29.2 C
Padang
Monday, November 30, 2020
Beritasumbar.com

“Hari Bela Negara: Kenapa negara harus dibela?”
&

Payakumbuh,-BeritaSumbar.com,-Pasca memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum bisa dikatakan merdeka seutuhnya. Masih banyak pergolakan yang timbul di dalam negeri, maupun luar negeri yang terus berupaya menancapkan kembali kekuasaan nya di Indonesia. Hal ini disebabkan sumber daya dan kekayaan alam Indonesia begitu menggiurkan.

Hari Bela Negara yang biasa disingkat dengan sebutan HBN merupakan hari dimana para pahlawan dan pejuang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa tersebut terjadi pada saat rawan setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu pada saat agresi militer yang dilakukan oleh Belanda. Hari bersejarah yang menjadi bagian dari peringatan khusus di Indonesia ini jatuh pada tanggal 19 Desember.

Peringatan Hari Bela Negara diadakan untuk memperingati peristiwa deklarasi Pemerintah Darurat RI pada 19 Desember 1948 yang dilakukan oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat. Mr. Sjafruddin Prawiranegara berpidato dengan disiarkan melalui radio untuk memperlihatkan bahwa Republik Indonesia masih ada. Pidato tersebut menjadikan beliau musuh bagi Belanda, sehingga harus bersembunyi di hutan belantara untuk menghindari penangkapan Belanda. Hari Bela Negara disahkan melalui Keppres no.28 tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berupa hari besar negara bukan hari libur.

Kegigihan dan semangat yang terus dikobarkan oleh PDRI membuahkan hasil, sehingga keberadaan dan perjuangan Indonesia menarik perhatian dunia Internasional, sementara agresi militer yang dilakukan oleh Belanda mendapatkan kecaman dan peringatan dari dunia internasional.

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus memahami kenapa Hari Bela Negara diperingati. Semua ini terjadi karena cinta kepada NKRI yang berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Warga negara rela melakukan apa saja dan mengorbankan nyawa supaya Indonesia tetap berdiri kokoh di tanah nya sendiri. Bukan sebagai tamu apalagi pelayan dirumah sendiri.

Sebagai generasi muda Indonesia, kita harus menanamkan disiplin dalam diri, optimis, taat pada aturan hukum dan menghargai keberagaman yang ada di Indonesia. Jangan jadikan keberagaman sebagai sebab hilangnya persatuan di Indonesia, tapi jadikan keberagaman sebagai gabungan kekuatan yang tak terkalahkan. Tetap kuat kan tekad untuk kemajuan Indonesia seperti Monumen Nasional Bela Negara yang tetap berdiri kokoh di Koto Tinggi, Kab. Lima Puluh Kota. Selamat Hari Bela Negara!

Penulis: M. Ariful Fikri
(Ketua PC Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Kota Payakumbuh)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Dicokok KPK, Ini Sepak Terjang Edhy Prabowo di KKP

Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron membenarkan hal tersebut. "Iya...

Bundo Kanduang Dan Puti Bungsu Unjuk Gigi, Wakil Ketua DPRD Wulan Denura Apresiasi Panitia Pasar Ekraf 2020

Payakumbuh ,BeritaSumbar.com, - Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wulan Denura menilai dengan Pasar Ekraf 2020 yang memfasilitasi Bundo Kanduang dan Puti Bungsu...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian...

Pembangunan Trotoar dan Harapan PUPR untuk Kota Payakumbuh Sebagai Kota Batiah

Payakumbuh, BeritaSumbar.com - Pembangunan tahap awal trotoar untuk pedestrian di jalan utama Kota Payakumbuh, Sumatera Barat telah selesai dikerjakan. Selain perwajahan kota...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang...

Nauclea Orientalis, Bunga Yang Mirip Virus Corona.

Oleh: Lidia Gusvita Nasra ~ Mahasiswa Biologi, Universitas Andalas, Padang Tak hanya perkembangan kasus virus corona yang dibicarakan saat...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang...

Waspada, Rumpon Asing Si Pembawa Masalah di Perairan Indonesia

Oleh : Dika Putri Sehati dan Shania Refka Fandesti ~ Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Laut Natuna merupakan salah...

2021 Tatap Muka, Selamat Tinggal Kuliah Daring

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih ~ Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Sudah hampir 10 bulan semenjak Presiden...
- Advertisement -