26 C
Padang
Minggu, April 14, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Infus, Alat Medis Paling Banyak Digunakan di Dunia Kedokteran
I

Kategori -
- Advertisement -

Infus adalah salah satu peralatan medis yang paling banyak dan sering digunakan dalam dunia kedokteran dan keperawatan. Sekitar 90% pasien di rumah sakit menerima berbagai pengobatan melalui infus. Sistem pemantauan cairan infus yang ada di rumah sakit, masih dilakukan secara manual oleh tenaga medis, yaitu masih mengecek kapasitas cairan infus dengan melihat jam, untuk memastikan jumlah cairan infus yang sudah masuk pada tubuh pasien per menitnya sesuai dengan permintaan dokter.

Hal ini sangat merepotkan dan memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dikarenakan sangat rentan terhadap resiko kesalahan. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi aliran darah (phlebitis) [1]. Menurut Kemenkes RI (2017) menyatakan diseluruh dunia phlebitis masih menjadi permasalahan. Kejadian phlebitis menempati urutan keempat sebagai infeksi terbanyak pada pasien selama menjalani masa perawatan di rumah sakit [2].

Di Sumatera Barat hasil observasi dan wawancara disalah satu Rumah Sakit yang ada di Kota Pariaman didapatkan, dari 20 pasien yang dirawat, 13 orang pasien mengalami gangguan kelancaran infus, terlebih gangguan kelancaran infus pada pasien dengan rawatan yang lama, sering macet, bengkak, tersumbat dengan darah beku (blood clot) bahkan sering dipasang Kembali pemasanagn infusna karena tidak efektid dan efisien. Komplikasi paling berbahaya terjadinya penyumbatan yaitu darah pasien membeku (blood clot) pada selang infus beredar ke seluruh tubuh dan menyumbat kapiler darah di paru sehingga menyebabkan emboli di paru dapat menyebabkan kematian [3].

Maka perlu solusi untuk mengatasi masalah tersebut, dengan merancang dan membuat alat pemantau kelancaran tetesan infus, sehingga memberi kemudahan pada perawat dalam merawat pasien terpasang infus. Tindakan ini disebut dengan Pencegahan (Prevention). Kami akan merancang dan membuat Early Warning System Infus pasien menggunakan Sistem Otomatisasi melalui Display Smartphone yang valid, efektifitas, dan praktis serta fleksibel, yaitu alat yang mendukung dan merupakan alat Pendeteksi tetesan Cairan Infus untuk mencegah Risiko Cedera phlebitis pada Pasien yang terhubung dengan Smarphone Perawat.

Penelitian sebelumnya (Nazhifah, 2022) telah membuat alat monitoring infus dengan display smartphone berbasis IoT. Dalam alat ini kita dapat memantau kondisi infus dari jarak jauh hanya dengan menggunakan smartphone menggunakan thingspeak. Pada penelitian ini masih terdapat kelemahan yaitu kita hanya bisa memantau satu pasien saja dari satu smartphone.

Hal ini tentunya menjadi masalah apabila jumlah pasien lebih banyak daripada jumlah perawat yang ada pada suatu rumah sakit tersebut, karena umumnya satu orang perawat hanya menggunakan satu smartphone saja. Berdasarkan kelemahan pada penelitian tersebut saya berinovasi dengan menambahkan suatu system yang dapat menutupi kelemahan dari penelitian sebelumnya. Dengan menambahkan system Wireless Sensor Network (WSN) maka satu perawat dapat mengontrol lebih dari satu infus pasien hanya dengan satu smartphone saja. Ini tentunya menjadi inovasi yang efisien apabila terjadi lonjakan pasien pada suatu rumah sakit dan palayanan kesehatan pada pasien juga akan meningkat.

Gambar 1 menejelaskan dari kerja system infus yang dapat dikontrol oleh user (perawat). Infus pasien tersebut dilengkapi oleh mikrocontroler dan Wireless Sensor Network (WSN). WSN ini berfungsi agar satu user bisa memonitoring infus pasien lebih dari satu pasien. Wireles Sensor Network (WSN) adalah sebuah sistem berbasiskan jaringan wireless yang bentuk data-data digital pada dunia komputer. Secara umum Wireles Sensor Network (WSN) atau sensor jaringan nirkabel merupakan suatu peralatan sistem embedded (tertanam) yang di dalamnya terdapat satu atau lebih sensor dan dilengkapi dengan peralatan sistem komunikasi atau bisa disebut sensor yang bekerja tanpa menggunakan kabel.

Sensor dalam peralatan ini digunakan untuk menangkap atau mengumpulkan suatu informasi yang sesuai dengan karakteristik dari sensor tersebut. Informasi yang telah dikumpulkan berupa sinyal analog di ubah dalam bentuk sinyal digital dan kemudian transmisikan ke suatu node (titik) melalui media tanpa kabel atau wireless seperti wiffi, bluetooh, inftrared, dan lainya.

Masing-masing titik dalam WSN dilengkapi dengan radio transceiver sebagai node penerima atau pengirim atau juga perangkat pendukung lainnya. Sehingga Wireles Sensor Network (WSN) juga dikenal sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sejumlah besar low-cost sensor yang berukuran kecil dan tersebar pada sebuah area yang sangat luas dengan satu node penampung untuk mengumpulkan hasil proses pembacaan sensor node lainya. Sensor di WSN sebuah memiliki berbagai tujuan, fungsi, dan kemampuan. (Sohrabi, 2007).

Hasil penelitian menunjukan bahwa alat monitoring infus dengan display smartphone ini memudahkan perawat dalam memonitor kelancaran infus pasien dan deteksi dini gangguan pada infus pasien lebih cepat diketahui sehingga resiko pemindahan infus, phlebitis dan komplikasi bahaya lainnya dapat segera di cegah.

Hal ini juga diungkapkan perawat yang mencobakan alat tersebut, alat ini memudahkan dalam memonitor kelancaran infus pasien, dengan satu smartphone dapat memonitor kelancaran infus pada beberapa pasien di ruangan saya. Pada monitoring infus dengan dua pasien tahap 1, alat monitoring infus berjalan baik dan lancar sedangkan pada monitoring infus dengan dua pasien tahap 2, alat monitoring infus sedkit terjadi gangguan keterlambatan dalam memberi tanda (alarm) ketika aliran infus pasien tidak mengalir. Hal ini perlu pengembangan alat lebih lanjut yang efektif, praktis dan fleksibel.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img