dinyatakan dengan ungkapan bahwa ia mempunyai tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Itu berarti bahwa tujuan ini tidak menginginkan wanita hanya sebagai ibu biologis, yang melahirkan keturunan, dan mendidik mereka di lingkungan rumah tangga, tapi juga ibu pendidik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Itulah agaknya yang menjadi sebab dan penyempurnaan tujuan Diniyah Puteri ini.

Makna yang dikandung dalam rumusan tujuan pendidikan sebagaimana yang telah diungkapkan penulis menjelaskan bahwa ibu pendidik mengandung pengertian sebagai ibu pendidik di rumah tangga, ibu pendidik di sekolah, dan ibu pendidik dalam masyarakat (Rasyad,et.al., 1978: 38-39).

Muncul pertanyaan sehubungan dengan ketiga makna yang terkandung dalam rumusan tujuan tersebut, yaitu adakah di antara ketiga tujuan itu yang  menjadi prioritas, ataukah ketiga sub tujuan tersebut mendapatkan porsi perhatian yang berimbang? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam buku Peringatan 55 Tahun Berdirinya Diniyah Puteri, yang menjelaskan bahwa ibu pendidik yang baik dalam rumah tangga merupakan tujuan utama, sebab wanita lebih berpotensi untuk menjadi ibu rumah tangga (Rasyad,et.al., 1978: 38). Hal ini menjelaskan bahwa wanita dipersiapkan untuk menjalankan tugas utama sebagai pendidik di rumah, sebab secara fisik wanita mempunyai rahim, dan mempunyai alat produksi siap saji untuk bayi, sedangkan secara psikis wanita lebih penuh perhatian dan kasih sayang (Rasyad,et.al., 1978: 40).

Tujuan utama tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa dari ibu yang berpendidikan akan lahir generasi terdidik, cerdas, dan berilmu pengetahuan. Pernyataan ini mengundang pertanyaan baru, yaitu apakah tugas utama itu tidak akan menghalangi kesempatan wanita tersebut untuk beraktivitas di luar rumah tangganya? Apa yang penulis bayangkan ternyata tidak seperti yang dipahami oleh subyek penelitian. Bagi mereka, wanita sebagai ibu rumah tangga mengandung makna bahwa titik tolak peranan wanita adalah rumah tangga, dan hal itu tidaklah berarti bahwa wanita hanya untuk kepentingan rumah tangga semata, melainkan bahwa ia dapat bekerja di luar rumah tangganya dengan izin suami.

Pernyataan ini tentu akan mengundang pertanyaan baru, apakah izin suami itu tidak akan menjadi penghalang bagi wanita untuk mengaktualisasikan dirinya diluar rumah tangganya? Hadits berkenaan dengan hal ini banyak digugat oleh aktivis pergerakan emansipasi wanita yang menganggap hadits ini melanggar” hak asasi manusia, sebab telah dimanfaatkan oleh banyak suami untuk melegimitasi sikapnya untuk menghalangi istrinya bekerja dan beraktivitas di luar rumah. Menjawab akan hal ini Abd‘ al-Hay al-Farmawy menyatakan bahwa wanita boleh bekerja di luar rumah jika memenuhi dua syarat, yaitu 1) jika dalam keadaan terpaksa atau darurat, dan 2) harus berada dalam kerangka syariat agar tidak menimbulkan fitnah dengan pria yang bukan muhrim (al-Farmawy, 1984: 88).

Hal ini direalisasikan dengan cara setiap anak dititipkan kepada dirinya sendiri, dalam rangka pembinaan ruhani yang merupakan tiang, atau dasar dari seluruh pembinaan yang dilakukan. Nampaknya upaya untuk menitipkan anak kepada dirinya sendiri yang didasarkan pada iman yang kokoh atas ke-Maha Esa-an Tuhan sangat diperlukan dalam rangka menumbuhkan kemampuan anak untuk mengontrol dirinya sendiri, yang merupakan kekuatan yang tangguh yang dapat  membentengi dirinya dari pengaruh yang tidak sehat yang terdapat dilingkungannya.

Puteri yang berjiwa Islam dalam rumusan tujuan mengandung makna 1) puteri yang berpandangan luas dalam kehidupan, 2) mempunyai sikap hidup yang sesuai dengan ajaran Islam, dan 3) mampu mengusahakan kesejahteraan lahir batin bagi dirinya, maupun masyarakat, dengan jalan mentaati Allah dengan keadasaran untuk mengabdi kepadaNya. Salam rangka itu, semua tunduk pada hukum sebab akibat, sebab meskipun Allah adalah sumber dari segalagalanya, manusia harus tetap berusaha yang disertai dengan doa untuk mendapat hasil yang baik (Rasyad,et.al., 1978: 38). Rumusan tujuan umum perguruan ini dirinci ke dalam tujuan khusus yang merupakan tujuan dari masing-masing jenjang pendidikan yang ada di lingkungan perguruan ini, sebagaimana yang akan dijelaskan.

Tujuan pendidikan pada jenjang pendidikan pra sekolah, yaitu menanamkan dasar-dasar moral agama Islam‖. Ada pun tujuan pendidikan di jenjang penidikan dasar, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah untuk melanjutkan pembinaan moral agama yang telah diterima peserta didik di jenjang pra sekolah. Sedangkan tujuan pendidikan di jenjang Madrasah Diniyah Pertama yang masih merupakan jenjang pendidikan dasar, adalah untuk “memberikan bekal dan kemampuan kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara untuk mengikuti pendidikan menengah bidang agama dan umum dengan pendalaman pendahuluan agama dan bahasa Arab” (Brosur Perguruan Diniyah Puteri, 1992 pada lampiran 7)

Seperti telah dijelaskan bahwa pada tahun 1978, yaitu pada saat  Perguruan Diniyah Puteri memperingati ulang tahunnya yang ke-55, ditemukan penjelasan bahwa tujuan utama pendidikan yang dilaksanakan adalah terbentuknya Ibu pendidik yang baik di lingkungan rumah tangga. Perluasan kandungan tujuan seperti yang dijelaskan oleh subyek penelitian terlihat pula di dalam brosur penerimaan murid baru pada tahun ajaran 1997-1998 yang rinciannya telah penulis jelaskan dalam uraian terdahulu, terutama pada pengertian ketiga yang menjelaskan bahwa Diniyah Puteri  ingin membentuk dan mendidik ibu pendidik yang baik dalam masyarakat, sebagai penganjur wanita, dan menjadi panutan bagi masyarakat, terutama masyarakat wanita.

Pengertian ini nampaknya menunjukkan keinginan Diniyah Puteri untuk mempersiapkan anak didikinya menjadi pemimpin di tengah masyarakat, baik secara bi a-lisan melalui peran penganjur, maupun secara bi al- hal melalui peran panutan, yang nampaknya sejalan dengan konsep : menyeluruh disertai dengan keteladanan ing angso sung tulodo”, dan sejiwa pula dengan al-Quran yang diungkapkan dengan nada bertanya.

Perluasan kandungan tujuan ini terlihat pula pada rumusan tujuan Kulliyatul Mu‟allimat al-Islamiyah, yaitu sekolah guru puteri Islam yang didirikan pada tanggal 1 Februari 1937, suatu sekolah yang memberikan pendidikan setingkat Madrasah Aliyah yang bertujuan untuk :

  1. Mendidik putera-puteri bangsa yang hendak menjadi guru atau yang berbakat jadi guru Islam pada sekolah agama tingkat menengah.
  2. Mempersiapkan mereka untuk dapat melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi Agama Islam (Rasyad,et.al., 1978: 25).

Rumusan tujuan Kulliyat al-Mu‟allimat al-Islamiyah ini memperlihatkan dua sasaran utama yaitu, menjadi guru dan melanjutkan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam brosur Diniyah Puteri yang diterbitkan pada bulan November 1992 terlihat perumusan tujuan Kulliyatul Mu‟allimat alIslamiyah sebagai berikut:

  1. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak didik (siswi) untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama bidang agama dan bahsa Arab.
  2. Meningkatkan kemampuan anak didik (siswi) sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar.
  3. Memberikan kemampuan dasar untuk dapat melksanakan tugas sebagai guru, terutama dalam bidang agama dan bahasa Arab pada tingkat Tsanawiyah dan sederajat.

Rumusan tujuan ini memperlihatkan sasaran yang jauh lebih luas dibanding dengan rumusan tujuan Kulliyatul Mu‟allimat al-Islamiyah yang tercantum pada buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Puteri. Gerakan emansipasi wanita yang melanda seluruh bagian dunia, tampaknya juga memberi pengaruh pada tujuan Kulliyatul Mu‟allimat alIslamiyah yaitu, peningkatan pengetahuan anak didik agar 1) dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, 2) dapat melakukan interaksi secara lebih luas ditengah masyarakat, dan 3) mempersiapkan mereka untuk menjadi tenaga guru.

