25 C
Padang
Rabu, Desember 7, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

KENALI PENYAKIT TBC DI TENGAH MASYARAKAT
K

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Ns.Yuanita Ananda, S.Kep., M.Kep
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru- paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Tuberkulosis pada manusia ditemukan dalam dua bentuk yaitu :

  1. Tuberkulosis primer, jika terjadi pada infeksi yang pertama kali;
  2. Tuberkulosis sekunder, kuman yang dorman pada tuberkulosis primer akan aktif setelah bertahun-tahun, kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa. Mayoritas terjadi karena adanya penurunan imunitas, misalnya karena malnutrisi, penggunaan alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, dan gagal ginjal.

            Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Bakteri atau kuman ini berbentuk batang, dengan ukuran panjang 1-4 µm dan tebal 0,3-0,6 µm. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid, sehingga kuman tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap kimia atau fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah dengan banyak oksigen, dan daerah yang memiliki kandungan oksigen tinggi yaitu apikal/apeks paru. Daerah ini menjadi predileksi pada penyakit tuberkulosis.

Patofisiologi yaitu seseorang yang dicurigai menghirup basil Mycobacterium tuberkulosis akan menjadi terinfeksi. Bakteri menyebar melalui jalan napas k alveoli, dimana pada daerah tersebut bakteri bertumpuk dan berkembang biak. Penyebaran basil ini bisa juga melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal, tulang, korteks serebri) dan area lain dari paru-paru (lobus atas). Sistem kekebalan tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil dan makrofag memfagositosis (menelan) bakteri. Limfosit yang spesifik terhadap tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli dan terjadilah bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar.

Massa jaringan baru disebut granuloma, yang berisi gumpalan basil yang hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk  dinding . Granuloma berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian tengah dari massa tersebut disebut Ghon Tubercle. Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri menjadi nekrotik, membentuk perkijuan (necrotizing caseosa). Setelah itu akan terbentuk kalsifikasi, membentuk jaringan kolagen. Bakteri menjadi non-aktif.

Penyakit akan berkembang menjadi aktif setelah infeksi awal, karena respons sistem imun yang tidak adekuat. Penyakit aktif dapat juga timbul akibat infeksi ulang atau aktifnya kembali bakteri yang tidak aktif. Pada kasus ini, terjadi ulserasi pada ghon tubercle, dan akhirnya menajdi perkijuan. Tuberkel yang ulserasi mengalami proses penyembuhan membentuk jaringan parut. Paru- paru yang terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan bronkopneumonia, pembentukan tuberkel, dan seterusnya. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denguan sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui kelenjar getah bening. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel turbekel epiteloid yang dikelilingi oleh  limfosit (membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis serta jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblast akan menimbulkan respons berbeda dan akhirnya membentuk suatu kapsul yang di kelilingi oleh turbekel.

Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala respiratorik dan gejala sistemik:

  1. Gejala respiratorik meliputi:
  2. Batuk
  3. Batuk darah
  4. Sesak nafas

Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian dari paru-paru. Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothoraks, anemia dan lain-lain.

  • Nyeri dada

Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila system pernapasan di pleura terkena.

  • Gejala sistemik meliputi
  • Demam.
  • Gejala sistemik lain

Adalah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise (gejala malaise sering ditemukan berupa tidak ada nafsu makan, sakit kepala, meriang, nyeri otot dll). Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu- bulan akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak nafas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia

Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut:

  1. Hemomtisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas
  2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial
  3. Bronkiektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
  4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru
  5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya
  6. Insufisiensi kardio pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)
  7. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit (Depkes, RI)

Pengobatan TBC yaitu setelah diagnosa TB ditegakkan, penderita akan mendapatkan pengobatan obat anti TB (OAT) kombinasi selama beberapa bulan yang harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh terputus. Selain untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit, hal ini juga dilakukan untuk mencegah penyakit berkembang menjadi TB kebal obat atau TB Multi Drugs Resistance (TB MDR). Ketika penderita TB belum dinyatakan sembuh (gagal) maupun mengalami kekambuhan padahal sudah menjalani pengobatan TB sesuai dengan resep dan aturan minum obat yang benar, penderita tersebut dapat dicurigai menderita TB MDR yaitu TB yang tidak mempan (kebal/ resisten) dengan berbagai macam obat. Penderita TB MDR ini harus kembali menjalani pengobatan dari awal dengan kombinasi obat yang lebih banyak dalam jangka waktu 18 – 24 bulan.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img