26 C
Padang
Sabtu, Desember 4, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Kegagalan Ekonomi Neo Klasik
K

- Advertisement -

Oleh: Syaiful Anwar, S.E., M.Si

(Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh)

Ekonomi neoklasik juga sering dilihat sebagai terlalu mengandalkan pada model matematika yang kompleks, seperti yang digunakan dalam ekuilibrium umum teori, tanpa cukup untuk apakah sebenarnya menggambarkan ekonomi riil. Banyak melihat upaya untuk memodelkan sistem yang kompleks seperti ekonomi modern dengan model matematika sebagai tidak realistis dan pasti akan gagal.

Jawaban terkenal terhadap kritik ini adalah Milton Friedman klaim bahwa teori-teori harus dinilai dari kemampuan mereka untuk memprediksi peristiwa bukan oleh realisme asumsi mereka. Model Matematika juga termasuk dalam teori permainan, program linear, dan ekonometrik. Kritik terhadap ekonomi neoklasik  adalah metode yang sangat matematika secara inheren salah dan mereka yang berpikir bahwa metode matematika berpotensi baik bahkan jika metode kontemporer memiliki masalah.

Adapun beberapa kegagalan ekonomi Neoklasik ialah:

  1. Kegagalan Aliran Ekonomi Neoklasik Kegagalan secara Filosofis

Aliran ekonomi Neoklasik sekarang begitu banyak diterapkan oleh berbagai negara di dunia termasuk dalam sistem pengajaran ilmu ekonomi di berbagai bangku kuliah. Ciri khas dari aliran ekonomi Neoklasik adalah begitu dominannya pemakaian metode kuantitatif dalam melakukan analisis ekonomi.

Kritik yang bertumpu kepada aliran ekonomi  Neoklasik secara filosofis sebenarnya bertumpu kepada bias yang terlalu memutlakkan kepada paradigma positivisme, yang melihat  realitas  hanya  dari  sudut  permodelan yang terlalu disederhanakan  dengan  bertumpu  kepada  analisis kuantitatif, ditunjang dengan pemakaian asumsi-asumsi yang sering tidak realistis. Realitas empiris yang terjadi merupakan refleksi dari kondisi deterministik serta hanyalah sebuah materi belaka dan bagaikan sebuah mesin, sehingga perbaikannya hanyalah bertumpu kepada unsur-unsur yang ada dalam mesin tersebut. Analisis yang terlalu sederhana pada  kenyataannya bisa berlainan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Pemahaman dan tindak lanjut dari realisme empiris yang terjadi bisa ditangkap oleh paradigma ilmu lainnya seperti post-positivisme, kritis maupun paradigma lainnya. Peninjauan secara holistik sangatlah diperlukan, melihat bahwa terdapat fenomena ”matinya ilmu” di mana  studi secara partikularistik kurang kegunaannya secara aksiologi. Masa mendatang perkembangan ilmu akan menjurus kepada studi lintas ilmu di mana unsur spiritualitas terlebih- lebih utamanya unsur moralitas harus mendapat porsi utama.

  • Kegagalan Sudut Sosial-Ekonomi

Mohammad Hatta (1976 dan 1979)  banyak memberikan kritikan kepada ekonomi bebas, yang tidak lain yang paling menonjol adalah Neo klasik. Beliau menyarankan perlunya ekonomi terpimpin, di mana pemerintah harus aktif bertindak dan mengadakan berbagai peraturan terhadap perkembangan ekonomi dalam masyarakat agar tercapai keadilan sosial. Membiarkan perekonomian berjalan menurut apa yang dikatakan ”permainan merdeka dari pada tenaga- tenaga masyarakat” berarti membiarkan yang lemah menjadi makanan yang kuat. Menurut beliau sendi utama bagi politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia terdapat dalam pasal 33 UUD 1945. Dasar perekonomian rakyat mestilah usaha bersama, dikerjakan secara kekeluargaan, yang tidak lain adalah koperasi.

Mubyarto (2002) menyatakan ketika terjadi polemik Ekonomi Pancasila, muncul kesan adanya “kubu UI” dan  “kubu UGM”, yang pertama dianggap pro- pertumbuhan sedangkan yang kedua pro-pemerataan. Selanjutnya saat terjadi reformasi politik ekonomi tahun 1998, Warta Ekonomi (November 1998) membuat Cover Story “Ekonomi Rakyat Menggeser Berkeley Mafia”. Adi Sasono yang ditunjuk menjadi Menkop dan UKM oleh Presiden Habibie memimpin barisan “pembela ekonomi rakyat”, sedangkan sejumlah ekonom muda UI (Faisal Basri dan Chatib Basri) menganggap sepi ekonomi rakyat. Emil Salim menolak disalahkan telah memihak konglomerat. “Dari semula prioritas kami adalah pembangunan rakyat kecil dan (karena) sebagian rakyat tinggal di perdesaan, maka prioritas pembangunan harus pertanian”.

Keberadaan aliran ekonomi Neo klasik sudah begitu dominan pemakaiannya dalam kancah pendidikan dan penerapan ilmu ekonomi pada hampir sebagian besar negara di dunia ini. Dominasi aliran ekonomi Neo klasik ini disebabkan keberhasilan negara-negara maju dalam menaikkan tingkat kesejahteraaan masyarakatnya, sehingga berdampak pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak pakar ekonomi yang berpendapat bahwa aliran ekonomi Neo klasik mungkin saja cocok bagi negara maju,  akan tetapi penerapannya di negara sedang berkembang perlu diadakan penyesuaian. Kenyataan ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang sangat berbeda antara negara maju dan sedang berkembang.

Pemakaian aliran ekonomi Neo klasik di negara maju tidak terlepas dari banyaknya kritik yang diajukan, di antaranya terjadinya ketimpangan dalam distribusi pendapatan, kerusakan lingkungan maupun berbagai aspek kehidupan sosial lainnya. Munculnya kritik terhadap aliran ekonomi Neo klasik di negara maju, dan sekarang ini terdapatnya krisis multi dimensional di dunia merupakan bentuk kegagalan pemakaian dan penerapan ajaran Neoklasik.

Memperhatikan banyaknya pihak yang prihatin terhadap kegagalan dan kebangkrutan aliran ekonomi Neo klasik, maka sudah selayaknya dilakukan peninjauan ulang terhadap keberadaan aliran ekonomi ini. Argumentasi yang menyatakan terdapat kegagalan dalam pemikiran dan pemakaian aliran Neo klasik perlu dikemukakan, baik tinjauan secara filosofis maupun dari aspek sosial-ekonomi. Berbagai kritik yang diajukan kepada aliran Neo klasik, menggambarkan relevansi penggunaan aliran ekonomi Kelembagaan dalam kancah penggunaan teori ekonomi.

#SyaifulAnwar #Unand #Payakumbuh

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img