Tiga sasaran ini sekaligus memperlihatkan keinginan pihak Diniyah Puteri untuk mendidik wanita lebih utuh dan sempurna, yang dapat beraktivitas bukan saja di lingkungan keluarga, tetapi juga di lingkungan masyarakat secara luas. Untuk itu mereka dibekali dengan berbagai ilmu, yang meliputi ilmu untuk keperluan lanjutan studi, ilmu yang dapat diaplikasikan untuk berinteraksi secara harmonis, dan ilmu untuk kepentingan menjadi pendidik.

Rahmah El-Yunusiyah sebagaimana abangnya Zainuddin Labay el-Yunusy, tampaknya juga seorang tokoh yang lahir mendahului zamannya. Hal tersebut terlihat dari cita-cita besarnya yang ingin untuk mewujudkan sebuah Universitas wanita yang mempunyai berbagai fakultas yang meliputi fakultas Syari‘ah, Tarbiyah, Sastra, Psikologi, Perindustrian, Kebidanan/Keperawatan, dalam sebuah kampus perguruan yang modern dan representetif, yang dapat menampung 2000 mahasiswi, serta dilengkapi dengan sebuah rumah sakit khusus wanita. (Rasyad,et.al., 1978: 56).

Meskipun apa yang dicita-citakanya belum terwujud sampai akhir hayatnya, namun langkah ke arah itu telah dimulai, dengan berdirinya Akademi Diniyah Puteri pada tanggal 17 Agustus 1964, dan diresmikan sebagai perguruan Tinggi Diniyah Puteri pada tanggal 22 November 1967 dengan sebuah fakultas yaitu Fakultas Tarbiyah dan Dakwah (FTD), yang pada tahun 1969 diresmikan oleh Departemen Agama R.I. menjadi Fakultas Dirasah Islamiyah dengan status diakui melalui surat keputusan Menteri Agama nomor 117 tahun 1969. Ijazah Sarjana Muda Fakultas ini diakui sama dengan ijazah Sarjana Muda Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (Rasyad,et.al., 1978: 48-50).

3. Kurikulum dan Sumber Belajar Pendidikan Wanita

Kurikulum menurut Addamardasy sebagaimana dikutip oleh Langgulung adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian yang di sediakan oleh pihak sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang secara menyeluruh dalam dalam segala segi, dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan (Langgulung, 1995: 171). Jika hal ini dikaitkan dengan Islam, Islam menekankan pada pendekatan wahyu sebagai sumber ilmu yang dimasukkan ke dalam kurikulum, disamping ilmu yang dicarai dengan akal (Langgulung, 1995: 102). Pengertian semacam ini dipergunakan sebagai alat bantu dalam memahami kurikulum Diniyah Puteri Padang Panjang.

Kurikulum merupakan alat penolong untuk murid mencapai tujuan pendidikan. Alat tersebut berisi materi pelajaran yang akan memberi murid pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, kesenian yang disediakan oleh pihak sekolah baik di dalam maupun di luar sekolah, sehingga mampu mengubah tingkah laku mereka. Semua pengalaman itu harus didasarkan kepada nilai moral ajaran Islam. Hal itu menunjukkan bahwa kurikulum itu berorientasi kepada tujuan.

Aminuddin Rasyad menjelaskan bahwa kurikulum yang dipakai oleh Perguruan Diniyah Puteri adalah kurikulum yang disusun sendiri oleh pihak perguruan, dan telah beberapa kali mengalami perubahan untuk memenuhi tuntutan zaman (Rasyad,et.al., 1978: 467). Saat itu struktur kurikulum yang dipakai dikelompokkan kepada mata pelajaran agama dan bahasa Arab, mata pelajaran umum, dan keterampilan. Sedangkan mata pelajaran keterampilan itu meliputi keputrian, PKK, dan Qiraatul Quran (Rasyad,et.al., 1978: 471). Gambaran ini nampaknya dapat menjelaskan bahwa sebenarnya Diniyah Puteri adalah pelopor dari gerakan PKK yang telah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pengembangan di Indonesia. 

Pengelompokan kurikulum sedemikian itu tidak dapat dilepaskan dari landasan idiil cita-cita pendiri perguruan ini, yaitu :

  1. Al-Quran dan Hadits
  2. Memperjuangkan terciptanya suatu masyarakat Islam yang berakhlak mulia, dengan mengangkat derajat kaum wanita ketempat yang sewajarnya sesuai dengan ajaran Islam.
  3. Cara berjuang untuk mencapai cita-cita adalah melalui pendidikan dan dakwah
  4. Pelaksanaan pendidikan berpedoman kepada tujuan pendidikan (Rasyad, Rahmah: 72).

Landasan ini masih digunakan hingga saat ini, lantaran makna yang dikandungnya masih relevan, yaitu bahwa pendidikan yang dilaksanakan adalah pendidikan yang bertujuan membentuk pribadi yang beriman dan beraqidah Islamiyah, dan melakukan segala sesuatu atas dasar pengabdian kepada Allah.

Selain itu landasan idiil tersebut menekankan bahwa seluruh kegiatan pendidikan di lingkungan Perguruan Diniyah Puteri didasarkan atas hikmah ajaran Islam yang pokokpokoknya termaktub dalam al-Quran dan Sunnah. Hikmah adalah kumpulan ajaran bagi manusia yang memberikan pengertian yang mendalam kepadanya tentang hakikat manusia dan kemanusiannya, mengenai kehidupan dan segala tindak tanduknya di dunia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Hikmah ajaran Islam juga menjelaskan kepada manusia mengenai bagaimna hubungan manusia dengan dirinya sendiri, keluarga, tetangga, dan masyarakat luas, bahkan dengan alam yang luas, dan dengan Tuhan Pencipta Alam itu sendiri.

Karena itu dapat dipahami seluruh aktivitas Perguruan Diniyah Puteri sejak mulai berdiri hingga sampai saat ini, didasarkan kepada al-Quran dan Sunnah untuk membina manusia agar mempunya hubungan yang selaras antara dirinya dengan masyarakat luas, dengan alam ciptaan Allah, dan dengan Allah Yang Maha Pencipta. Untuk mencapai tujuan tersebut dilaksanakan berbagai aktivitas melalui pendidikan dan dakwah.

Perbandingan atau pertimbangan kurikulum seperti yang ditetapkan pemerintah ini nampaknya terlalu menekankan kemampuan otak, sedangkan tujuan pendidikan Diniyah Puteri adalah untuk membentuk puteri Islam yang bukan hanya berilmu, melainkan juga dapat menggunakan ilmunya itu dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada akhlak mulia. Karena itu kurikulum yang ditetapka pemerintah tidak sesuai dengan tujuan pendidikan perguruan (Raharjo, 1997/1998: 274), karena perguruan tidak hanya menginginkan terbinanya peserta didik yang mempunyai kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan kognitif pada tataran afektif dan psikomotorik.

Kurikulum

Sekolah Menengah Diniyah Pertama  setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah, sedangkan Kulliyatul Mu‟allimat alIslamiyah  setingkat dengan Madrasah Aliyah. Di kedua jenjang pendidikan ini kurikulum yang dipakai dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Pendidikan Aqidah Islamiyah, yang meliputi pengetahuan dalam bidang hukum Islam, penguasaan qiraat, dan pemahaman al-Quran dan Sunnah.
  2. Pengetahuan umum dengan semua cabangnya, penetahuan dalam bidang pendidikan dan ilmu jiwa.
  3. Pendidikan keterampilan, yang meliputi PKK, pendidikan organisasi dan dakwah, Pendidikan Kesehatan Terpadu, dan kepramukaan (Saleh, 1996: 340).

Kelompok pendidikan aqidah Islamiyah dimaksudkan sebagai alat untuk menguasai dan mendalami pengetahuan agama tafaqquh fi ad-din‖, kelompok pendidikan umum untuk mengembangkan sikap ilmiah pada diri anak didik, dan kelompok pendidikan keterampilan agar murid mempunyai pengetahuan praktis yang dapat dipakai dalam kehidupannya. Selain itu, pendidikan Aqidah Islamiyah membentuk puteri yang berjiwa Islam, sedangkan pendidikan umum yang diambil dari kurikulum pemerintah dimaksudkan sebagai bekal bagi para peserta didik yang ingin melanjutkan pelajarannya atau bagi yang ingin mencari pekerjaan, dan pendidikan keterampilan dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian pada diri anak didik, sehingga ia bisa menjadi majikan bagi dirinya sendiri. (Saleh, 1996: 149)

Materimateri pelajaran yang ditentukan kurikulum dalam pelaksanaan tersebar dalam beberapa program pendidikan seperti berikut:

