26 C
Padang
Jumat, Juni 21, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Mencari Nada Sambung
M

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Eko Jun

Selama bulan Agustus, kita sangat akrab dengan wajah para pahlawan. Selain diusung gambarnya, kadang juga diperankan karakternya. Alhasil, momentum “Agustusan” seringkali menjadi jembatan bagi Bangsa Indonesia untuk membangun kesadaran kolektif sebagai bangsa pejuang. Bahwa anak – anak Indonesia adalah keturunan para pemberani, yakni para pahlawan kemerdekaan bangsa. Bahwa mereka masih memegang prinsip “Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, ketimbang makan roti tapi sebagai budak”

Saat seseorang atau sekelompok orang mengingat generasi hebat dari masa lalunya, tentu bukan sekedar mengenang romantika sejarah. Akan tetapi juga dimaksudkan agar generasi saat ini memiliki kebanggaan sekaligus mampu meneladani asa, cita dan keteladanan mereka. Dalam Al Qur’an, kita tahu apa ucapan kaum Bani Israel saat Maryam datang membawa bayi sedang dia belum berkeluarga. Sebagai bentuk pengingkaran dan nasehat kepada Maryam, mereka langsung mengingatkan keluhuran orang tuanya “Maakaana abuukim ro-a sau-in, wamaakaanat ummuki baghiyyaa”.

Menangkap Sinyal

Hari ini adalah anak hari kemarin, maka generasi saat ini adalah keturunan dari generasi sebelumnya. Keberadaan manusia diatas bumi sudah berlangsung lebih dari 5.000 tahun. Bagi manusia, ini tentu rentang waktu yang cukup lama, meski jika diletakkan dalam skala astronomis eksistensi manusia baru ada pada hari ke 365 (hari terakhir dalam kalender, dengan asumsi 1 Januari sebagai titik awal Big Bang).

Generasi demi generasi lahir, silih berganti. Ada orang besar, ada orang kecil. Ada pahlawan, ada pecundang. Antar generasi dalam skala yang jauh bisa saja saling terhubung. Bisa dari generasi terdahulu yang memiliki visi besar kepada generasi sesudahnya. Sebagaimana nabi Adam yang memberikan jatah umurnya kepada nabi Daud serta nabi Ibrahim yang mendoakan anak cucunya kelak menjadi nabi. Sebaliknya, ada juga generasi sesudahnya yang menghubungkan diri dengan generasi terdahulu. Misalnya, ucapan baginda Nabi Muhammad saw saat menjelaskan siapa dirinya, yakni “Anaa da’watu abii Ibrahiim”.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img