30 C
Padang
Selasa, Oktober 19, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Pocket Book Panduan Penilaian Melalui E-Learning Platforms Bagi Guru IPA Tingkat SMP Di Kota Padang
P

Kategori -
- Advertisement -

Sejak wabah Covid-19 mulai muncul di Kota Padang, nasional hingga mancanegara, kegiatan pembelajaran di sekolah yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka terpaksa dialihkan menjadi kegiatan belajar dari rumah yang disebut juga School from Home (SFH). Untuk menjaga agar kegiatan belajar dari rumah ini berlangsung sesuai harapan, diperlukan adanya dukungan penuh dari berbagai pihak, diantaranya sekolah (pimpinan dan guru di sekolah), keluarga, dan dari siswa  sendiri. Penyediaan sarana pendukung dan komitmen yang kuat dari seluruh pihak menjadi dasar bagi lancarnya pelaksanaan SFH ini.

Berdasarkan wawancara dengan guru di beberapa sekolah menengah pertama di Kota Padang dan Kabupaten Solok yang dilakukan pada bulan Oktober 2020, ditemukan beberapa kendala terkait pelaksanaan SFH ini dari pihak guru. Kendala yang ditemui antara lain: sulitnya mengontrol siswa yang belajar di rumah masing-masing, masih ada siswa yang tidak memiliki smartphone sendiri sehingga harus bergantian dengan anggota keluarga di rumah, keterbatasan akses siswa ke jaringan internet dan kesulitan membeli kuota internet. Di sisi lain, guru sendiri pun tentu mengalami kendala tertentu dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru sekaligus orang tua yang harus membimbing kegiatan anaknya belajar dari rumah.

Transisi pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran daring menuntut penyesuaian dalam banyak hal agar dapat berjalan dengan baik. Guru harus memiliki laptop/PC dan smartphone dengan spesifikasi yang mendukung, menguasai IT dan memiliki akses terhadap jaringan internet yang baik. Dinas Pendidikan telah berupaya memfasilitasi guru agar menguasai IT untuk melaksanakan pembelajaran daring dengan baik. Berbagai pelatihan dan bimtek telah beberapa kali dilakukan baik berbasis kegiatan MGMP maupun internal sekolah. Namun, perkembangan kasus Covid-19 yang masih menanjak di kota Padang mengakibatkan pelatihan online menjadi pilihan utama. Berdasarkan hasil survei di beberapa sekolah, ditemukan bahwa mayoritas guru IPA adalah perempuan dan usianya rata-rata sudah melebihi 45 tahun. Seluruh guru yang kami wawancarai adalah perempuan, dan semua guru mengeluhkan sulitnya fokus berada di depan laptop mengikuti pelatihan dari rumah, kualitas koneksi internet yang tidak stabil dan tidak adanya waktu untuk mengulang kembali materi pelatihan di malam harinya karena sudah harus mengurus keluarga di rumah.  Intinya, banyak guru perempuan yang terkendala mengikuti pelatihan untuk membekali diri dengan pengetahuan berbasis IT untuk pembelajaran daring. Kami juga menemukan beberapa guru yang sudah “menyerah” untuk belajar kembali karena sudah akan pensiun dalam waktu dekat, yang merasa tidak perlu atau tidak sanggup lagi mempelajari hal baru.

Untuk menjembatani masalah keterbatasan waktu bagi guru perempuan ini, tim dosen pelaksana pengabdian dari Jurusan Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Padang yang diketuai Monica Prima Sari, M.Pd., dan beranggotakan Rahmah Evita Putri, M.Pd dan Rani Oktavia, M.Pd., menyusun pocket book berisi panduan melaksanakan penilaian untuk pembelajaran IPA yang dilaksanakan melalui online learning platforms.

Ada tiga aplikasi yang dibahas dalam buku saku ini, yaitu Kahoot, Quizizz, dan Mentimeter.com. Meski dimaksudkan untuk mendukung penilaian melalui pembelajaran daring, ketiga aplikasi ini juga dapat digunakan saat pembelajaran tatap muka. Guru dapat menggunakan ketiga aplikasi ini untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan interaktif dengan meningkatkan partisipasi siswa. Buku saku ini diharapkan dapat memfasilitasi guru dalam mengenal aspek teknis dari ketiga aplikasi tersebut terlebih dulu, agar lebih mudah saat menccoba dengan laptop/PC masing-masing. Cara seperti ini kami rasa lebih cocok untuk mayoritas guru IPA yang sudah berusia di atas 40 tahun atau yang kesulitan berlama-lama di depan laptop di rumah karena harus mengurus keluarga. Langkah-langkah dalam buku saku ini disusun dengan sangat jelas, menggunakan bahasa yang komunikatif dan sederhana hingga mudah untuk diikuti.

Idealnya, bimtek adalah cara paling efektif untuk mengenalkan ketiga aplikasi ini kepada guru. Namun, dengan belum dicabutnya kebijakan untuk SFH dan WFH bagi siswa, guru, dan dosen, maka tim pelakasana pengabdian memutuskan untuk menyusun buku saku ini terlebih dahulu kemudian didiseminasikan ke pada guru IPA di sekolah melalui kegiatan Focus Group Discussion.  Sebagai bentuk follow up dari FGD ini, tim pelaksana pengabdian dan guru IPA di beberapa sekolah telah sepakat untuk mengadakan bimtek tatap muka pada awal tahun 2021 sebagai bentuk persiapan menyambut pembelajaran tatap muka di semester baru.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img