  1. Program pendidikan umum (general education) untuk mengembangkan kemampuan sikap ilmiah pada diri setiap anak didik yang tercermin dan terperinci pada kurikulum yang selanjutnya terbagi dalam kelompokkelompok pengetahuan umum, bahasa, keterampilan, dan sebagainya.
  2. Program pendidikan yang bertujuan agar para pelajar memiliki cabang ilmu pengetahuan di bidang keahlian agama dan pengetahuan agama Iskam. Inilah yang menjadi ciri khas dari pendidikan yang ada di perguruan ini. Diharapkan para pelajar yang telah menamatkan studinya di perguruan ini mempunyai bekal pengetahuan agama islam yang dapat dikembangkannya sendiri dalam masyarakat atau sebagai dasar bagi melanjutkan studinya ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari yang pernah di dapatkannya.
  3. Program pendidikan yang mengarahkan mereka kepada tujuan pendidikan, yaitu menjadi ibu pendidik yang baik.
  4. Maka kepada mereka diberukan pula kelompok pengetahuan khusus yang berkenaan dengan pendidikan anak-anak dan keluarga. Dengan pengetahuan ilmu mendidik ini diharapkan mereka dapat mewujudkan dirinya dalam trilogi ibu pendidik yang baik. Kepada mereka diberikan ilmu pengetahuan paedagogi, psikologi, dan ilmu pembantu lainnya.
  5. Program pendidikan keterampilan, yaitu ilmu pengetahuan praktis yang dapat mereka pergunakan dalam kehidupannya sesuai dengan lingkungan hidupnya seperti mata pelajaran kewanitaan, kepemimpinan, cara berdakwah dan sebagainya.
  6. Program pendidikan di asrama. Di lingkungan ini semua pelajar dilatih cara hidup bermasyarakat, memimpin, dan dipimpin, serta mempraktekkan semua ilmu yang mereka peroleh dari bangku pelajaran secara formil di pagi hari seperti muhadharah  atau cara berpidato untuk melatih fikiran, keberanian dan percaya pada diri sendiri. Kepada mereka juga di tanamkan jiwa koperi dengan jalan membuka warung koperasi pelajar pada jam-jam tertentu setiap hari (Saleh, 1996: 370).

Penyebaran program ini, baik secara formal melalui pendidikan di bangku sekolah yang dilaksanakan dai pagi dan sore hari, maupun secara non formal yang dilaksanakan melalui pola asuh dan aktivitas yang diikuti semua pelajar di lingkungan asrama. Hal ini memperlihatkan upaya pembinaan yang dilakukan sepanjang hari terhadap para pelajar yang meliputi pembinaan akal kognitif‖, emosi atau rasa afektif‖, dan keterampilan psikomotorik. Semua ini di dasarkan kepada pembinaan nurani yang disinari oleh rasa iman kepada Allah Yang Maha Esa yang dilakukan melalui pembinaan akhlak yang baik.

Meskipun Perguruan Diniyah Puteri memiliki karakteristik sebagai pesantren, setidaknya jika dilihat dari adanya asrama, masjid, madrasah, kitab arab gundul (tanpa harakat), namun diperguruan ini tidak ditemukan klasik yang disampaikan kiyai. Asrama di perguruan ini berfungsi sebagai tempat latihan hidup bermasyarakat, latihan dipimpin dan memimpin, tempat mempraktekkan ilmu teiritis yang diperoleh secara formal di sekolah, terutama latihan ibadah, kerja sama dan berpidato. Dengan demikian tidak ada bidang studi tertentu yang dipelajari di asarama.

Selain Madrasah Diniyah Pertama dan Kulliyatul Mu‟allimat al-Islamiyah, di lingkungan perguruan ini juga terdapat jenjang pendidikan yang hanya melaksanakan pendidikan di pagi hari, dan para peserta didik tidak tinggal di asrama. Jenjang pendidikan ini dimaksud adalah Taman Kanak-kanak Islam (TKI) Rahmah El-Yunusiyah, Sekolah Dasar Islam (SDI/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam (PGTIK), karena itu proses pendidikan yang berlangsung di jenjang pendidikan seperti di sebutkan di atas, yang juga berada di bawah pembinaan perguruan ini tidaklah berlangsung selama 24 jam, sebagaimana yang dialami oleh peserta didik yang berada di DMP dan KMI. Sementara itu Mahasiswa PGTKI dan STIT sebahagian tinggal di asrama dan sekaligus bertugas sebagai ibu asrama.

Penjelasan rinci mengenai kurikulum yang dipakai di setiap jenjang pendidikan di lingkungan Perguruan Diniyah Puteri adalah sebagai berikut:

  1. Kurikulum Taman Kanak-kanak Islam (TKI) Rahmah elYunusiyah

Kurikulum yang dipakai oleh TKI rahmah el-Yunusiyah ini merupakan perpaduan antara kurikulum yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Kurikulum Raudhatul Athfal (RA) yang ditetapkan oleh Departemen Agama. Dalam tulisan ini pembahasan mengenai TKI ini lebih ditujukan kepada kurikulum RA yang ditetapkan dengan surat keputusan Menteri Agama RI nomor 56 tahun 1981. Hal ini dikarenakan bahwa penggunaan kurikulum yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu dalam pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam kurikulum RA. 

Kurikulum RA yang digunakan meliputi beberapa bidang pengembangan, yaitu : 1) bidang pengembangan penghayatan dan pengamalan agama Islam, 2) bidang pengembangan pendidikan moral Pancasila, 3) bidang pengembangan kegiatan/bermain bebas, 4) bidang pengembangan bahasa, 5) bidang pengembangan pengenalan lingkungan hidup, 6) bidanmg pengembangan ungkapan kreatif, 7) bidang pengembangan pendidikan olah raga, 8) bidang pengembangan pendidikan pemeliharaan kesehatan, 9) bidang pengembangan pendidikan skolastik (pasal 7 Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor 56 tahun 1981).

Prinsip yang dipergunakan dalam penerapan kurikulum tersebut adalah prinsip fleksibel, efisiensi dan efektifitas, serta prinsip yang berorientasi pada tujuan. TKI ini memandang bahwa pengalaman belajar anak harus wajar. Agar proses belajar mengajar itu dapat berlangsung wajar, maka pengembangan kepribadian anak harus sejalan dengan kebutuhan jasmani dan rohani mereka yang pada dasarnya beragam, karena murid memiliki berbagai latar belakang sosial ekonomi dan budaya yang berbeda.

Dalam rangka mempertimbangkan keberagaman itu, maka berbagai program pengembangan tersebut di bagi kedalam beberapa unit, yaitu : 1) unit Islam agamaku, 2) unit kehidupan keluarga, 3) unit masyarakat sekitar, 4) unit alam sekitar, 5) unit pekerjaan, 6) unit industri, 7) unit kesehatan, 8) unit rekreasi, 9) unit komunikasi, dan 10) unit tanah air kita. Dalam pelaksanaannya masing-masing unit ini bukanlah merupakan bagian yang terpisah, melainkan bahwa unit Islam agamaku mewarnai unit-unit lainnya. Dalam rangka menciptakan suasana yang kondusif, disediakan beberapa sudut kegiatan yang meliputi sudut ketuhanan, sudut keluarga, sudut pembangunan, sudut alam       sekitar, dan sudut kebudayaan.

Program-program pengembangan, unit-unit dan sudutsudut kegiatan tidak dilaksanakan secara kaku. Untuk menghindari kekakuan itu, prinsip fleksibelitas, efisiensi, dan efektifitas serta orienstasi kepad tujuan nampaknya memang merupakan pilihan terbaik para guru, sehingga dalam melaksanakan program tersebut tampaknya tidak lebih leluasa dalam memberi dorongan kepada anak untuk menumbuhkan rasa keingintahuan mereka, yang pada akhirnya dapat memperlancar proses belajar.

  • Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah(MI)

Kurikulum ini pada dasarnya sama dengan kurikulum SD. Perbedaanya terletak pada tambahan ciri khas agama Islam yang dimilikinya. Kurikulum ini disamping menekankan kemampuan dan keterampilan dasar yang meliputi : baca, tulis, dan hitung yang diteraokan dalam kehidupan sehari-hari, juga kemampuan dan keterampilan dasar ibadah shalat, baca tulis al-Quran dan pengamalan akhlakulkarimah dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim. Pendidikan dasar ini berlangsung selama 9 tahun yang terdiri atas program pendidikan enam tahun yang diselenggarakan oleh MI dan program pendidikan tiga tahun yang diselenggarakan oleh MTsN yang dilingkungan perguruan Diniyah Puteri di sebut Madrasah Diniyah Pertama.

Muatan kurikulum MI meliputi :

  1. Pendidikan agama

Pendidikan agama untuk tingkat pendidikan dasar meliputi Quran Hadits, aqidah akhlak, Fiqh, sejarah Islam, bahasa Arab, Qiraat.

Di MI, mata pelajaran Quran hadits di arahkan untuk mendorong, membimbing, dan membina kemampuan murid membaca al-Quran, suka membaca al-Quran, mengerti arti dan pokok-pokok kandungan ayat-ayat al-Quran dan Hadits, sehingga dapat meningkatkanb pengetahuan, ilmu, dan takwa serta menjadi pedoman akhlak dan ibadat murid sehari-hari, serta dapat menjadi bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.

