Disini kita dihadapkan pada pilihan – pilihan, tentang siapa yang akan kita teruskan peran, perjuangan dan eksistensinya. Misalnya, apakah kita akan menghubungkan diri kepada Panglima Besar Jendral Soedirman atau malah DN Aidit. Sangat mungkin kita tidak memiliki nasab kepada tokoh – tokoh besar dari masa lalu yang kita kagumi, akan tetapi sangat mungkin kita menjadi para perawi yang menjadi bagian dari mata rantai sanad pemikiran dan pergerakan mereka. Toh saat ini betapa banyak orang yang hanya berstatus sebagai anak biologis, tapi tidak memiliki cerminan sebagai anak ideologis para pendahulunya.
Sinyal – sinyal pegerakan antar generasi harus disambungkan. Momentum Agustusan, sekali lagi mencari sarana yang baik untuk memancarluaskan heroisme, patriotisme dll. Permasalahannya, ekspresi yang ditampilkan keruang publik seringkali memuat banyak simbol tapi minim narasi. Akibatnya tidak banyak generasi sekarang yang terhubung dengan sejarah kebesaran masa lalunya, meski beragam simbol sudah dipampangkan secara vulgar dan atraktif.
Nada Sambung Kolektif
Bangsa ini tidak kekurangan orang besar. Jika anak – anak muda sekarang beralih menjadi manusia kerdil yang gandrung dengan roman picisan, mungkin karena mereka tidak bisa menangkap sinyal – sinyal kepahlawanan dari generasi terdahulu. Terlalu banyak gangguan, sehingga suara – suara dari masa lalu hanya terdengar sayup – sayup. Tidak ada ringbacktone, tidak adapula nada getar. Butuh banyak instrumen untuk menguatkan sinyal dan itulah salah satu tugas pokok dari para arsitek peradaban.
Dikamar sebelah, para agen perusak negeri sering membuat roaming dimedia sosial dengan berbagai macam berita hoax. Maka tugas para arsitek peradaban adalah memberikan imunitas terhadap banjir informasi sekaligus memberikan orientasi tentang bagaimana cara kita beragama dan bernegara. Mungkin cara ini jauh lebih elegan, ketimbang politik pembakaran buku, pembredelan media massa atau blokir situs media sosial.
Jika saat ini masih banyak produk literasi yang berkutat pada tema “Cinderella Story”, mari kita pahami dan maklumi sebagai bagian dari sebuah proses. Tapi kedepan, kita perlu menetapkan narasi – narasi besar bagi produk literasi agen – agen kebangkitan. Mereka harus menjadi service provider bagi narasi kebangsaan, karena kita tengah berupaya membangkitkan lagi generasi emas para pejuang dan pahlawan. Mereka perlu disambungkan dengan kehebatan generasi masa lalunya. Sebagaimana halnya ilmu Sirah Nabawiyah menyambungkan kita dengan perjuangan generasi rasulullah dan para shahabat. Wallahu a’lam.