BeritaSumbar.com,- Disleksia adalah salah satu jenis kesulitan belajar membaca dan hilangya kemampuan untuk menulis, serta lampatnya merespons pelajaran dengan pengajaran konvensional walaupun intelegensi dan lingkungan sosial normal.
Gangguan disleksia bukan bentuk ketidak mampuan fisik, tetapi mengarah pada otak yang telah mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca. Pemicu disleksia adalah kelainan neurobiologis, yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat, baik dalam pengejaan maupun pengkodean symbol. Kesulitan membaca yang dialami anak disleksia, tidak ada hubungannya dengan tingkat intelegensi mereka. Bahkan beberapa khasus ada anak disleksia yang jenius dan memiliki imajinasi yang tinggi, hanya saja dia terhalang oleh kesulitanya dalam membaca dan menulis.
Dapat diketahui bentuk-bentuk kesulitan membaca anak yang disleksia seperti Melakukan penambahan dalam suku kata (addition), misalnya kata batu menjadi baltu. Kemudian menghilangkan huruf dalam suku kata (omission), misalnya masak menjadi masa. Anak desleksia biasanya juga membalikkan huruf, kata atau angka dengan arah terbalik kiri kanan (inversion/mirroring), misalnya dadu menjadi babu. Selanjutnya membalikan bentuk huruf, kata atau angka dengan arah terbalik atas bawah (reversal), misalnya papa menjadi dada. Kemudian anak disleksia biasanya mengganti huruf atau angka (substitution), misalnya lupa menjadi luga, 3 menjadi 8.
Penyebab “disleksia”
Para ahli neurologis belum dapat mengetahui fungsi otak manusia secara keseluruhan, baru beberapa bagian saja yang sudah dapat dikenali fungsinya secara pasti dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Pada saat manusia melakukan kegiatan pemprosesan bahasa, aktivitas pada pada himesfera bagian kiri akan tampak lebih besar dari pada himisfera bagian kanan. Sedangkan pada orang yang mengalami gangguan disleksia aktivitas himesfera kedua bagian menjadi sama besar. (devaraj, 2006: 35).
Salah satu penyebab terhambatnya anak disleksia dalam melakukan pemprosesan bahasa adalah dikarenakan terjadinya pemusatan pada perjalanan saraf penghubung atau confusing traffic jam of nerve signal menjadikan proses pengoperasian antar saraf semakin lama.
gangguan yang terdapat pada “disleksia”
Pertama, Gangguan perhatian (attention disorder) Anak disleksia terjadi gangguan perhatian, ia akan merespon stimulus yang datang dengan lambat. Pengidap disleksia sangat mudah terganggu fokusnya yang membuat hasil dari responsnya buruk. Misalnya ketika seorang anak disleksia sedang mengerjakan soal matematika dia akan berimajinasi dengan angka-angka, dengan jawaban yang sesuai imajinasinya. Karena responnya lambat maka saat mengerjakan soal matematika dapat menghabiskan waktu sampai jam pelajaran itu habis.
Kedua, Gangguan Memori (memory disorder) adalah ketidak mampuan untuk mengingat apa yang telah dilihat atau didengar ataupun yang dialami. Anak dengan masalah memori visual dapat memiliki kesulitan dalam me-recall kata-kata yang ditampilkan secara visual. Hal yang serupa juga dialami oleh anak dengan masalah pada ingatan auditorinya yang mempengaruhi perkembangan bahasa lisan. Pada khasus beberapa kasus disleksia si anak dapat mengingat hal-hal yang terjadi, seperti dia ingat ketika ada tugas sekolah. Tetapi dia tidak bisa mengingat huruf dan angka. Atau dia tidak ingat bentuk-bentuk huruf dan angka.
Ketiga, gangguan persepsi visual dan motorik biasanya anak-anak dengan gangguan persepsi visual tidak dapat memahami rambu-rambu lalu lintas, tanda panah, kata-kata tertulis, dan symbol visual lainnya. Mereka tidak dapat menangkap arti dari sebuah gambar atau angka atau yang memiliki pemahaman akan dirinya. Sedangkan pada anak yang mengalami gangguan persepsi motorik mereka tdak dapat memahami orientasi kanan kiri, bahasa tubuh, visual closure dan orientasi spasial serta pembelajaran motoric. contoh saat dia ingin menulis kata “duduk” menjadi “bubuk” dimana huruf “d” menjadi huruf “b”.
Terakhir gangguan berfikir (thinking disorder) adalah kesulitan dalam operasi kognitif pada pemecahan masalah, pembentukan konsep dan asosiasi. Anak disleksia begitu sulit memecahan masalah misalnya akibat tidak bisa membaca dan menulis membuatnya sulit memecahkan masalah seperti menyelesaikan soal-soal pelajaran baik bentuk angka atau tulisan huruf.
Dukungan bagi anak “disleksia”
Kasus anak disleksia sejatinya sangat membutuhkan perhatian khusus dari keluarga, lingkungan sekitar, guru dan terutama orang tua. Dengan cara meningkatkan motivasi belajar anak pada penderita disleksia akan membuat anak menjadi percaya diri, kemudian keluarga, lingkungan sekitar, orang tua dan guru hendaknya tidak menyalahkan si penderita diatas kondisinya. Selanjutnya berikan metode atau media belajar yang menarik bagi anak disleksia. Agar ia termotivasi berikan anak hadiah atau pujian atas hasil yang telah dia usahakan. Dengan cara demikian akan sedikit membantu anak disleksia agar dapat sama dengan teman-teman sebayanya.
Kesimpulan
Dari penjelasan tentang gangguan-gangguan yang ada pada anak pengidap disleksia tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak disleksia hanya kehilangan kemampuan membaca, tidak kehilangan masa depan, bahkan ia dapat lebih cerdas dibandingkan anak lainnya, ia mempunyai cara belajar yang berbeda. Anak disleksia sangat membutuhkan perhatian khusus dari orang tua, guru dan lingkungan. Tingkat imajinasinya juga tinggi bahkan bahkan sebenarnya ia mampu mengembangkan kemampuannya selain di bidang akademisi. Anak disleksia juga mampu bersaing seperti anak-anak yang normal lainnya. Dengan pola belajar yang tepat maka akan menghilangkan sedikit ketakutan atau kebenciannya terhadap huruf dan angka. Orang tua pada khasus ini juga harus lebih bisa mengenali anak dan mencari tahu kendala apa yang terjadi pada anaknya. Ini menunjukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita berusaha dan mendapat dukungan dari orang tua dan orang-orang terdekat.
Penulis: Yulia Gina Rahmah
mahasiswa semester III dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Referensi
C Devaraj, Sheila & Roslan, Samsilah.2006.apa itu disleksia? Panduan untuk ibu bapak, guru.
Selangor MY:PTS. Propessional.
Abdurrahman, Mulyono. 2003. pendidikan bagi anak kesulitan belajar. Jakarta,: Rineka cipta
Solso, Robert L., Otto H. Maclin, dan M.Kimberly Maclin (penerjemah Mikael Rahardanto dan
Kristianto Batuadji).2007.Psikologi kognitif. Jakarta : Erlangga.
Nevid, J.S. 2017. Psikologi Konsepsi dan Aplikasi. Bandung : Nusa Media.
Standberg, R.J. 2008. Psikologi Kognitif Edisi Keempat. Yogyakarta : Pustaka Belajar.