Mata pelajaran aqidah akhlak ditekankan pada pembinaan pemberian pengetahuan dan pemahaman rukun iman dengan sederhana, serta pengamalan dan pembiasaan akhlak Islam yang sederhana untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dijadikan bekal untuk pendidikan berikutnya.

Mata pelajaran Fiqh ditekankan pada pengetahuan, pengalaman, dan pembiasaan pelaksanaan hukum Islam secara sederhana dalam ibadah dan prilaku sehari-hari serta sebagai bekal pendidikan berikutnya.

Adapun mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berisi pelajaran tentang pengetahuan sederhana berkenaan dengan awal perkembangan agama Islam pada masa Rasulullah dan Khulafa ar-Rasyidin. Sedangkan mata pelajaran bahasa Arab di arahkan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar menggunakan bahasa yang meliputi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis/mengarang. Sedangkan pelajaran Qiraat dimaksudkan agar para peserta didik dapat mengenal dan terampil membaca huruf Arab.

Arahan kurikulum ini tampaknya meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, disamping merupakan bekal untuk mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan berikutnya. Persoalannya adalah aspek manakah yang mendapatkan porsi yang lebih besar. Jika dihubungkan dengan topik sentralnya yaitu pendidikan agama, tentulah aspek afektif dan psikomotorik yang seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih besar. Hal ini agaknya banyak ditentukan oleh pemahaman guru-guru terhadap Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang antara lain dapat dilihat dari cara guru menyajikan materi pelajaran di kelas.

Proses Belajar Mengajar di MI yang ada di Perguruan Diniyah Puteri ini nampaknya masih menitikberatkan pada pemberian informasi, atau dengan kata lain lebih banyak memperhatikan aspek kognitif. Hal ini terlihat dari dominannya para guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Penggunaan ketiga metode ini sekaligus memperlihatkan bahwa aspek kognitif lebih banyak mendapatkan perhatian, yang agaknya sulit diharapkan dapat membentuk prilaku murid sehari-hari sesuai dengan pesan moral yang terkandung di dalam masing-masing mata pelajaran tersebut.

Pimpinan sekolah ini menyatakan bahwa penugasan ketiga metode ini bukanlah berarti meninggalkan aspek kognitif dan psikomotorik, melainkan  bahwa seluruh guru di lingkungan sekolah secara terus menerus memberikan contoh bahkan teguran, jika ada sikap, perbuatan, dan perkataan murid yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Apa yang penulis saksikan di lingkungan MI ini memperlihatkan bahwa metode pembiasaan dan pemberian contoh juga dipergunakan, yang didukung oleh situasi lingkungan perguruan ini. Metode pembiasaan ini terlihat antara lain dari upaya MI membiasakan anak didik untuk mengucapkan salam, serta membaca hamdalah di saat mengakhirinya, membuang sampah pada tempatnya, tidak mencoreti dinding sekolah, menyayangi teman, menghormati guru, dan sebagainya. Sedangkan pemberian contoh dilakukan antara lain melalui sikap dan tingkah laku para guru dan semua warga perguruan Diniyah puteri yang harus sesuai dengan nilai Islam, sehingga melalui pemberian contoh itu diharapkan terjadi proses identifikasi, dimana para anak didik secara bertahap akan meneladani para prilaku orang dewasa yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian, agaknya proses pengajaran dan pendidikan dengan berbagai metode yang saat ini dominan dipergunakan, memerlukan modifikasi yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikimotorik daripada kognitif.

  • Pendidikan Umum

Bidang pendidikan umum meliputi pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Kerajinan Tangan dan Kesenian, Pendidikan Jasmani.

Mata pelajaran Pendidikan Pancasila berfungsi untuk mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi prilaku sebagai berikut : 1) yang memencarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang beragam agama, 2) yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) yang mendukung persatuan bangsa dalam masyarakat yang memiliki kepentingan yang heterogen, 4) yang mendukung kerakyatan yang meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan melalui mekanisme musyawarah mufakat, 5) yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan bagi sosial bagi rakyat Indonesia (Departemen Agama RI, (1993/1994): 9).

Mata pelajaran ini sebenarnya lebih bersifat fektif daripada kognitif dan psikomotorik. Dalam proses belajar yang bersifat klasikal dan diasuh seorang guru kelas, pelajaran ini nampaknya hampir meninggalkan tataran afektif dan lebih banyak menyentuh tataran kognitif. Hal demikikan terlihat antaralain dalam aktifitas belajar yang menekankan pada upaya menghafal sila-sila dari Pancasila. Meskipun demikan, fenomena di kelas ini nampaknya tidak jauh dari apa yang dikehendaki oleh rumusan yang tertuang di dalam penjelasan fasal 39 ayat 2 Undang-undang republik Indonesia (UURI) nomor 2 tahun 1989 yang menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan  merupakan usaha untuk mebekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat dihandalkan oleh bangsa dan negara.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia pada dasarnya berfungsi untuk mengembangkan kemampuan nalar, komunikasi baik secara reseptif maupun ekspresif, serta membina kesatuan dan persatuan bangsa. Di lingkungan MI in berbagai fungsi tersebut meliputi berbagai sub sistem bahasa, yaitu mendengar, berbicara/bercerita, membaca,dan menulis/ mengarang  (Departemen Agama RI, (1993/1994): 13).

Bagi para murid dikalangan madrasah ini bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu atau bahasa pertama, melainkan bahasa kedua, dimana mereka belajar bahasa Indonesia setelah mereka menguasai secara baik bahasa daerah Minangkabau. Situasi ini nampaknya sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar bahasa Indonesia. Karena itu diperlukan upaya agar bahasa indonesia dipergunakan sebagai alat komunikasi di lingkunga sekolah sehingga berbagai hambatan dalam penggunaan bahasa

Indonesia ini dapat dikurangi.

Adapun pelajaran matematika dimaksudkan agar murid mengenal, memahami, serta mahir menggunakan bilangan dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari  (Departemen Agama RI, (1993/1994): 9). Pelaksanaan proses belajar mengajar di lingkungan MI ini tidak jauh berbeda dengan proses belajar mengajar matematika yang berlangsung di Sekolah Dasar (SD) dimana para guru nampaknya berupaya melibatkan para murid secara mental, fisik, maupun sosial. Apa yang dibicarakan pun masih seputar hal-hal yang kongkrit, sebab para murid belum mampu untuk diajak berbicara sesuatu yang bersifat abstrak.

Mata pelajaran Ilmu Alam  pada dasarnya berfungsi untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan alam, mengembangkan keterampilan, wawasan, dan kesadaran teknologi dalam kaitan dengan pemanfaatan bagi kehidupan sehari-hari. Di MI, pelajaran Ilmu Alam  mulai diberikan sejak kelas tiga lebih bersifat kognitif. Pengetahuan diberikan melalui pengamatan berbagai jenis dan perangai lingkungan alam serta lingkungan buatan  (Departemen Agama RI, (1993/1994): 14).

 Disamping itu pelajaran ini dalam pelaksanaannya juga lebih banyak menyentuh tataran kognitif. Di jenjang MI, mata pelajaran Ilmu Sosial  sebagaimana Ilmu Alam juga dimulai sejak kelas tiga mencangkup pengetahuan tentang lingkungan sosial, ilmu bumi, ekonomi, pemerintahan serta sejarah, yang mencangkup pengetahuan tentang proses perkembangan masyarakat Indonesia dari masa lampau hingga masa kini  (Departemen Agama RI, (1993/1994): 15).

Dalam pelaksanaannya, materi ini nampaknya juga lebih banyak menekankan pada aspek pemberian informasi dan hanya sedikit menyentuh tataran afektif. Tataran afektif hanya terlihat dalam aturan hubungan sosial yang berlaku di lingkungan sekolah.Mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian pada dasarnya berfungsi untuk mengembangkan keterampilan sebagai bekal murid untuk berkarya, menumbuhkembangkan cita rasa keindahan, dan menghargai seni (Departemen Agama RI, (1993/1994): 15).  Dalam pelaksanaannya mata pelajaran ini banyak melibatkan mendorong peserta didik untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam bidang kerajinan tangan seperti dasar-dasar menyulam, menganyam, dan lain sebagainya. Dalam kesenian para peserta didik dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti bermain seruling, harmonika, dan lain sebagainya

Pendidikan Jasmani berfungsi sebagai untuk mengembangkan kemampuan dasar yang mendukung sikap dan prilaku hidup bersih dan sehat serta kesegaran jasmani (permainan dan senam), dasar-dasar kesehatan dan keselamatan, dan kegiatan bermain dalam rangka pembentukan kebiasaan hidup sehat dan segar (Departemen Agama RI, (1993/1994): 15). Dalam pelaksanaannya, selain pemberian materi di dalam kelas, berbagai kegiatan juga dilaksanakan di luar kelas. Hal ini antara lain terlihat dari kegiatan senam, usaha kegiatan sekolah, dan lain sebagainya.

