27 C
Padang
Minggu, Mei 19, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Mengenali Hama dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Cengkeh
M

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Dr. Silvia Permata Sari S.P., M.P.
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Tanaman cengkeh sudah tidak asing lagi di nusantara ini. Pernah jadi komuditas unggulan dulunya. Tidak heran tanaman yang bernama asli Syzygium aromaticum ini disebut juga dengan emas coklat.

Cengkeh pernah mendongkrak perekonomian petani dari dulunya. Untuk bisa mendapatkan hasil panen yang baik tentu butuh pengetahuan juga tentang hama dan cara pengendaliannya pada tanaman cengkeh ini.

Hama pada tanaman cengkeh bisa menyerang baik di areal persemaian (bibit), maupun di sekitar areal penanaman. Namun serangan hama biasanya paling banyak terjadi di areal penanaman. Adapun hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cengkeh pada areal penanam yakni hama penggerek batang, penggerek cabang, hama rayap, penyakit jamur akar, penyakit pucuk busuk, dan penyakit mati bujang.

Pada artikel ini akan diuraikan beberapa jenis-jenis hama dan penyakit penting yang dapat menyerang tanaman cengkeh beserta gejala serangan dan cara pengendaliannya.

  1. Hama Penggerek Batang (Nothopeus spp.)

Beberapa spesies hama penggerek batang yang menyerang tanaman cengkeh adalah Nothopeus hemipterus, Nothopeus fasciatipennis, Nothopeus fasciatipennis, Hexamitodera semivelutina. Adapun gejala serangan hama penggerek batang adalah pohon yang terserang akan muncul lubang-lubang sebanyak 20 – 100 buah lubang berukuran 3 – 5 mm yang ditutupi serbuk kayu hasil gerekan. Daun menguning, pertumbuhan tanaman akan terhambat, dan pada serangan berat menyebabkan kematian tanaman. Cara pengendalian: mengambil dan pemusnahan telur penggerek batang yang menempel pada kulit batang, penutupan lubang-lubang gerekan dengan pasak kayu, memasukkan insektisida dengan cara menutup lubang-lubang dengan kapas yang telah disemprot dengan insektisida seperti Curacron 500 EC 0,1-0,2%, Dimercon 100, Akodan 35 EC 0,5-0,15%, penaburan insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran (Furadan 3G dosis 115-150 gram/pohon) dengan interval 3 bulan sekali, atau racun pernapasan ke dalam lubang gerekan kemudian ditutup dengan pasak kayu.

  1. Penggerek Ranting (Coptocercus biguttatus Dinov)

Spesies hama penggerek ranting tanaman cengkeh adalah Coptocercus biguttatus Dinov. Gejala serangan hama penggerek ranting yaitu terdapat lubang-lubang gerekan pada permukaan ranting, biasanya gerekan tersebut berdiameter 1,8 mm. Serangan hama penggereke ranting akan mengakibatkan ranting dan daun mengering atau meranggas. Adapun cara pengendaliannya yaitu sama dengan pengendalian hama penggerek batang.

  1. Hama Perusak Pucuk atau Kutu Tempurung (Coccus viridis)

Spesies hama perusak pucuk pada tanaman cengkeh adalah Coccus viridis (kutu tempurung). Adapun gejala serangannya adalah Daun yang terserang akan menguning, mengering, dan akhirnya gugur. Hama ini dapat menyerang tanaman muda maupun tanaman produktif. Cara pengendaliannya hama kutu tempurung ini adalah dengan memotong ranting yang terserang, kemudian membakarnya. Kemudian jika populasi hama kutu tempurung tinggi makan semprot dengan insektisida seperti Decis 2.5 EC, Marshall, Akodan 35 EC, Curacron 500 EC, dan Bestox 50 EC, dengan interval 1x dalam 7-10 hari.

  1. Penggerek Cabang (Xyleborus sp. dan Ardela sp.) Spesies hama penggerek cabang yang menyerang tanaman cengkeh adalah Xyleborus sp. dan Ardela sp. Adapun gejala serangan hama penggerek cabang adalah adanya lubang-lubang gerekan dengan berbagai ukuran pada permukaan kulit cabang. Akibatnya, cabang-cabang tanaman cengkeh menjadi lemah, mudah patah, mati tunas, daun ranting mengering, dan akhirnya cabang mati. Cara Pengendalian: Mengambil dan pemusnahan telur penggerek cabang yang menempel pada cabang atau ranting tanaman cengkeh, dan disemprot dengan insektisida seperti Curacron 500 EC 0,1-0,2%, Dimercon 100, Akodan 35 EC 0,5-0,15%, Furadan 3G dosis 115-150 gram/pohon dengan interval 3 bulan sekali.
  2. Hama Perusak Daun (Anthriticus eugeniae dan Carea angulata)

