25.9 C
Padang
Saturday, September 19, 2020

“Hari Bela Negara: Kenapa negara harus dibela?”

Payakumbuh,-BeritaSumbar.com,-Pasca memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum bisa dikatakan merdeka seutuhnya. Masih banyak pergolakan yang timbul di dalam negeri, maupun luar negeri yang terus berupaya menancapkan kembali kekuasaan nya di Indonesia. Hal ini disebabkan sumber daya dan kekayaan alam Indonesia begitu menggiurkan.

Hari Bela Negara yang biasa disingkat dengan sebutan HBN merupakan hari dimana para pahlawan dan pejuang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa tersebut terjadi pada saat rawan setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu pada saat agresi militer yang dilakukan oleh Belanda. Hari bersejarah yang menjadi bagian dari peringatan khusus di Indonesia ini jatuh pada tanggal 19 Desember.

Peringatan Hari Bela Negara diadakan untuk memperingati peristiwa deklarasi Pemerintah Darurat RI pada 19 Desember 1948 yang dilakukan oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat. Mr. Sjafruddin Prawiranegara berpidato dengan disiarkan melalui radio untuk memperlihatkan bahwa Republik Indonesia masih ada. Pidato tersebut menjadikan beliau musuh bagi Belanda, sehingga harus bersembunyi di hutan belantara untuk menghindari penangkapan Belanda. Hari Bela Negara disahkan melalui Keppres no.28 tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berupa hari besar negara bukan hari libur.

Kegigihan dan semangat yang terus dikobarkan oleh PDRI membuahkan hasil, sehingga keberadaan dan perjuangan Indonesia menarik perhatian dunia Internasional, sementara agresi militer yang dilakukan oleh Belanda mendapatkan kecaman dan peringatan dari dunia internasional.

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus memahami kenapa Hari Bela Negara diperingati. Semua ini terjadi karena cinta kepada NKRI yang berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Warga negara rela melakukan apa saja dan mengorbankan nyawa supaya Indonesia tetap berdiri kokoh di tanah nya sendiri. Bukan sebagai tamu apalagi pelayan dirumah sendiri.

Sebagai generasi muda Indonesia, kita harus menanamkan disiplin dalam diri, optimis, taat pada aturan hukum dan menghargai keberagaman yang ada di Indonesia. Jangan jadikan keberagaman sebagai sebab hilangnya persatuan di Indonesia, tapi jadikan keberagaman sebagai gabungan kekuatan yang tak terkalahkan. Tetap kuat kan tekad untuk kemajuan Indonesia seperti Monumen Nasional Bela Negara yang tetap berdiri kokoh di Koto Tinggi, Kab. Lima Puluh Kota. Selamat Hari Bela Negara!

Penulis: M. Ariful Fikri
(Ketua PC Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Kota Payakumbuh)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Heli Chinook Antarkan Bantuan BNPB Mendarat di Limapuluh Kota

Limapuluh Kota,-Helikopter Chinook CH-47D dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendarat di Lapangan Gor Singa Harau, pada Senin (15/9).

Rudi Hariyansyah, Tegaskan Prestasi Olahraga di Pessel Harus Maju

Pesisir Selatan,-Bakal calon wakil bupati Rudi Hariyansyah, sangat mendukung kemajuan prestasi olahraga di Kabupaten Pesisir Selatan,  maka hal tersebut menjadi perhatian serius...

Panaskan Mesin parpol, DPC.PPP. Pessel Gelar Konsolidasi internal

Pesisir Selatan,-Untuk memanaskan mesin partai Partai Persatuan Pembangunan ( PPP), pasca jatuhnya surat tugas (ST) dari DPP. PPP dan DPW. PPP mengusung...

Adaptasi Kebiasaan Baru,Polres Tanah Datar Lakukan Operasi Yustisi.

Tanah Datar,Beritasumbar.com - Polres Tanah Datar laksanakan kegiatan Operasi Yustisi antisipasi penyebaran Virus Corona (Covid-19), berupa Pendisiplinan Penerapan Protokoler Kesehatan dalam adaptasi...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Ajaran Minangkabau: Sumber, Pewarisan, dan Pemahamannya

Minangkabau yang hingga saat ini masih mempraktekan matrilineal dianggap etnis yang menarik untuk dicermati. Kenyataan ini juga dijadikan asumsi bagi para pengkaji...

Balitbangtan Siap Lepas Kacang Hijau Tahan Salin

Indonesia diperkirakan memiliki lahan salin seluas 0,4 juta hektare (ha) yang membentang sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa, Aceh, Nias, Sulawesi...

Jakob Oetama; Tokoh Wartawan Legendaris

Di tahun 2018 dalam Rangkaian Acara Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas ketika itu, salah satu narasumber kunci Usman Kansong Direktur...

Riwayat Pemilu 1955

Pesta Demokrasi yang diadakan pada Tahun 1955 merupakan Pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10...
- Advertisement -