  • Muatan Lokal

Di lingkungan MI ini diajarkan beberapa mata pelajaran muatan lokal, yaitu : mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau, Arab Melayu, Keterampilan Tradisional Minangkabau, Keterampilan Pertanian, dan Bahasa Inggris. Mata pelajaran yang dipilih sebagai muatan lokal ini nampaknya merupakan mata pelajaran yang dianggap perlu oleh masyarakat setempat dan di dukung oleh ketersediaan guru. Hal demikian dimungkinkan oleh peraturan untuk ditetapkan sebagai mata pelajaran muatan lokal (Departemen Agama RI, (1993/1994): 17).

  • Madrasah Diniyah Pertama 

Seperti telah diungkapkan di awal pembahasan mengenai kurikulum ini bahwa kurikulum Perguruan Diniyah Puteri, terutama yang diberlakukan di Madrasah Diniyah Pertama dan Kulliyatul Mu‘allimata al-Islamiyah dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu kelompok pendidikan aqidah Islamiyah, pengetahuan umum, pendidikan keterampilan, dan pengetahuan bahasa Arab. Keempat kelompok ini diberikan dalam rangka pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik para siswa, serta dengan tujuan untuk membentuk puteri yang berpengetahuan dan berjiwa Islam (Saleh, 1996: 134-135).  Jadi Madrasah Diniyah Pertama bukanlah semata-mata bertujuan  mencetak out put yang dapat melanjutkan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi, dimana ijazah yang mereka miliki diakui sama dengan ijazah SMP.

Untuk mencapai tujuan itu, kurikulum Madrasah Diniyah

Pertama dilaksanakan secara terpadu, yatu dengan “cara Diniyah”, artinya Madrasah Diniyah Pertama secara formal memakai kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah Departemen Agama yang memiliki muatan 70% pengetahuan umum dan 30% pengetahuan agama. Dalam pelaksanaanya ke dalam kurikulum tersebut diitegrasikan kurikulum yang disusun sendiri oleh perguruan ini, terutama komponen pendidikan aqidah Islamiyah dan pengetahuan bahasa. Menurut pimpinan Madrasah Diniyah Pertama, penerapan kurikulum Departemen Agama tidak akan dapat membentuk puteri yang berjiwa Islam, sebab kurikulum ini lebih bermuatan aspek kognitif dibanding aspek afektif. 

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Perguruan Diniyah Puteri membentuk kurikulum sendiri yang memuat Pengetahuan agama yang lebih mendalam dibanding dengan pengetahuan agama yang menjadi muatan kurikulum Departemen Agama  RI. Dari kurikulum Departemen Agama, Madrasah Diniyah Pertama memilih muatan ilmu pengetahuan umum yang meliputi: Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Sejarah Nasional dan Sejarah umum, dan Bahasa Inggris. Buku-buku untuk sumber belajar  ilmu agama yang ada di dalam muatan kurikulum Departemen Agama RI dipergunakan sebagai bahan bacaan tambahan.

Mata pelajaran agama yang terdapat di dalam kurikulum Departemen Agama meliputi: Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, Aqidah akhlak, Quran Hadits dan Bahasa Arab. Sedangkan komp[onen pendidikan Aqidah Islamiyah yang disusun sendiri oleh Diniyah Puteri meliputi : Qiraat Quran, Tafsir, Hadits, Tauhid, Fiqh, Akhlak, dan Sejarah Islam dengan menetapkan buku tertentu sebagai sumber belajar, yang semuanya tertulis dalam bahasa Arab seperti buku Risalah al-Tauhid karangan Syekh Muhammad Abduh. Begitu pula untuk pelajaran bahasa Arab, tampaknya Diniyah Puteri menetapkan sendiri materi yang harus dikuasai murid.

Materi pelajaran Keterampilan terbagi pada dua yaitu mata pelajaran mata pelajaran keterampilan yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik dan bersifat kurikuler, meliputi mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), khat (kaligrafi) serta kerajinan dan kesenian. Materi kegiatan keterampilan ini sebagian bersifat wajib dan termasuk ke dalam kelompok kurikulum nasional, yaitu kerajinan dan kesenian, dan ada pula yang masuk ke dalam kelompok muatan lokal, yaitu khat dan PKK. Disamping itu ada pula kegiatan keterampilan yang tidak wajib dan bersifat korikuler, terbuka, dan ditawarkan ke seluruh murid yang berminat untuk mengikutinya. 

Di dalam muatan lokal, selain mata pelajaran PKK dan Khat sebagaimana telah dijelaskan, terdapat pula mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau.

  • Kulliyat al-Mu‘allimat al-Islamiyah (KMI).

Kulliyat al-Mu‟allimat al-Islamiyah (KMI) adalah jenjang pendidikan setingkat Madrasah Aliyah. Kebijakan berkenaan dengan kurikulum Kulliyat al-Muallimat alIslamiyah ini sama dengan kebijakan mengenai kurikulum Madrasah Diniyah Pertama, di mana kurikulum juga dibagi kepada empat komponen. Dalam rangka itu, kurikulum yang dipakai pada dasarnya adalah kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama, yang dipadukan dengan kurikulum yang disusun sendiri oleh perguruan ini. Hal ini dilakukan dengan maksud agar para alumni yang dihasilkan bukan hanya sekedar dapat melanjutkan pelajaran ke jenjang yang lebih tinggi, melainkan agar mereka dapat menjadi puteri yang berjiwa Islam, berakhlak Islam, dan siap membela kepentingan Islam, dapat melakukan hubungan interaksi dengan baik, dan dapat pula  menjadi pendidik yang piawai.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka muatan kurikulum yang diperuntukkan bagi para siswi KMI ini meluputi ilmu pengetahuan umum yang sepenuhnya mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama. Bagi Madrasah Aliyah yang meliputi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Sejarah Nasional dan Sejarah umu, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Pendidikan Seni, Ekonomi, Geografi, Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, Sosiologi, dan Antropologi dan Bahasa Inggris.

Semua mata pelajaran ini mencerminkan bahwa semua Madrasah Aliyah, termasuk Kulliyat al-Muallimat alIslamiyah, yang memakai kurikulum ini pada dasarnya adalah Sekolah Menengah Umum (SMU). Meskipun demikian, Madrasah Aliyah adalah SMU yang berciri khusus. Kekhususan itu terlihat dari mata pelajaran agama yang disediakan yang tidak sama dengan mata pelajaran agama di SMU. Mata pelajaran agama itu meliputi: Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Aqidah akhlak, Quran Hadits, dan Fiqh. Seperti telah dijelaskan, bahwa kurikulum yang diberlakukan di Kulliyat al-Muallimat al-Islamiyah juga merupakan kurikulum terpadu antara kurikulum Departemen Agama dan kurikulum yang disusun sendiri oleh perguruan.

Dalam rangka penerapan kurikulum ini, amata pelajaran agama yang diajarkan di Kulliyat al-Muallimat al-Islamiyah meliputi : Qiraat, Tafsir, Hadits, Fiqh/Faraid, ushul Fiqh, Tauhid, Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), untuk Kulliyat al-Muallimat al-Islamiyah program umum (IPA dan IPS), sedangkan KMI untuk program khusus (agama) materi pelajarannya meliputi : Qiraat, Quran Hadits, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Aqidah Akhlak, Tauhid, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Selain mata pelajaran agama, kepada para murid juga diberikan mata pelajaran bahasa yang meliputi: bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta berbagai keterampilan, baik keterampilan yang wajib diikuti oleh seluruh murid, maupun keterampilan yang tidak wajib diikuti, tetapi ditawarkan, sehingga para murid dapat memilih kegiatan keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka, seperti bordir, komputer, pramuka, menyulam, dan talempong.

Keterampilan wajib ini bersifat korikuler, sedangkan yang ditawarkan bersifat ko-kurikuler. Keterampilan kurikuler meliputimata palajaran PKK, Kesenian, Khat, dan Kerajinan untuk para siswi yang mengambil program umum, sedangkan bagi para siswi yang mengambil program khusus (agama) mata pelajaran keterampilan ini sama seperti pada program umum, kecuali mata pelajaran khat 

Penerapan kurikulum ini sebagaimana yang dilakukan Madrasah Diniyah Pertama, yaitu dengan cara diniyah, dimana dalam pelaksanaannya memberikan penekanan pada penguasaan materi pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab, pembinaan khlaq al-Islamiyah melalui pendidikan yang berlangsung baik di lingkungan sekolah, maupun asrama. 

Disamping itu, disediakan pada mata pelajaran yang  dimaksudkan untuk mengantarkan para siswi memperoleh keterampilan khusus sebagaimana yang dituangkan di dalam tujuan, yaitu menjadi ibu pendidik. Untuk maksud itu, kepada para siswi diberikan pula mata pelajaran ilmu jiwa dan ilmu mendidik. Kedua mata pelajaran ini termasuk ke dalam kelompok pengetahuan umum.