Dua spesies hama perusak daun cengkeh yang sering dijumpai di lapang adalah Anthriticus eugeniae dan Carea angulata. Gejala serangan hama perusak daun tersebut yaitu pada bagian pinggir dan tengah daun terdapat bintik-bintik, dan bekas gigitan ulat. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi gundul sehingga produksi tanaman cengkeh menurun. Cara pengendalian hama perusak daun ini yaitu dengan cara mengurangi kelembaban di sekitar kebun melalui pemangkasan atau penebangan tanaman yang menaungi tanaman cengkeh, penyemprotan terbatas pada bagian tanaman terserang terutama saat populasi larva masih muda menggunakan insektisida Marshall, Akodan 35 EC, Curacron 500 EC, dan Bestox 50 EC dengan interval 1x dalam 7-10 hari.

  1. Rayap

Hama rayap biasanya menyerang akar bibit tanaman cengkeh yang baru dipindahkan ke areal tanam (lapang). Ada kalanya rayap menyerang bibit yang sebelumnya tidak disemprot insektisida. Bagian lain yang diserang rayap biasanya kulit akar hingga leher akarnya, dan apabila kulit akarnya dimakan habis, otomatis tanaman akan cepat mati. Untuk menyiasati hal itu, kita perlu menyemprotkan obat anti rayap serta insektisida merk Dildrin dan Endrin.

  1. Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC)

Mikroorganisme penyebab penyakit bakteri pembuluh kayu pada tanaman (BPKC) adalah bakteri Pseudomonas syzygii. Gejala serangan penyakit BPKC adalah tanaman terserang akan mengalami keguguran daun secara mendadak, diikuti kematian ranting-ranting pada pucuk. Terkadang, percabangan atau seluruh tanaman layu mendadak dan mengakibatkan daun menjadi kering. Cara pengendaliannya adalah apabila tanaman mengalami keguguran daun, maka segera infus pangkal batang atau akar dengan antibiotika oksitetrasiklin (OTC) sebanyak 6 gr/100 ml air, menggunakan jarum infus berdiameter 1 mm, dan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Pengendalian juga dapat dipadukan dengan penyemprotan insektisida dengan sasaran serangga vektor penular penyakit BPKC menggunakan insektisida Curacron 500 EC, dan Dads 2,5 EC, Matador 25 EC, Akodan 35 EC dengan interval 6 minggu sekali hingga serangga vektor tidak muncul lagi. Untuk pohon cengkeh yang terserang berat penyakit BPKC tersebut sebaiknya pohon cengkeh tersebut segera ditebang, lalu dibakar.

  1. Penyakit Cacar Daun Cengkeh (CDC)

Adapun mikroorganisme penyebab penyakit cacar daun cengkeh adalah jamur Phyllosticta syzygii. Gejala penyakit cacar daun cengkeh (CDC) tersebut adalah permukaan atas daun akan timbul bercak-bercak menggelembung layaknya cacar. Terkadang ada bercak tersebut ditemui bintil-bintil hitam kecil. Pada buah juga dapat terlihat, dan pada daun yang terkena penyakit CDC secara bertahap akan gugur. Cara pengendaliannya: dengan penyemprotan fungisida Difolatan 0,2%, Delsen MX-200 0,2%, Maneb Brestan 0,3%, dengan interval 7 – 10 hari sekali, untuk pencegahan dilakukan 10-14 hari sekali. Selain penyemprotan fungisida, penting juga memastikan sanitasi kebun dilakukan secara tepat. Daun, ranting, dan biji tanaman terserang yang jatuh ke tanah dapat dikumpulkan dan langsung dibakar. Pada serangan berat, pohon sebaiknya ditebang dan dibakar.

  1. Jamur Akar

Jamur akar biasanya menyerang tanaman cengkeh yang usianya masih muda ataupun sudah dewasa. Tanaman yang diserang oleh jamur akar ini akan mengalami kematian mendadak. Adapun tanda-tandanya tanaman diserang oleh jamur, yakni daun berubah kekuningan lalu berguguran secara perlahan-lahan. Jika sudah ada tanda-tanda seperti itu dianjurkan untuk dicungkili, dibakar dan selanjutnya di areal bekas pembakaran itu disirami kapur.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img