Sumber Belajar

Uraian mengenai kurikulum diatas telah memberikan gambaran bahwa materi pelajaran yang menjadi muatan kurikulum tidaklah semata-mata bersifat teoritis, melainkan aplikatif, dimana semua pengetahuan teoritis harus dapat diaplikasikan dalam sikap perbuatan sehari-hari. Karena itu, materi pelajaran yang bersifat kurikuler didampingi oleh kegiatan ko-kurikuler dan berbagai kegiatan lain yang dimaksudkan agar para siswi meniru, berusaha untuk mengidentifikasi diri, bersimpati, dan mendorong untuk bertingkah laku seperti yang dicontohkan oleh orang-orang yang ada di lingkungan mereka.

Berdasarkan hal tersebut diatas, ada beberapa sumber belajar di perguruan ini, yaitu guru, ibu asrama, kakak kelas, lingkungan kampus, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran. Dengan sumber belajar yang demikian pihak perguruan berharap akan terjadi proses pembelajaran dan pendidikan selama 24 jam.

Kepada guru  sebagai sumber belajar, persyaratan yang diajukan oleh pihak perguruan ini bukanlah semata-mata ijazah sebagai bukti pengakuan otoritas keilmuan yang dimiliki seseorang, tetapi juga keikhlasan dan prilaku yang dapat dijadikan contoh teladan para siswi. Keikhlasan para guru dan siswi dalam proses belajar mengajar akan mengantarkan mereka sampai kepada Allah SWT (Saleh, 1996: 138). 

Tuntutan persyaratan yang harus dipenuhi oleh ibu asrama bahkan jauh lebih berat dibanding persyaratan seoranf guru, sebab ibu asrama lebih merupakan sumber belajar aplikatif, terutama dalam rangka menselaraskan antara kata dan perbuatan yang didasarkan pada nilai Islam. Dalam rangka itu maka ibu asrama mempunyai tugas utama sebagai pengontrol dalam aktivitas belajar, ibadah, kedisiplinan, kejujuran, dan berbagai sikap hidup sehari-hari para siswi.

Kakak kelas terutama para siswi Kulliyat al-Muallimat alIslamiyah, yang tinggal di asrama juga dituntut untuk memberikan keteladanan kepada adik-adiknya, yaitu para siswi Madrasah Diniyah Pertama, yang semuanya terikat dengan aturan asrama.

Lingkungan asrama, juga dijadikan sebagai sumber belajar. Dalam hubungan ini maka gambar-gambar, pergaulan, dan tata krama yang dipelihara dan dianjurkan tampaknya selalu merujuk kepada nilai ajaran Islam. Berkaitan dengan lingkungan ini, maka lingkungan luar asrama pun  juga dijadikan sebagai sumber belajar. Untuk maksud itu, maka khusus bagi siswi yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) KMI diadakan kegiatan karya wisata (study tour) sekali dalam setahun. Obyek utama kegiatan ini adalah tempat penampungan anak-anak cacat, panti asuhan anak yatim piatu, tempat-tempat bersejarah, taman ikan Sea World‖, dan pesantren-pesantren. Maksud utama dari kegiatan ini adalah :

  1. Memperbanyak khasanah ilmu pengetahuan, sosial, dan pendidikan yang dapat dipetik dan dihimpun selama dalam perjalanan.
  2. Perluasan cakrawala pandangan terhadap perintah Allah SWT.
  3. Melihat hasil pembangunan nasional (Saleh, 1996: 221).

Perpustakaan sebagai sumber belajar menyediakan berbagai buku, baik buku-buku paket untuk berbagai materi pelajaran, maupun buku-buku bacaan yang bersifat umum, yang tersedia dalam beberapa bahasa. Buku sebagai sumber belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu buku-buku paket dan buku-buku yang ditetapkan sendiri oleh perguruan ini sebagai buku wajib dalam materi pelajaran agama. Buku-buku paket untuk seluruh materi pelajaran yang ditetapkan oleh kurikulum Departemen Agama RI tersedia di perpustakaan, sedangkan buku-buku wajib harus dibeli sendiri oleh para siswi, khususnya buku pelajaran agama di tingkat Madrasah Diniyah Pertama dan Kulliyat al-Muallimat alIslamiyah. Karena itu, menurut kepala perpustakaan pengadaan buku tidaklah berpedoman kepada kebutuhan buku wajib yang ditetapkan kurikulum, melainkan kepada permintaan para guru.

Sehubungan buku sebagai sumber belajar, Aminuddin Rasyad mengatakan bahwa sumber belajar Madrasah Diniyah Pertama adalah al-Quran untuk mata pelajaran Tafsir yang sekaligus dimanfaatkan untuk belajar bahasa Arab, al-Hadits al Mukhtarah dan Jawaahiir al-Hadits yang ditulis oleh Mawardi Muhammad untuk pelajaran hadits, Mahaadii alTauhid dan Kitab al-Mufid yang dikarang oleh Abdurrahim Manaf untuk pelajaran Tauhid, al-Mu‟in al-Mubin karangan Abdul hamid Hakim dan Fiqh al-Wadhih karangan Mahmud Yunus untuk pelajaran Fiqh, al-Bayan karangan Abdul Hamid Hakim untuk pelajaran Ushul Fiqh, Taisir al-akhlaq karangan Hasan Mas‘udi  dan Makarim al-Akhlaq yang ditulis oleh Umar Bakry untuk pelajaran Akhlak, Ringkasan Sejarah Islam yang dikarang oleh A. Latif Usman untuk pelajaran Sejarah Islam. 

Buku-buku yang dipakai sebagai sumber belajar di KMI s adalah Tafsir Al-Maraghi untuk pelajaran Tafsir, al-Hadits alMukhtarah karangan Mawardi Muhammad untuk pelajaran Hadits, buku Mushthalah al-Hadits oleh Mawardi Muhammad untuk mata pelajaran Mushthalah Hadits, risalah al-Tauhid karangan Muhammad Abduh untuk mata pelajaran Tauhid, kitab al-Bayan karangan Abdul Hamid Hakim untuk pelajaran Ushul Fiqh, Mu‟in al-Mubin yang juga ditulis oleh Abdul Hamid Hakim untuk pelajaran Fiqh, buku Kultur Islam karangan Dr. Amin Husein untuk pelajaran Sejarah Islam, kitab Ilmu Faraid karangan Mahmud Yunus untuk pelajaran Faraid, dan buku al-Adyan yang dikarang oleh Mahmud Yunus juga untuk pelajaran Adyan (Rasyad, 1991: 509-527). 

Berbagai buku yang dipakai sebagai sumber belajar ini ternyata sangat berbeda dengan buku-buku yang dipakai sebagai sumber belajar di pesantren, terutama di Jawa. Sebagai perbandingan penulis akan mengutip apa yang diungkapkan Mastuhu bahwa pesantren Tebu Ireng memakai buku Aqidah al-„Awam untuk pelajaran Tauhid, untuk mata pelajaran Tafsir digunakan buku Tafsir Juz „Amma, Tafsir Jalalain, Tafsir al-Munir, dan Tafsir Ibnu Katsir. Adapun untuk pelajaran Hadits digunakan buku Arba‟in Nawawi, Bulughul Maram, Kifayat al-Akhyar, Tajrid al-Sarih, Jawahir al-Bukhari, dan Bukhari Muslim, sementara untuk Fikih digunakan buku Mabadi‟ al-Fiqh, Taqrib, Fath al-Mu‟in, Fath al-Wahhab, al-Muhadzdzab, al-Asybah wa al-Nazhair, Mizan al-Kubra, dan Minhaj al-„Abidin (Mastuhu, 1994: 170173). Perbandingan ini memperlihatkan bahwa Perguruan Diniyah Puteri menggunakan buku-buku sumber yang diterbitkan di awal abad 20, sementara pesantren Tebu Ireng memakai buku-buku klasik.

3.Pendidikan Keterampilan

Rahmah memasukkan program pendidikan keterampilan sebagai salah satu program yang masuk ke dalam struktur kurikulum. Program ini meliputi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pendidikan organisasi dan dakwah, pendidikan kesejahteraan terpadu, kepramukaan, dan lain sebagainya, yang pada dasarnya untuk ―memberikan pengetahuan praktis yang berguna bagi kehidupan anak didik, supaya mereka tetap memenuhi kewajiban hidupnya, yaitu pandai hidup mempergunakan kekuatan sendiri (Rasyad, 1991: 264). Menurut Dirjen Bimbaga Islam, pendidikan keterampilan kejuruan yang dilaksanakan di Pesantren dimaksudkan sebagai modal para santri untuk memiliki semangat wiraswasta, untuk menunjang pembangunan masyarakat lingkungan, dan untuk menyeimbangkan antara perkembangan otak, hati, dan ketrampilan tangan (Saleh, 1996: 246). Jadi pendidikan keterampilan ini merupakan aplikasi dari pengetahuan taoritis yang diperoleh para siswa.

Aplikasi dari pengetahuan teoritis ini tidaklah terbatas pada beberapa kegiatan seperti yang telah dijelaskan di atas melainkan juga meliputi berbagai kegiatan agama dan bahasa, seperti kemampuan menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Arab.

Menurut Aminuddin Rasyad, pada awalnya pendidikan ketrampilan ini bersifat non formal yang berlangsung di asrama, yang meliputi jahit menjahit, bertenun dengan mempergunakan alat tenun tradisional, dan mencelup kain (Rasyad, 1991: 210-212). Materi pendidikan keterampilan ini nampaknya mengalami perubahan, baik dari sudut substansi maupun dari sudut sifatnya. Dari sudut substansi terlihat dari bertambahnya materi keterampilan ini dengan keterampilan memasak dan home decoration, khusus untuk kelas tinggi. Sedangkan dari sudut sifatnya, mata pelajaran PKK resmi menjadi muatan kurikulum. Pada tahun ini pula perguruan ini menjadi pilot proyek pembinaan pendidikan keterampilan.

Berbagai perubahan dan pasang surut pelaksanaan pendidikan ketrampilan ini juga terlihat dimana di lingkungan perguruan ini telah diresmikan proyek Kesehatan Terpadu oleh Kepala Kanwil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan dan aktivitas yang dilakukan melalui proyek ini dimaksudkan untuk membina anak-anak didik menjadi kader kesehatan, disamping tugas mereka menjadi ibu di rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Untuk menopang terlaksananya program ini, maka di lingkungan kampus perguruan disediakan klinik yang dibantu oleh tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kotamadya Padang Panjang.

Materi lain untuk pendidikan ketrampilan adalah PKK. PKK yang dimaksud disini tidak sama dengan PKK yang diprogramkan pemerintah yang meliputi 10 program pokok PKK, sebab PKK disini adalah Tataboga. Selain PKK masih diberikan ketrampilan lain yang pada dasarnya merupakan ketrampilan yang dianggap harus dikuasai oleh wanita, yaitu: menjahit, menyulam, bordir, menjahit pakaian yang diberikan secara ko-kurikuler. Berbagai ketrampilan yang bersifat kokurikuler ini dapat dipilih murid berdasarkan bakat dan minat mereka. Karena itu ketrampilan ini tidak diikuti oleh seluruh siswi, melainkan oleh mereka yang berminat saja.

Pada mulanya penulis beranggapan bahwa pendidikan ketrampilan yang diberikan kepada para siswi terbatas pada berbagai ketrampilan yang dapat mendukung atau mempersiapkan mereka menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, berupa ketrampilan mengatur menu, mengatur rumah, merawat anak dan mendidiknya, melayani suami dan lain sebagainya. Anggapan penulis rupanya jauh dari kenyataan, karena para siswi juga diberikan ketrampilan berorganisasi, berkoperasi, berpidato (berdakwah), dan talempong, yang diberikan secara ko-kurikuler. Selain itu masih terdapat beberapa materi pendidikan ketrampilan lain yang diberikan secara kurikuler, yaitu khat (kaligrafi), kesenian, dan kerajinan, serta elektronika.

Materi pendidikan keterampilan seperti yang telah dijelaskan di atas adalah materi ketrampilan yang disediakan bagi para siswi Madrasah Dinyiyah Pertama dan Kulliyatul Muallimat al-Islamiyah. Adapun materi keterampilan bagi para siswa/siswi TKI Rahmah el-Yunusiyah disesuaikan dengan usia mereka yang terdiri dari keterampilan melipat kertas, menusuk, menempel, dan mencap. Keterampilan ini pada dasarnya dimaksudkan untuk melatih kemampuan motorik anak. Sedangkan bagi para siswa dan siswi Madrasah Ibtidaiyah pendidikan keterampilan berupa kerajinan tangan dan menggambar.

Selain beberapa pendidikan keterampilan yang dilaksanakan di sekolah, baik secara kurikuler maupun kokurikuler, latihan pembiasaan melaksanakan ibadah secara benar juga dilaksanakan di lingkungan asrama. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan ibadah shalat berjamaah lima waktu, berbicara bahasa Arab, membaca Al-Quran dan lain sebagainya. Sedangkan di lingkungan mesjid diberikan pula keterampilan berorganisasi melalui remaja mesjid al-Fatayat, dimana mereka belajar memimpin dan dipimpin, menyusun program dan melaksanakannya, serta menerima latihan keterampilan berpidato.

Kegiatan ini selain merupakan ibadah, juga merupakan kemahiran membunyikan atau melafalkan bunyi-bunyi huruf Al-Quran sesuai aturan Ilmu Tajwid. Hal ini karena merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh ibu asrama dalam rangka menumbuhkan kebiasaan, sebab kemahiran membaca Al-Quran itu dikhawatirkan akan hilang manakala tidak dilakukan secara kontinu. Pepatah Minangkabau mengatakan apa kaji dek diulang, pasa jalan dek ditampuah”.

Bahasa Arab selain mendapat tempat yang utama bersama-sama dengan mata pelajaran agama dalam struktur kurikulum, juga merupakan muatan kegiatan kokurikuler. Hal tersebut disebabkan karena bahasa bukanlah sekedar pengetahuan belaka, melainkan merupakan alat komunikasi baik secara lisan maupun tulisan.

Berkenaan dengan ibadah shalat seperti yang telah disinggung di atas, yang diperlukan bukanlah hanya pengetahuan mengenai syarat dan rukunnya, melainkan juga kemampuan untuk melakukannya dengan tepat, baik secara sendirian munfarid”, bersama-sama jamaah”, shalat yang terlambat dari jamaah masbuq”, mengingatkan imam jika salah atau lupa, menjadi imam, dan menjadi makmum. Karena itu, kegiatan shalat berjamaah diwajibkan kepada seluruh siswi yang tinggal di asrama. Shalat jamaah dapat dilaksanakan di kamar asrama atau di mesjid.

Dalam pendidikan perkoperasian ada suatu hal yang menarik, di mana toko koperasi sering tidak ditunggu oleh penjaga toko. Pada saat demikian seakan-akan seorang siswi selaku pembeli melakukan transaksi terhadap dirinya sendiri selaku penjual. Selaku pembeli dia akan mengambil barang yang dibutuhkannya, dan selaku penjual dia menerima harga barang dan meletakkan uang resmi sesuai harga barang tersebut di atas sebuah meja yang ada di ruang koperasi tersebut. Sasaran utama orientasi para siswi adalah menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab pada murid, dengan menitipkan anak pada dirinya sendiri. Hal ini agaknya bermakna kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan diri sendiri. 

4. Pendekatan, Metode dan Strategi Pendidikan Wanita

Pendekatan Pendidikan yang dilakukan Rahmah dengan Diniyah Puterinya pada dasarnya adalah pendekatan persuasif. Hal tersebut terlihat dari langkah-langkah yang dipakai oleh perguruan ini, khususnya dalam menghadapi para siswi yang baru tinggal di asrama. Tampaknya Rahmah  sangat menyadari bahwa para siswi yang baru pertama kali tinggal di asrama akan mengalami masa transisi, lantaran situasi di asrama tentu berbeda dengan situasi sebuah keluarga, baik dari sudut jumlah anggota maupun dari sudut aturan yang berlaku. Mereka harus dilindungi dari culture shock.

Untuk menghindari hal itu, langkah yang dilakukan adalah memperkenankan segala ketentuan dan peraturan yang berlaku di lingkungan perguruan ini, baik peraturan sekolah maupun peraturan asrama kepada para orang tua atau wali murid dan kepada para calon siswi yang akan tinggal di asrama. Pengenalan peraturan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pemberian pemahaman awal kepada para calon siswi dan orang tua mereka mengenai berbagai peraturan yang bakal mereka patuhi dan situasi yang bakal dihadapi. Setelah itu pendekatan persuasif ditujukan khusus kepada para siswi melalui beberapa fase, yaitu 1) fase membiarkan, dimana pada bulan pertama tinggal di asrama mereka diberi kesempatan untuk mengamati, mengenali, mempelajari, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, dengan segala aturan yang telah diinformasikan sejak awal kehadiran mereka di asrama. 2) fase menasehati, yaitu suatu masa di mana para siswi belum berhasil memahami secara mandiri aturan yang berlaku, dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang baru, yang mengakibatkan mereka tidak melaksanakannya dengan baik. Meereka ini memerlukan nasehat dan petunjuk. 3) fase menegur, yaitu suatu masa yang disertai dengan berbagai teguran dan sanksi, jika nasehat yang diberikan pada fase kedua tidak berhasil untuk membuat seorang siswi dapat mematuhi berbagai peraturan yang berlaku di lingkungan perguruan ini, 4) fase mengembalikan, yaitu suatu fase dimana para siswi yang tinggal di asrama masih belum dapat juga memahami dan melaksanakan peraturan yang berlaku setelah melalui tiga fase terdahulu, maka perguruan akan mengembalikan tanggung jawab pembinaan dan pendidikan para siswi kepada orang tua mereka.

Melalui empat fase ini perguruan berupaya membawa para siswi secara pelan dan berangsur-angsur masuk ke dalam suatu tatanan baru dan situasi, sehingga tatanan baru ini akhirnya dapat menjadi sesuatu yang terinternalisasi ke dalam kepribadian para siswi. Proses itu dilakukan secara sadar dan terus menerus, sehingga nilai yang ingin dibangun oleh perguruan akhirnya milik para siswi.

Pendekatan lain yang juga dipergunakan adalah pendekatan proses, artinya dalam membantu para siswi agar dapat memahami masalah hukum, umpamanya, pihak perguruan tidaklah semata-mata memakai pendekatan materi pelajaran dan hukum, melainkan juga pendekatan proses. Dalam rangka ini umpamanya, pihak perguruan tidaklah menjelaskan bahwa berzina itu hukummya haram, melainkan bahwa ―haram melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan seseorang kepada perbuatan haram‖, termasuk pergaulan yang tidak mengenal norma dengan pria yang bukan muhrim.

Pendekatan informatif dipergunakan untuk memberikan informasi dan pemahaman, baik kepada orang tua atau wali murid maupun kepada para siswi mengenai berbagai materi pelajaran yang harus dikuasai para siswi dan aturan yang harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Sebagaimana pendekatan persuasif, pendekatan informatif ini juga diberikan secara sadar dan kontinu. Meskipun demikian, menurut hemat penulis pendekatan informatif yang dipakai perguruan masih terbatas pada informasi verbal, sementara informasi non verbal penggunaannya masih sangat terbatas.

Pendekatan terakhir adalah pendekatan praktis dan aplikatif. Penggunaan pendekatan ini dipengaruhi oleh pandangan perguruan bahwa ilmu itu dapat dipraktekkan dan diaplikasikan dala kehidupan sehari-hari. Dalam rangka ini, asrama difungsikan sebagai sebuah laboratorium kehidupan, di mana didalamnya para siswi dilatih untuk dapat mempraktekkan dan mengaplikasikan segala pengetahuan teoritis yang telah mereka peroleh di bawah bimbingan ibu asrama, yang meliputi praktek ibadah, bahasa, sopan santun, pemeliharaan lingkungan, hidup dengan disiplin dan tertib, dan sebagainya.

Berbagai pendekatan di atas diikuti dengan beberapa metode yang dipergunakan di bidang pendidikan dan pengajaran. Di bidang pendidikan perguruan lebih mengutamakan metode pembiasaan sehingga sesuatu nilai masuk ke dalam struktur pribadi anak. Nilai di sini adalah nilai Islam, dan nilai falsafah negara Pancasila serta nilai falsafah adat Minangkabau yang tidak bertentangan dengan nilai Islam. Di bidang pengajaran banyak dipergunakan metode ceramah, pemberian contoh, demonstrasi, diskusi, tanya jawab, dan kerja kelompok.

Rahmah (Diniyah Puteri) tampaknya menyadari adanya perbedaan individual di antara para siswi yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya, adat istiadat dan pendidikan. Untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi para orang tua siswi, baik yang tinggal di kota Padang Panjang, maupun tidak. 

Khusus orang tua siswi yang tinggal di Padang Panjang, pembinaan hubungan kerja sama dengan mereka dilakukan sejak anak-anak mereka pertama kali masuk asrama, saat mana kepada mereka diperkenalkan berbagai peraturan sekolah dan asrama yang akan diberlakukan kepada anakanak mereka. Hal ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi mengenai pola asuh yang akan diberlakukan kepada para siswi, dan tanggung jawab yang diemban perguruan.

Setelah perkenalan pertama ini, para orang tua siswi akan bertemu secara rutin dengan para guru, pimpinan sekolah, dan pimpinan asrama setiap kali anak-anak mereka akan memasuki masa liburan sekolah dan setiap masa liburan sekolah selesai, sebab pada  waktu-waktu tersebut para siswi harus dijemput oleh orang tua mereka, dan diantarkan kembali ke asarama jika masa liburan telah berakhir. Jemput dan antar kembali ini adalah dalam rangka serah terima pertanggung jawaban. Saat yang demikianlah yang dimanfaatkan oleh perguran untuk melakukan komunikasi dengan para orang tua murid, membicarakan berbagai persoalan pembinaan murid secara umum, dan secara khusus bagi siswi yang memang mempunyai permasalahan, dalam rangka membangun kerjasama dalam membina para siswi. Jika ditemukan seorang siswi yang mempunyai masalah dan sulit untuk diperbaiki, sementara orang tuanya tidak menunjukkan kepedulian, maka siswi tersebut dikembalikan kepada orang tuanya.

Sedangkan kerjasama dengan para orang tua siswi yang tinggal di Padang Panjang  berlangsung jika anak-anak bermasalah, maka orang tua mereka akan disurati atau diminta datang ke sekolah untuk membicarakan persoalan anak-anak mereka.

Pendekatan, metode dan strategi ini jika dihubungkan dengan pandangan Rahmah, mengenai kedudukan, peran dan ilmu serta keterampilan yang perlu dimiliki wanita, agaknya kurang memadai, sebab untuk berperan sebagai ibu dalam arti luas diperlukan praktek, sementara praktek ini frekuensinya agak kecil.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Polres Pessel Gelar Giat AYO PAKAI Masker

Anggota Satlantas Polres Pesisir Selatan memasang stiker bertuliskan " Ayo Pakai Masker", di kendaraan roda dua dan roda empat, yang melintas di kota Painan, Jum'at (15/1). Selain stiker, juga dibagikan masker pada warga, juga pengendara di wilayah Hukum Polres Pessel, Jum'at (15/1).
- Advertisement -

Tingkatkan Pelayanan, Di Payakumbuh Buku KIR Ditiadakan, Diganti Smart Card

Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perhubungan (Dishub) untuk meningkatkan layanan kepengurusan pengujian kendaraan bermotor KIR atau uji kelayakan kendaraan pada kendaraan umum, baik itu angkutan umum maupun kendaraan barang. Sehingga, sekarang telah diterapkan sistem Smart Card (Kartu Pintar) KIR.

Asrama Putri Pesantren Cahaya Islam Payakumbuh Terbakar

Kebakaran hebat terjadi di Lingkungan Padang Kaduduak, Kelurahan Tigo Koto Diate, Kecamatan Payakumbuh Utara, Sabtu (16/1) dini hari. Gedung Asrama Putri Pondok Pesantren Cahaya Islam terbakar sekitar pukul 01.10 WIB.
- Advertisement -

Seleksi LTMPT Terbuka untuk Jalur Vokasi

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) siap mendukung seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi vokasi se-Indonesia. Selain Politeknik, perguruan tinggi yang memiliki jalur vokasi dapat bergabung pada seleksi yang khusus dibuka untuk jenjang Diploma IV atau Sarjana Terapan.

Darurat Gempa Majene! Segera Bantu Saudara Terdampak!

Dilansir laman resmi BNPB, Data per Jumat (15/1), pukul 06.00 WIB, BPBD Mamuju melaporkan korban meninggal dunia 3 orang dan luka-luka 24. Sebanyak 2.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sedangkan kerugian material berupa kerusakan, antara lain Hotel Maleo dan Kantor Gubernur Sulbar mengalami rusak berat (RB). Jaringan listrik masih padam pascagempa.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka

Padang Panjang, beritasumbar.com- Wakil Walikota Padang Panjang  Asrul menyatakan daerah tersebut siap menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan dimulai Senin, 11 Januari. "Kami meninjau...

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama abad ke-14...

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis dianjurkan oleh Rasulullah, bagi umat muslim baik laki-laki maupun perempuan.Sesuai dengan namanya, puasa sunnah ini dikerjakan setiap hari Senin dan Kamis. Puasa...

Doa Sebelum Tidur dan Filosofi Maknanya

Tidur adalah salah satu aktivitas semua orang. Tidur selain merupakan bentuk istirahat seseorang setelah beraktivitas, bisa bernilai ibadah, jika memang diniatkan untuk beribadah. Umat Islam...

Niat Mandi Sunah Sebelum Sholat Jumat

Hari Jumat adalah hari yang penuh dengan keberkahan. Di hari itu umat Islam dianjurkan banyak membaca zikir, doa, dan membaca surah-surah pilihan, seperti surah...

M.Natsir, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup M.Natsir Muhammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Solok,...

Buya Hamka, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Hamka Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau Hamka,  lahir  di Sungai Batang,...

Daud Rasyidi, Tokoh Pendidikan Islam

DAUD RASYISIDI Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Daud Rasyidi Daud Rasyidi dilahirkan dalam kalangan keluarga sederhana tahun 1890 H M/1279...

Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Muhammad Jamil Jambek Syaikh Muhammad Jamil Jambek (disingkat Syaikh Jambek) dilahirkan di Bukittinggi...

Abdul Hamid Hakim, Tokoh Pendidikan islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Abdul Hamid Hakim Abdul Hamid Hakim dilahirkan di desa Sumpur, terletak di tepi Barat Danau...
- Advertisement -